Teriakan Jokowi dan Anies Baswedan di Lembah Jin
Fajar WH
Namanya Wadi al Jinn atau Lembah Jin. Lembah itu dikepung tebing menjulang. Angker katanya. Jaraknya 30 kilometer dari Kota Madinah. Kami mengunjunginya pada Kamis (31/5/2024). Ketika kami turun, pedagang asong berkulit hitam mendorong gerobaknya mendekat. Melihat kami dari Indonesia, dia langsung berteriak.
"Jokowi! Murah-murah. Enam sepuluh riyal!" katanya menawarkan dagangannya.
Tenang. Bukan jin yang menawarkan dagangan itu tapi manusia yang banyak berjualan di jalanan menuju lembah itu. Mereka menawarkan gelang, kalung, tasbih, cincin, batu akik, lipstik, minyak wangi dan lain-lain. Tidak hanya si pengasong, pedagang es krim juga ikut nimbrung. Kemudian Arab Badui merangsek menawarkan wisata naik onta dengan tarif 10 riyal (Rp 42 ribu).
Sebagian dari kami berbelanja tasbih dan souvenir lainnya. Enam tasbih made in China dijual seharga 10 riyal. Cukup murah. "Ayo, ayo, Anies Baswedan. Murah meriah," kata si pengasong makin bersemangat.
Kami memilih wisata naik onta. Onta duduk ketika kami naik. Cukup mengejutkan ketika binatang berpunuk itu mulai berdiri. Bukannya dua kaki bareng, tapi kaki belakang dahulu yang berdiri. Kami harus berpegangan erat ketika onta posisi nungging itu. Kondisi baru normal setelah dua kaki depan onta menyusul berdiri.
Ketika onta berjalan, rasanya seperti naik kendaraan melintasi jalan rusak. Guncangannya cukup hebat. Jika tidak erat berpegangan bisa jatuh. Melintas rute 200 meter rasanya lama sekali karena gemulainya si onta berjalan. Semakin gemulai semakin berguncang kami di punggungnya.
Selain naik onta, Wadi al Jinn dikenal sebagai jabal magnet. Karena mobil bisa berjalan sendiri meskipun mesin tidak dinyalakan. Misteri mobil berjalan sendiri ini semakin menguatkan kepercayaan hadirnya jin di lembah ini.
Meskipun jin boleh jadi hadir di lembah ini, kami kira tidak mungkin iseng mendorong-dorong mobil. Jika mengamati lanskap perbukitan yang bertebing-tebing, jalan di jabal magnet yang terlihat datar sebenarnya hanya semu semata. Jalan itu diduga kuat menurun. Sehingga mobil bisa berjalan sendiri ke satu arah dan tidak sebaliknya.

















