Tentara Lebanon Umumkan Fase I Pelucutan Senjata Kelompok Non-Negara di Selatan Berhasil Dikendalikan, Hizbullah?
Akhmad Baihaqi Arsyad


Melansir Arab News, militer Lebanon dalam pernyataan resminya pada Kamis (8/1/2025), menegaskan bahwa negara kini telah memegang kendali nyata dan efektif atas seluruh persenjataan di wilayah selatan, tanpa secara eksplisit menyebut kelompok Hizbullah. Tentara menyatakan telah menguasai daerah di selatan Sungai Litani, sekitar 30 kilometer dari perbatasan Israel, dengan pengecualian wilayah tertentu yang masih berada di bawah pendudukan Israel.
Pengumuman ini muncul di tengah meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat dan Israel yang menuntut Beirut agar melucuti senjata Hizbullah. Di saat yang sama, Israel terus melancarkan serangan di berbagai wilayah Lebanon meskipun gencatan senjata yang disepakati pada 2024 masih berlaku.
Militer Lebanon sebelumnya telah menetapkan target untuk menyelesaikan fase pertama dari rencana pelucutan senjata bertahap ini paling lambat akhir 2025. Meski demikian, tentara mengakui bahwa masih terdapat pekerjaan besar yang harus diselesaikan, terutama terkait pembersihan amunisi yang belum meledak serta pembongkaran jaringan terowongan di wilayah tersebut.
Seorang sumber keamanan Lebanon mengatakan bahwa pencapaian ini menandakan tidak ada lagi kelompok yang mampu melancarkan serangan dari wilayah Lebanon selatan. Sementara itu, Panglima Angkatan Darat Rodolphe Haykal dijadwalkan memberikan laporan resmi kepada pemerintah mengenai perkembangan operasi ini.
Kabinet Lebanon diperkirakan segera membahas transisi ke fase kedua, yang akan mencakup pelucutan senjata kelompok bersenjata non-negara di area sekitar 40 kilometer di utara Sungai Litani hingga Sungai Awali.
Dari pihak Israel, pemerintah menyambut langkah tersebut dengan sikap hati-hati. Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa upaya Lebanon memang menunjukkan kemajuan, namun dinilai belum memadai. Israel menegaskan bahwa perjanjian gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat secara jelas menuntut pelucutan senjata Hizbullah secara menyeluruh.
Israel juga menuduh Hizbullah berupaya memperkuat kembali kemampuan militernya dengan dukungan Iran, meskipun pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon selatan menyatakan tidak menemukan bukti pembangunan ulang infrastruktur militer Hizbullah.
Sejak gencatan senjata November 2024, Israel dilaporkan telah menewaskan lebih dari 300 orang di Lebanon, termasuk sedikitnya 127 warga sipil. Di tengah situasi ini, Israel kembali mengancam akan memperluas serangan harian jika pemerintah Lebanon gagal menuntaskan proses pelucutan senjata dan mengendalikan kelompok bersenjata di wilayahnya.
Langkah Lebanon ini pun dipandang sebagai uji krusial bagi stabilitas kawasan, sekaligus penentu masa depan keamanan di perbatasan selatan negara tersebut.




