Kelompok Popular Forces mengonfirmasi bahwa Yasser Abu Shabab, telah tewas pada Kamis (4/12/2025) di Gaza. Foto: Facebook Popular Forces
JAKARTA, (ERAKINI) — Kematian Yasser Abu Shabab, pemimpin milisi Gaza yang disebut-sebut dekat dengan Israel, mengakhiri perjalanan pria yang mengklaim sebagai alternatif Hamas, namun justru banyak dianggap sebagai kolaborator yang dituduh menjarah bantuan kemanusiaan di tengah penderitaan Gaza.
Popular Forces, kelompok yang ia pimpin, termasuk media Israel, telah mengonfirmasi kematiannya. Namun, detil pembunuhannya masih diselimuti ketidakjelasan, sama seperti jejak awal kemunculannya.
Ia muncul tiba-tiba, penuh kontroversi, dan pergi dalam ketidakpastian. Tidak banyak warga Gaza, bahkan para penentang Hamas, yang meratapi kematian Abu Shabab.
Dilansir Al Jazeera, pria berusia awal 30-an itu berasal dari suku Badui Tarabin di Gaza selatan. Hingga tahun lalu, namanya nyaris tak terdengar di wilayah Palestina. Kehadirannya tiba-tiba mencuat ketika ia memimpin sebuah milisi yang awalnya menyebut diri “Anti-Terror Service”. Dalam hitungan bulan, kelompok itu mengganti identitas menjadi Popular Forces, unit bersenjata yang memiliki sedikitnya 100 anggota dan beroperasi di area Gaza yang dikontrol Israel.
Popular Forces berada di wilayah abu-abu antara geng kriminal dan pasukan proxy Israel, namun selalu menampilkan diri sebagai kelompok nasionalis Palestina yang berkomitmen melawan Hamas.
Bagi Israel, citra tersebut memiliki nilai strategis. Namun Popular Forces terbukti tidak pernah memiliki dukungan publik yang luas, sebuah catatan penting dalam dinamika Gaza.
Latar Belakang Kelam dan Penolakan Internal
Di mata banyak warga Palestina, Abu Shabab bukanlah pejuang. Ia justru dianggap seorang kriminal. Ia pernah dipenjara oleh otoritas Gaza selama bertahun-tahun atas kasus narkoba, sebelum melarikan diri di awal perang Gaza.
Keputusannya bersekutu dengan Israel, yang dalam perang ini telah menewaskan lebih dari 70.120 warga Palestina, langsung menutup peluangnya mendapat legitimasi publik. Bahkan sukunya sendiri merilis pernyataan bahwa kematiannya merupakan akhir dari babak kelam yang tidak mencerminkan sejarah suku Tarabin.
Mengurai ideologi Abu Shabab bukan hal mudah. Banyak pengamat menilai bahwa ia digerakkan oleh ambisi kekuasaan, bukan agenda politik yang jelas. Branding “anti-terorisme” yang ia pilih diawal bahkan dianggap ironis, mengingat adanya laporan keterlibatannya dengan ISIS (ISIL), meski konteksnya berkaitan dengan jaringan penyelundupan dari Sinai ke Gaza, bukan kesamaan ideologi.
Ia juga membangun citra digital yang tampak tidak sejalan dengan latar belakangnya, mulai dari unggahan berbahasa Inggris hingga opini yang dimuat Wall Street Journal, di mana ia mengklaim menguasai sebagian besar Rafah Timur dan "siap membangun masa depan baru".
Dalam artikelnya, ia menulis bahwa tujuan utama Popular Forces adalah “memisahkan warga Palestina yang tidak terkait Hamas dari api perang”.
Namun klaim itu berbanding terbalik dengan fakta bahwa pada Juni lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengakui bahwa pemerintahnya menggunakan klan-klan bersenjata, yang secara luas dipahami sebagai Popular Forces, untuk melawan Hamas.
Dituduh Menjarah Bantuan Popular Forces berusaha memperlihatkan diri sebagai penyalur bantuan kemanusiaan, terutama di lokasi yang melibatkan GHF, badan bantuan yang didukung AS dan Israel. Abu Shabab bahkan mengatakan kepada CNN bahwa ia memimpin “kelompok warga yang melindungi bantuan dari penjarahan”.
Namun tuduhan justru mengalir deras. Sebuah memo internal PBB yang dilihat Washington Post menyebut Abu Shabab sebagai “aktor utama dan paling berpengaruh dalam penjarahan sistematis dan masif” terhadap konvoi bantuan. Sumber keamanan Gaza mengonfirmasi kepada Al Jazeera Arabic bahwa kelompok tersebut, dengan dukungan Israel, ikut terlibat dalam penjarahan.
Di tengah Gaza yang dilanda kelaparan akibat blokade Israel, tuduhan tersebut membuat citra Abu Shabab semakin terperosok sebagai proxy Israel.