Usulan Mediator Mesir-AS: Hamas di Rafah Serahkan Senjata dan Hengkang dari Zona Israel Demi Kesepakatan Damai
Akhmad Baihaqi Arsyad
KAIRO, (ERAKINI)

KAIRO, (ERAKINI)






Menurut dua sumber yang terlibat dalam perundingan yang dilansir dari Arab News, langkah ini dianggap uji penting bagi keberlanjutan gencatan senjata yang telah berlaku sejak 10 Oktober lalu, menyusul kesepakatan yang ditengahi oleh Amerika Serikat.
Utusan khusus AS, Steve Witkoff, mengatakan bahwa sekitar 200 pejuang Hamas menjadi fokus utama dalam tahap awal proses pelucutan senjata. “Ini akan menjadi ujian awal bagi upaya yang lebih besar untuk mendemiliterisasi Gaza,” ujarnya.
Meski gencatan senjata masih berjalan, Rafah, wilayah paling selatan Gaza, kembali memanas. Setidaknya tiga tentara Israel tewas dalam serangan yang memicu serangan balasan brutal dari militer Israel, menewaskan puluhan warga sipil Palestina.
Pihak Israel menuduh Hamas berada di balik serangan tersebut, namun kelompok perlawanan itu membantah keterlibatannya. Dua sumber keamanan mengatakan, para pejuang Hamas di Rafah yang diyakini telah kehilangan kontak dengan komando utama sejak Maret kemungkinan tidak mengetahui adanya gencatan senjata yang sedang berlangsung.
Dalam upaya meredakan ketegangan, mediator Mesir mengusulkan agar para pejuang Hamas menyerahkan senjata mereka kepada Mesir, sekaligus memberikan informasi detail tentang jaringan terowongan bawah tanah yang menjadi rute utama logistik dan persembunyian pasukan.
Terowongan-terowongan tersebut rencananya akan dihancurkan sepenuhnya, sebagai bagian dari langkah menuju pelucutan senjata permanen Hamas. Hingga kini, baik Israel maupun Hamas belum secara terbuka menerima usulan ini, dan pembicaraan diplomatik masih terus berlangsung di tingkat tertutup.
Kesepakatan di Rafah disebut-sebut menjadi bagian dari tahap awal rencana perdamaian Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang Gaza.
Rencana tersebut mencakup tiga langkah besar:
- Gencatan senjata permanen,
- Pelucutan senjata Hamas,
- Pembentukan pemerintahan teknokratis Palestina dengan pengawasan internasional.
Dalam tahap pertama, Hamas telah membebaskan 20 sandera hidup terakhir dengan imbalan pembebasan hampir 2.000 tahanan Palestina, serta penarikan sebagian pasukan Israel dari wilayah barat Gaza. Namun, langkah berikutnya atau pelucutan senjata total dan transisi kekuasaan, masih menemui jalan terjal.
Witkoff menyebut, pembentukan pasukan keamanan internasional di Gaza akan rampung dalam waktu tiga minggu mendatang. Setelah itu, kata dia, akan menjadi momen bagi Hamas untuk benar-benar menonaktifkan pasukannya dan bertransformasi dari kelompok bersenjata menjadi kekuatan politik sipil.
Namun, jalan menuju perdamaian masih panjang. Di tengah proses negosiasi, data kemanusiaan di Gaza tetap memilukan: hampir 69.000 warga Palestina telah tewas, termasuk 241 orang sejak gencatan senjata diberlakukan, sementara Israel menyerahkan 285 jenazah warga Palestina ke pihak Gaza dalam proses pertukaran jenazah yang masih berlangsung.
