Search

Profil Alex Honnold: Pendaki Ekstrem yang Rendah Hati, Panjat Gedung Taipei 101 Lantai Tanpa Tali dan Pengaman

JAKARTA, (ERAKINI) - Alex Honnold kembali membuat dunia tercengang. Di saat jutaan pasang mata tak bisa berkedip dengan rasa ngeri dan was-was, Alex Honnold dengan tawa santai mengangkat kedua tangannya dari puncak gedung Taipei 101

Menonton video Honnold memanjat saja sudah cukup membuat banyak orang pusing, mual, atau jantung berdebar. Tapi, Honnold baru saja melakukan sesuatu yang nyaris tak masuk akal. 

Pendaki asal Amerika Serikat (AS) itu berhasil menaklukkan Taipei 101, salah satu gedung tertinggi di dunia. Ia melakukan aksi gila itu tanpa menggunakan tali, harness, maupun perlengkapan keselamatan apa pun. Aksi ekstrem tersebut disiarkan secara langsung oleh Netflix dan ditonton jutaan orang.

Taipei 101 memiliki tinggi 508 meter dengan 101 lantai. Gedung yang terbuat dari baja, kaca, dan beton itu dirancang menyerupai batang bambu. Honnold mencapai puncak dalam waktu 1 jam 31 menit. Setibanya di atas, ia hanya mengucapkan satu kata sebagai perayaan: “Sick.”

Pendakian awalnya dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (24/1), tetapi cuaca basah memaksa penundaan. Setelah kondisi membaik, jutaan penonton di seluruh dunia menyaksikan Honnold mempertaruhkan nyawanya secara real time pada Minggu (25/1).

Netflix memastikan mereka memiliki rencana darurat jika terjadi hal terburuk. “Kami akan memotong siaran,” ujar eksekutif Netflix Jeff Gaspin kepada majalah Variety sebelum acara berlangsung.

Meski bukan orang pertama yang memanjat Taipei 101, Honnold menjadi pendaki pertama yang melakukannya tanpa tali. Alain Robert sebelumnya pernah memanjat gedung tersebut pada Hari Natal 2004, saat peresmian gedung yang kala itu merupakan bangunan tertinggi di dunia.

Catatan waktu Honnold pun memecahkan rekor dengan selisih yang jauh. Robert, pendaki asal Prancis yang dikenal dengan julukan “Spiderman”, memanjat Taipei 101 dalam waktu sekitar empat jam. Namun, Robert melakukannya menggunakan tali dan harness. Sebaliknya, Honnold melakukan pendakian sepenuhnya free solo, tanpa pengaman, tanpa rencana cadangan.

Wakil Presiden Taiwan, Hsiao Bi-khim, turut memberikan ucapan selamat melalui media sosial X. “Saya akui, saya mungkin juga akan merasa mual dan nyaris tidak sanggup menonton,” tulisnya.

Pendakian tersebut juga diwarnai sejumlah momen tak terduga. Istri Honnold menyambutnya di puncak gedung, setelah sebelumnya menyampaikan kekhawatiran terkait angin kencang dan panas selama pendakian.

Momen paling tidak biasa terjadi di lantai 89. Para penggemar yang berada di dalam gedung bersorak dan melambaikan tangan kepadanya melalui jendela. Video memperlihatkan Honnold tetap fokus, berhadapan langsung dengan para penonton yang hanya terpisah oleh kaca.

Alex Honnold secara luas dianggap sebagai salah satu pendaki tebing terhebat sepanjang masa. Namanya mendunia pada 2017 setelah menjadi orang pertama yang melakukan free solo di El Capitan, tebing granit setinggi 915 meter di Taman Nasional Yosemite, California. Aksi tersebut diabadikan dalam film Free Solo yang memenangkan Oscar pada 2018.

Pendakian Taipei 101 menjadi struktur buatan besar pertama yang ia taklukkan, tantangan yang berbeda dibanding dinding batu alam.

“Jika sesuatu terjadi, saya bisa mati,” ujarnya kepada CNN sebelum pendakian. “Namun pada gedung ini, ada balkon setiap beberapa lantai. Dalam beberapa hal, itu membuatnya lebih aman dibanding banyak pendakian tebing alami.”

Dengan pengalaman memanjat selama lebih dari 30 tahun, Honnold terus mendorong batas kemampuan manusia dan mendefinisikan ulang olahraga ekstrem.

Siapa Alex Honnold?
Alex Honnold dikenal sebagai salah satu pemanjat tebing paling fenomenal di dunia. Pria kelahiran Sacramento, California, AS, pada 17 Agustus 1985 ini awalnya mencuri perhatian global lewat aksinya menaklukkan El Capitan tanpa tali pengaman, sebuah prestasi ekstrem yang diabadikan dalam film dokumenter Free Solo (2018).

Selain dikenal sebagai atlet panjat tebing, Alex Honnold juga aktif di dunia perfilman sebagai aktor dan sinematografer. Namanya tercatat dalam sejumlah proyek film dan serial, antara lain In Tandem, Accessories (2012), serta serial populer Billions. 

Keahliannya memadukan olahraga ekstrem dengan visual sinematik membuat Honnold menjadi figur ikonik yang menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia.

