Peta turbulensi pada jalur penerbangan di dunia. Foto: Turbli
JAKARTA, (ERAKINI) - Kejadian turbulensi hebat yang dialami pesawat Singapore Airlines dan Qatar Airways dalam sepekan terakhir telah memicu kekhawatiran bagi para pelancong udara. Kejadian ini pun memunculkan pertanyaan terkait rute-rute penerbangan yang rawan turbulensi.
Turbulensi sebenarnya pengalaman umum yang dirasakan para pelancong udara. Insiden parah jarang terjadi. hebat yang dialami penerbangan London-Singapura yang menewaskan satu orang dan 20 lainnya luka-luka, tergolong kejadian langka.
Kini kekhawatiran meningkat menyusul kejadian yang dialami pesawat Qatar Airways QR017 penerbangan Doha- Dublin Irlandia yang mengalami turbulensi pada Minggu (26/5/2024) siang dan menyebabkan 12 orang luka-luka
Mengutip dari laporan The Conversation, turbulensi udara dapat terjadi di mana saja, namun lebih sering terjadi pada beberapa rute dibandingkan rute lainnya. Perubahan iklim diperkirakan bakal meningkatkan kemungkinan terjadinya turbulensi udara. Beberapa penelitian juga menunjukkan turbulensi telah memburuk dalam beberapa dekade terakhir.
Pola turbulensi di seluruh dunia sebenarnya dapat dipetakan. Maskapai penerbangan menggunakan peta ini untuk merencanakan terlebih dahulu bandara alternatif atau keadaan darurat penting lainnya.
Meskipun turbulensi berubah seiring dengan kondisi cuaca, beberapa wilayah dan rute lebih rentan terhadap turbulensi dibandingkan wilayah dan rute lainnya.
Situs Turbli, sebuah perusahaan yang mengkaji data turbulensi penerbangan global, pada awal tahun lalu merilis sebuah laporan yang mencantumkan jalur-jalur penerbangan dengan tingkat turbulensi tinggi di dunia. Situs ini menganalisis 150 ribu jalur penerbangan di seluruh dunia dan menilai turbulensi berdasarkan tingkat disipasi pusaran air atau eddy dissipation rates (EDR).
EDR mengukur intensitas turbulensi di suatu titik tertentu, 0-20 ringan, 20-40 sedang, 40-80 parah, dan 80-100 ekstrem. Jalur penerbangan dengan tingkat turbulensi terkuat terletak di benua Amerika Selatan dan Asia Tengah.
Jalur penerbangan yang mencatat tingkat turbulensi tertinggi terletak di Amerika Selatan, menghubungkan ibu kota Chili, Santiago, dengan kota terbesar di Bolivia, Santa Cruz, di Bandara Internasional Viru Viru. Dengan jarak mencapai 1.905 kilometer, jalur ini memiliki tingkat EDR (Expected Difficulty Rating) sebesar 17,568, menempatkannya sebagai jalur penerbangan paling bergelombang di dunia.
Di posisi kedua, terdapat jalur penerbangan di Asia Tengah, menghubungkan kota terbesar Kazakhstan, Almaty, dengan ibu kota Kirgistan, Bishkek.
Dari sepuluh jalur penerbangan paling bergelombang, tujuh di antaranya berada di Asia. Selain jalur Almaty menuju Bishkek, yang menduduki posisi kedua, enam jalur lainnya berada di Jepang dan Tiongkok, yang cukup dikenal oleh masyarakat Taiwan.
Di Jepang, jalur penerbangan dari Bandara Internasional Chubu menuju Sendai menempati peringkat keempat, sementara jalur dari Bandara Internasional Kansai di Osaka menuju Sendai berada di peringkat ketujuh.
Sementara itu, di Tiongkok, ada empat jalur penerbangan yang masuk dalam daftar. Jalur dari Lanzhou ke Chengdu menduduki peringkat ketiga paling bergelombang, sedangkan jalur dari Lanzhou ke Xianyang di Provinsi Shaanxi berada di posisi keenam. Dua jalur lainnya adalah dari Xianyang ke Chengdu dan Xianyang ke Chongqing, masing-masing menempati peringkat kedelapan dan kesembilan.
Hanya dua jalur penerbangan di Eropa yang masuk dalam daftar sepuluh besar. Jalur dari Milan ke Jenewa berada di peringkat kelima, sementara jalur dari Milan ke Zurich berada di peringkat kesepuluh.
Pendiri Turbli, Ignacio Gallego Marcos, menjelaskan bahwa jalur penerbangan yang melintasi Pegunungan Andes di Amerika Selatan dan Pegunungan Alpen di Eropa sering masuk dalam daftar karena adanya turbulensi gelombang gunung (mountain wave turbulence).
Sementara itu, jalur penerbangan di Jepang dan Tiongkok cenderung lebih bergelombang karena adanya aktivitas arus jet stream (aliran udara berkecepatan tinggi dan sempit yang terbentuk di lapisan atas atmosfer).
Di Australia, rata-rata turbulensi tertinggi pada tahun 2023 terjadi pada jalur Brisbane ke Sydney, disusul Melbourne ke Sydney, dan Brisbane ke Melbourne.
Berikut 10 Jalur Penerbangan Paling Bergelombang Tahun 2023:
1. Santiago, Chili (SCL) menuju Santa Cruz, Bolivia (VVI)
Jarak: 1.905 Km
Rata-rata turbulensi: 17.57 EDR
2. Almaty, Kazakhstan (ALA) menuju Bishkek, Kirgistan (FRU)
Jarak: 210 km
Rata-rata turbulensi: 17.46 EDR
3. Lanzhou, Tiongkok (LHW) menuju Chengdu, Tiongkok (CTU)
Jarak: 661 km
Rata-rata turbulensi: 16.75 EDR
4. Bandara Internasional Chubu, Jepang (NGO) menuju Sendai, Jepang (SDJ)
Jarak: 517 km
Rata-rata turbulensi: 16.58 EDR
5. Milan, Italia (MXP) menuju Jenewa, Swiss (GVA)
Jarak: 214 km
Rata-rata turbulensi: 16.40 EDR
6. Lanzhou, Tiongkok (LHW) menuju Xianyang, Tiongkok (XIY)
Jarak: 519 km
Rata-rata turbulensi: 16.34 EDR
7. Osaka, Jepang (KIX) menuju Sendai, Jepang (SDJ)
Jarak: 655 km
Rata-rata turbulensi: 16.31 EDR
8. Xianyang, Tiongkok (XIY) menuju Chengdu, Tiongkok (CTU)
Jarak: 624 km
Rata-rata turbulensi: 16.25 EDR
9. Xianyang, Tiongkok (XIY) menuju Chongqing, Tiongkok (CKG)
Jarak: 561 km
Rata-rata turbulensi: 16.04 EDR
10. Milan, Italia (MXP) menuju Zurich, Swiss (ZRH)
Jarak: 203 km
Rata-rata turbulensi: 16.02 EDR