Perubahan Iklim Picu Meningkatnya Risiko Turbulensi Parah Penerbangan
Thomas Pulungan
JAKARTA, (ERAKINI) - Pesawat Qatar Airways QR017 penerbangan Doha- Dublin Irlandia mengalami turbulensi pada Minggu (26/5/2024) siang dan menyebabkan 12 orang luka-luka. Insiden ini terjadi hanya selang lima hari setelah turbulensi Singapore Airlines penerbangan dari London-Singapura yang menewaskan satu orang dan 20 lainnya luka-luka.
Kecelakaan penerbangan terkait turbulensi sebenarnya umum terjadi. Menurut studi tahun 2021 yang dilakukan oleh Dewan Keselamatan Transportasi Nasional AS, dari tahun 2009 hingga 2018, badan AS tersebut menemukan bahwa turbulensi menyumbang lebih dari sepertiga kecelakaan penerbangan yang dilaporkan dan sebagian besar mengakibatkan satu atau lebih cedera serius. Namun tidak ada kerusakan pada pesawat.
Hanya, turbulensi kini menjadi ancaman serius bagi penerbangan di seluruh dunia. Berdasarkan sebuah penelitian baru yang dipublikasikan The Conversation pada tahun lalu, turbulensi penerbangan telah melonjak hingga 55% seiring dengan pemanasan global.
Banyak penelitian selama satu dekade terakhir yang memperkirakan bahwa perubahan iklim akan memperburuk turbulensi di masa depan. Selama empat dekade terakhir, turbulensi parah telah meningkat di banyak rute penerbangan sibuk di seluruh dunia, termasuk Eropa, Amerika Serikat, dan Atlantik utara.

















