Orang-orang berduka di samping jenazah warga Palestina yang tewas dalam serangan Israel di Jalur Gaza Utara. Foto: Mahmoud Issa/Reuters
JAKARTA, (ERAKINI) - Setidaknya sembilan orang, termasuk tiga wartawan, tewas dalam serangan pesawat nirawak Israel yang menargetkan tim bantuan kemanusian di Beit Lahiya, Gaza utara, pada hari Sabtu. Selain itu, beberapa orang lainnya dilaporkan terluka.
Serangan tersebut terjadi saat tim bantuan yang didampingi wartawan dan fotografer sedang melakukan tugas mereka. Pusat Perlindungan Jurnalis mengonfirmasi bahwa tiga wartawan lokal termasuk di antara korban yang tewas. Mereka sedang mendokumentasikan upaya bantuan kemanusiaan untuk para korban perang yang terjadi di .
Tareq Abu Azzoum dari Al Jazeera melaporkan dari Khan Younis di Gaza Selatan, mengatakan bahwa sejak penerapan fase pertama gencatan senjata pada bulan Januari, berbagai organisasi kemanusiaan dan badan amal telah mulai meningkatkan upaya mereka untuk memberikan dukungan kemanusiaan bagi warga Palestina, khususnya selama bulan suci Ramadan.
“Serangan (di Beit Lahiya) telah memicu banyak kecaman, tetapi ini bukan yang pertama. Di sini, di bagian selatan Gaza, kami telah melihat pesawat nirawak Israel terbang di atas, sementara di kota Rafah kami telah mendapat konfirmasi dari para saksi mata bahwa mereka telah menjadi sasaran serangan Israel dalam 24 jam terakhir,” kata Abu Azzoum dikutip dari Al Jazeera, Minggu (16/3/2025).
Dalam pernyataan resmi, Pusat Perlindungan Jurnalis Palestina menyerukan kepada mediator gencatan senjata untuk mendesak Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk melanjutkan penerapan gencatan senjata dan pertukaran tahanan yang telah disepakati.
Namun, Israel menolak pembicaraan mengenai fase kedua gencatan senjata yang mencakup perundingan untuk mengakhiri perang secara permanen, yang menjadi tuntutan utama Hamas.
Hamas mengecam serangan ini sebagai "pembantaian mengerikan" dan menyebutnya sebagai kelanjutan dari "kejahatan perang Israel" terhadap rakyat Palestina.
Sementara militer Israel dalam sebuah pernyataan mengatakan hanya menyerang dua teroris yang mengoperasikan pesawat nirawak karena menimbulkan ancaman di daerah Beit Lahiya.
“Sejumlah teroris tambahan mengumpulkan peralatan yang mengoperasikan pesawat nirawak dan memasuki sebuah kendaraan. (Militer Israel) menyerang para teroris,” katanya tanpa memberikan bukti apa pun tentang klaimnya itu.
Serangan ini semakin memperburuk kondisi kemanusiaan di Gaza. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 61.700 orang telah tewas dalam perang ini, dengan ribuan lainnya masih hilang di bawah reruntuhan bangunan.
Selain serangan pesawat nirawak yang terus berlanjut di Gaza, Israel juga menghentikan masuknya semua bantuan sejak 2 Maret atau beberapa jam setelah fase pertama gencatan senjata dengan Hamas berakhir pada 1 Maret. Kondisi ini semakin memburuk krisis kelaparan bagi penduduk Gaza.
Israel juga memutus aliran listrik ke pabrik desalinasi air yang penting bagi pasokan air minum di Gaza, yang semakin memperburuk kondisi hidup warga di sana. Warga setempat terpaksa mengurangi porsi makanan mereka setiap hari, dan banyak keluarga berjuang untuk membeli makanan berbuka puasa selama Ramadan.
"Saat ini, keluarga-keluarga berjuang untuk membeli makanan untuk berbuka puasa selama Ramadan, tanda lain dari krisis yang belum terlihat berakhir," kata Abu Azzoum melaporkan.
Menurut Niku Jafarnia, seorang peneliti di Human Rights Watch (HRW), pembatasan akses air Gaza yang "sengaja" oleh Israel sama saja dengan tindakan genosida.
"Israel mengurangi pasokan air Gaza tidak hanya dengan menyerang fasilitas desalinasi tetapi juga dengan memutus aliran air melalui pipa yang menuju Gaza dari Israel, dengan memutus pasokan bahan bakar atau membatasi akses ke bahan bakar, dan juga dengan menghancurkan dan menyerang pabrik fasilitas air limbah”, katanya.
Organisasi-organisasi hak asasi manusia, termasuk Human Rights Watch, menuduh Israel melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan, terutama terkait dengan penghentian akses air dan bantuan lainnya ke Gaza.
Pemerintah Gaza dan berbagai organisasi internasional juga terus mendesak agar Israel menghentikan serangan ini dan memberikan akses bantuan yang lebih baik bagi warga Palestina yang terdampak konflik ini.