Search

Perjanjian Transit Berakhir, Ekspor Gas Rusia ke Eropa via Ukraina Disetop!

KYIV (ERAKINI) - Pemerintah Ukraina resmi menghentikan pengiriman gas Rusia ke Eropa melalui wilayahnya setelah perjanjian transit lima tahun berakhir pada Rabu (1/1/2025). Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya Ukraina menjaga keamanan nasional di tengah perang yang masih berlangsung dengan Moskow.

Informasi ini disampaikan langsung pihak Ukraina melalui Kementerian Energi Ukraina dalam pernyataan resminya, Selasa (31/12/2024) kemarin.

Adapun penutupan salah satu rute gas tertua Rusia menuju Uni Eropa ini memang telah diperkirakan, seiring dengan mendekatnya tahun keempat invasi Rusia ke Ukraina yang dimulai pada Februari 2022. 

Pihak Ukraina mengungkapkan bahwa seluruh infrastruktur transportasi gas telah dipersiapkan untuk menghadapi akhir masa berlaku perjanjian tersebut.

Sejak invasi dimulai, Uni Eropa telah berupaya keras untuk mengurangi ketergantungannya pada gas Rusia. Berdasarkan data European Council, impor gas pipa dari Rusia ke Uni Eropa telah merosot tajam dari lebih dari 40% pada 2021 menjadi sekitar 8% pada 2023.

Dengan dihentikannya jalur melalui Ukraina, kini Rusia hanya memiliki satu jalur utama untuk menyalurkan gas ke Eropa, yakni melalui pipa TurkStream yang melintasi Turki dan Bulgaria.

Gazprom, perusahaan gas raksasa milik Kremlin, sebelumnya menandatangani perjanjian transit dengan Naftogaz Ukraina pada 2019. Namun, pada 2024, Gazprom mencatat kerugian sebesar US$ 6,9 miliar (Rp 111,9 triliun), kerugian pertama dalam dua dekade terakhir. Kerugian ini dipicu oleh berkurangnya penjualan gas ke Eropa meskipun Rusia telah meningkatkan ekspor ke Tiongkok sebagai pembeli baru.

Salah satu dampak dari kebijakan ini, Ukraina diperkirakan kehilangan sekitar US$ 800 juta (Rp 12,9 triliun) per tahun dari biaya transit gas Rusia. Sedangkan Gazprom diprediksi akan kehilangan hampir US$ 5 miliar (Rp 81,1 triliun) dalam penjualan gas.

Negara-negara Eropa yang masih bergantung pada gas Rusia, seperti Slovakia dan Austria, telah mengambil langkah-langkah untuk mencari jalur pasokan alternatif demi menjaga stabilitas energi mereka.

Langkah Ukraina ini menandai babak baru dalam dinamika geopolitik energi di Eropa, dengan fokus pada diversifikasi dan ketahanan energi di tengah ketegangan yang terus berlanjut.