Di atas, para pejuang Hamas berkumpul di lokasi penyerahan dua sandera Israel di Rafah, Jalur Gaza selatan, pada 22 Februari 2025. (Foto: AFP).
GAZA, (ERAKINI) - Di tengah reruntuhan kota Rafah yang kini dikuasai pasukan pendudukan Israel, para pejuang Hamas bersumpah tak akan menyerah, menegaskan bahwa perlawanan tetap hidup meski dunia menekan untuk gencatan senjata permanen.
Melansir Arab News, dalam pernyataan tegas yang dirilis Minggu (9/11/2025) malam, sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, menolak keras wacana penyerahan diri yang ditawarkan melalui mediator Mesir dan Amerika Serikat. Mereka menegaskan, “menyerah bukan bagian dari kamus perjuangan kami.”
Beberapa hari sebelumnya, sumber diplomatik yang dekat dengan proses negosiasi mengatakan kepada Reuters bahwa mediator Mesir tengah berupaya menciptakan jalan keluar damai dari kebuntuan di Rafah.
Proposal tersebut menyebutkan bahwa sekitar 200 pejuang Hamas yang masih bertahan di wilayah selatan Gaza akan diberi jalan aman menuju lokasi lain, dengan syarat mereka menyerahkan senjata kepada Mesir dan mengungkap jaringan terowongan bawah tanah untuk dihancurkan.
Namun, Hamas menolak skema tersebut mentah-mentah, menyebutnya sebagai upaya terselubung Israel untuk melemahkan perlawanan rakyat Palestina.
Brigade Al-Qassam memperingatkan para mediator internasional, khususnya Mesir dan Qatar, agar segera mencari solusi untuk mencegah Israel menggunakan dalih baru untuk melanggar gencatan senjata yang telah berlangsung sebulan terakhir.
“Kami mempercayakan tanggung jawab besar kepada para mediator. Mereka harus memastikan kelanjutan gencatan senjata dan mencegah musuh memanfaatkan situasi ini untuk menyerang warga sipil Gaza,” demikian pernyataan mereka.
Sejak kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat mulai berlaku pada 10 Oktober, Rafah menjadi titik panas konflik terbaru. Setidaknya dua serangan terhadap pasukan Israel terjadi di wilayah tersebut. Meski Israel menuduh Hamas sebagai pelaku, kelompok itu membantah keterlibatan mereka.
Dalam insiden terbaru, tiga tentara Israel tewas, yang kemudian dibalas dengan serangan udara dan artileri besar-besaran ke Rafah, menewaskan puluhan warga sipil Palestina, termasuk anak-anak dan perempuan.
Secara terpisah, Brigade Al-Qassam juga mengumumkan bahwa mereka akan menyerahkan jenazah tentara Israel, Hadar Goldin, pada Minggu (9/11/2025) pukul 14.00 waktu Gaza (12.00 GMT).
Sejak dimulainya gencatan senjata, Hamas telah menyerahkan 23 dari 28 jenazah sandera Israel, namun mereka mengaku kesulitan mencari sisanya karena kehancuran besar di seluruh wilayah Gaza.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan bahwa Israel telah menyerahkan jenazah 300 warga Palestina sebagai bagian dari pertukaran yang sedang berlangsung.
Namun, serangan udara Israel belum berhenti. Pada hari yang sama, satu warga Palestina tewas di Bani Suhaila, timur Khan Younis, akibat serangan udara baru yang dilancarkan oleh pesawat tempur Israel.
Konflik yang bermula dari seranganHamas pada 7 Oktober 2023, di mana 1.200 orang Israel tewas dan 251 dijadikan sandera, kini telah berubah menjadi tragedi kemanusiaan paling mematikan dalam sejarah Gaza modern.
Menurut data terbaru dari otoritas kesehatan Palestina, hingga kini serangan balasan Israel telah menewaskan hampir 69.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta menyebabkan lebih dari 100.000 lainnya luka-luka.
Rafah, yang dulunya menjadi tempat perlindungan terakhir bagi pengungsi dari Gaza utara, kini berubah menjadi kuburan terbuka di bawah bombardir tanpa henti.