Ilustrasi - Sebuah helikopter Apache AS selama latihan militer gabungan dengan Indonesia di Baturaja, Sumatera Selatan pada 12 Agustus 2022. (Foto: AFP).
WASHINGTON, (ERAKINI) - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah militer Amerika Serikat mengumumkan terhadap menyusul insiden jatuhnya helikopter tempur Apache milik Angkatan Darat AS di perairan dekat Oman. Langkah Washington tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas kawasan yang sebelumnya mulai menunjukkan tanda-tanda mereda.
Dalam pernyataan resmi yang dipublikasikan melalui media sosial, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut operasi militer tersebut sebagai respons yang dianggap sepadan atas tindakan yang dituduhkan kepada Iran. Pemerintah AS menilai insiden yang melibatkan helikopter Apache itu sebagai bentuk agresi yang tidak dapat dibiarkan tanpa tanggapan.
Presiden AS Donald Trump turut mengonfirmasi insiden tersebut melalui unggahan di media sosial. Ia menyatakan telah menerima laporan dari pihak militer bahwa helikopter Apache AS ditembak jatuh saat menjalankan patroli di kawasan strategis Selat Hormuz.
Meski kedua pilot berhasil selamat tanpa mengalami luka serius, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tetap akan mengambil langkah balasan terhadap pihak yang dianggap bertanggung jawab atas kejadian tersebut.
Pernyataan tersebut semakin memperbesar ketidakpastian terhadap upaya penghentian konflik yang sebelumnya diumumkan pada 8 April lalu. Pada awal pekan ini, Israel dan Iran sempat menyatakan kesediaan menghentikan serangan langsung setelah adanya seruan dari Trump untuk mengakhiri konfrontasi bersenjata. Namun, Teheran memperingatkan bahwa mereka akan kembali melakukan aksi militer apabila Israel terus melancarkan serangan terhadap sekutunya, Hizbullah, di Lebanon.
Situasi yang kembali memanas ini juga menambah tantangan bagi berbagai upaya diplomatik yang tengah dilakukan guna mencapai kesepakatan damai di kawasan Timur Tengah sekaligus memastikan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz tetap terbuka dan aman.
Di tengah ketegangan tersebut, militer AS mengungkapkan keberhasilan operasi penyelamatan yang melibatkan teknologi tanpa awak. Untuk pertama kalinya, sebuah kapal drone permukaan milik Angkatan Laut AS digunakan untuk mengevakuasi dua awak helikopter Apache yang jatuh di perairan dekat Oman.
Menurut CENTCOM, helikopter AH-64 Apache tersebut mengalami kecelakaan sekitar pukul 03.00 waktu setempat pada Selasa dini hari. Operasi penyelamatan dilakukan menggunakan drone laut bernama Corsair, sebuah kapal permukaan otonom sepanjang sekitar 7,3 meter yang mampu beroperasi dalam jarak sangat jauh serta membawa muatan hingga ratusan kilogram.
Juru bicara Komando Pusat AS, Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins, menjelaskan bahwa drone tersebut berhasil menjemput kedua personel yang berada di laut sebelum membawa mereka ke titik evakuasi untuk selanjutnya diterbangkan menggunakan helikopter penyelamat.
Menurut Hawkins, pemilihan Corsair dilakukan karena posisinya yang paling dekat dengan lokasi kejadian serta kemampuannya menjalankan misi secara cepat dan efektif. Operasi tersebut menjadi salah satu contoh penerapan teknologi tanpa awak yang kini semakin terintegrasi dalam operasi militer modern Amerika Serikat.
Sebelumnya, Trump juga sempat menyampaikan kepada awak media di Bandara Internasional John F. Kennedy bahwa tidak ada korban luka dalam insiden tersebut. Namun pihak CENTCOM memberikan keterangan yang lebih berhati-hati dengan menyatakan kedua personel berhasil diselamatkan dalam kondisi stabil dan saat ini penyebab jatuhnya helikopter masih dalam penyelidikan.
Sementara itu di Teheran, militer Iran menjadwalkan prosesi pemakaman bagi dua anggota pertahanan udara yang tewas dalam serangan Israel sehari sebelumnya. Di sisi lain, tidak ada laporan korban jiwa di Israel akibat serangan balasan yang dilancarkan Iran.