Penampakan Sumur Ghars di Madinah yang kini menjadi tempat wisata, Minggu (14/6/2026). (Foto: MCH 2026).
MADINAH, (ERAKINI) - Kota suci Madinah selalu menyimpan daya tarik spiritual dan jejak sejarah yang mendalam bagi umat Islam, khususnya jemaah haji yang tengah menunaikan ibadah di Tanah Suci. Salah satu destinasi bersejarah yang kerap menarik perhatian para peziarah adalah Sumur Ghars.
Sumur kuno tersebut memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Karena itu, banyak jemaah yang datang untuk menapak tilas perjalanan dakwah melalui situs bersejarah tersebut.
Berdasarkan catatan sejarah, Sumur Ghars digali oleh seorang penduduk asli Madinah bernama Malik bin Nahhat, ayah dari sahabat Nabi, Sa'ad bin Khaitsamah. Pada masa itu, sumur tersebut bukan sekadar sumber air bagi masyarakat setempat, melainkan memiliki kedudukan istimewa di hati Rasulullah.
Dalam sejumlah riwayat disebutkan, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sangat dekat dengan Sumur Ghars, bahkan menyebut sumur itu sebagai bagian dari miliknya.
Mutowif atau pembimbing ibadah di Madinah, Ibrohim Fadlannul Haq, membenarkan kedekatan Rasulullah dengan Sumur Ghars. Menurut dia, Nabi kerap berwudhu dan meminum air dari sumur tersebut semasa hidupnya.
Bahkan, Rasulullah memberikan wasiat khusus kepada sepupunya, Ali bin Abi Thalib, terkait penggunaan air Sumur Ghars setelah beliau wafat.
"Ya Ali, idza mittu faghsiluni bimiyahi min bi'ri, bi'ru Ghars. Wahai Ali, apabila aku meninggal dunia, maka mandikanlah jasadku dengan air dari sumurku. Sumur apa itu? Yaitu sumur Ghars," ujar Ibrohim Fadlannul Haq saat menirukan pesan Rasulullah kepada Ali bin Abi Thalib, Minggu (14/6/2026).
Ibrohim menjelaskan, keutamaan Sumur Ghars juga disebutkan dalam riwayat mengenai mimpi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Dalam sabdanya, Rasulullah pernah bermimpi berada di sebuah sumur yang merupakan bagian dari sumur-sumur di surga.
Riwayat tersebut menunjukkan bahwa Madinah memiliki banyak keberkahan fisik yang bersumber dari surga. Hal itu serupa dengan Raudhah di Masjid Nabawi yang dikenal sebagai taman di antara taman-taman surga.
Meski memiliki nilai sejarah yang tinggi, Ibrohim menegaskan bahwa secara syariat tidak terdapat anjuran khusus maupun keutamaan spesifik untuk mengunjungi Sumur Ghars.
Menurut tuntunan fikih, kata dia, hanya ada empat tempat di Madinah yang secara syar'i dan berdasarkan dalil khusus dianjurkan untuk dikunjungi jemaah.
Keempat tempat itu dikenal dengan istilah masjidani wa maqbarotan, yakni dua masjid dan dua pekuburan, yaitu Masjid Nabawi, Masjid Quba, Makam Baqi, serta Makam Syuhada Uhud.
Meski demikian, kunjungan jemaah haji, terutama dari Indonesia, ke Sumur Ghars tetap berlangsung. Hal itu didorong oleh kecintaan mereka kepada Rasulullah.
Jemaah datang dengan niat yusta'nasu biha, yakni menjadikan kunjungan tersebut sebagai sarana edukasi sejarah untuk mengenang kembali perjuangan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Dengan berkunjung ke Sumur Ghars, para jemaah berharap dapat merasakan kedekatan spiritual dengan meminum atau berwudhu menggunakan air yang dahulu juga pernah digunakan oleh manusia paling mulia di muka bumi.