Di balik reputasinya sebagai pemanjat tebing dengan fokus dan mental luar biasa, Honnold menjalani kehidupan pribadi yang relatif sederhana. Ia menikah dengan Sanni McCandless pada 12 September 2020. Dari pernikahan tersebut, pasangan ini telah dikaruniai dua orang anak, yakni Alice Summer Honnold dan June J Honnold.

Kini, di usia 41 tahun dengan tinggi badan 180 sentimeter, Alex Honnold tidak hanya dikenal karena aksi ekstremnya di dinding-dinding batu vertikal, tetapi juga sebagai tokoh inspiratif dalam dunia olahraga dan perfilman. 

Bagi Honnold, pencapaian menaklukkan Taipei 101 menambah daftar panjang prestasi luar biasa dalam kariernya. Dikutip dari situs Alex Honnold,  ia merupakan satu-satunya manusia yang pernah melakukan free solo di monolit batu setinggi 3.000 kaki di Yosemite, El Capitan, Taman Nasional Yosemite. California.

Pada Sabtu, 3 Juni 2017, Alex Honnold menjadi orang pertama yang mencapai puncak dinding granit El Capitan tanpa tali atau alat pengaman apa pun. Ia memulai pendakian pada pukul 5.32 pagi, saat cahaya fajar masih merah muda.

Ia menyelesaikan pendakian dalam waktu 3 jam 56 menit. Pitch terakhir yang relatif mudah ia lalui hampir seperti berlari. Pada pukul 9.28 pagi waktu setempat, di bawah langit biru bersih, ia menarik tubuhnya melewati bibir tebing dan berdiri di puncak—di sebuah bidang pasir sebesar kamar tidur anak-anak. Jika ia terpeleset, tak ada apa pun yang bisa menghentikannya sebelum menghantam tanah.

“Hampir tidak ada teman saya yang mau membicarakan soal solo ini. Kebanyakan menganggapnya ide yang buruk," kata Honnold waktu itu.

Namun, ide gila tersebut telah lama bersarang di kepalanya. Sejak ia melakukan free solo di Half Dome pada 2008, El Capitan terasa sebagai langkah berikutnya yang tak terelakkan. Di Yosemite, Half Dome dan El Cap berdiri saling berhadapan di dua ujung lembah—dua formasi batu paling ikonik dan paling berarti bagi dunia panjat tebing.

“Setiap tahun saya melihat El Cap dan berpikir, ‘Masih terlalu sulit. Saya belum cukup kuat,’” ujarnya. “Sampai akhirnya saya sadar, ini tidak akan pernah terjadi dengan sendirinya. Saya harus benar-benar bekerja untuk itu.”

Honnold tiba di Yosemite pada akhir April. Sejak saat itu hingga hari pendakian pada Juni, ia nyaris tidak pernah pergi. Ia berhenti membalas email, memutus gangguan, dan memberi dirinya waktu tanpa struktur. Berjam-jam ia duduk di kursi dalam van-nya, membiarkan pikirannya berputar hanya pada satu hal: jalur pendakian.

Ia pun akhirnya melampaui pendakian bersejarah El Cap pada 2017 yang didokumentasikan secara dramatis dalam film peraih Oscar Free Solo. Ia pun dicap sebagai pemanjat tebing paling pekerja keras, paling berprestasi, dan terhebat yang pernah hidup. Pencapaiannya telah membuka lebar pintu bagi dunia panjat tebing, menempatkannya di garis depan media arus utama seperti 60 Minutes, The New York Times, hingga sampul National Geographic. 

Alex terus mendorong batas kemampuannya, membangun rekam jejak luar biasa yang ditandai dengan rekor kecepatan di jalur The Nose, aksi legendaris “Triple Solo” 24 jam di Gunung Watkins, Half Dome, dan El Capitan, serta ekspedisi mutakhir ke Antarktika, Amerika Selatan, Greenland, dan berbagai tempat lainnya.

Manusia Rendah Hati 
Di luar dunia panjat tebing, Honnold dikenal sebagai sosok rendah hati dan peduli lingkungan. Pada tahun 2012, ia mendirikan Honnold Foundation, sebuah organisasi nirlaba lingkungan yang memberikan hibah kepada berbagai organisasi untuk memperluas akses energi surya di seluruh dunia.

Visi mereka sederhana: meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi dampak lingkungan. Sepanjang 2021 saja, Honnold Foundation telah mendukung 44 komunitas di 17 negara, dengan fokus pada inovasi berbasis komunitas yang dipicu oleh energi surya.

Alex juga selalu mencari peluang untuk berbagi kisah dari olahraga yang ia cintai. Sebagai pembawa acara Climbing Gold Podcast, Alex mengulas cerita-cerita unik dari budaya panjat tebing yang pertama kali menariknya ke olahraga ini. 

Belakangan, ia memimpin sejumlah proyek dokumenter dan acara televisi bertema lingkungan, memanfaatkan keahlian panjatnya untuk menjangkau sudut-sudut bumi yang sulit dijangkau. Alex saat ini tinggal di Las Vegas bersama istrinya, Sanni, serta dua putrinya, June dan Alice.