Seberkas cahaya menerangi langit selama serangan rudal dari Iran ke arah Israel seperti yang terlihat dari Ashkelon, Israel, 7 Juni 2026. (Foto: Reuters).
YERUSALEM, (ERAKINI) – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel, menandai aksi militer pertama sejak gencatan senjata yang rapuh diberlakukan pada awal April lalu. Serangan tersebut memicu kekhawatiran akan pecahnya kembali konflik berskala besar dan berpotensi menggagalkan berbagai upaya diplomasi yang tengah dilakukan untuk mengakhiri di kawasan.
Media pemerintah Iran mengonfirmasi peluncuran rudal tersebut. Di saat yang sama, Teheran menutup ruang udara di wilayah barat negara itu sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan serangan balasan dari Israel.
Sebelumnya, Iran telah memperingatkan akan melakukan respons setelah Israel melancarkan serangan ke kawasan pinggiran selatan Beirut pada Minggu pagi tanpa peringatan terlebih dahulu. Tindakan itu dinilai mengabaikan desakan Washington yang beberapa hari sebelumnya meminta penghentian operasi militer. Israel sendiri mengklaim bahwa kelompok Hizbullah yang didukung Iran telah menembakkan roket ke wilayah utara negaranya.
Dalam pernyataan resminya, Garda Revolusi Iran mengeluarkan ancaman keras terhadap musuh-musuhnya. “Jika tindakan agresi ini diulangi, tanggapannya akan lebih luas dan akan mencakup semua target Amerika dan Zionis di seluruh wilayah,” tegas Garda Revolusi Iran, merujuk pada serangan di Lebanon, wilayah pesisir Iran, serta aktivitas kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz.
Akibat serangan tersebut, sirene peringatan berbunyi di sejumlah wilayah Israel. Jutaan warga berhamburan menuju tempat perlindungan untuk menghindari kemungkinan dampak serangan. Militer Israel menyatakan sebagian besar rudal berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara mereka. Meski demikian, beberapa ledakan tetap terdengar di wilayah utara negara tersebut. Kurang dari satu jam setelah peringatan dikeluarkan, otoritas militer mengumumkan bahwa warga dapat meninggalkan area perlindungan.
Juru bicara militer Israel, Brigjen Effie Defrin, mengecam aksi Teheran. “Iran telah melakukan kesalahan besar,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Staf Militer Israel Letjen Eyal Zamir menegaskan kesiapan pasukannya untuk melakukan serangan balasan. “Kami akan menyerang musuh dengan tekad segera setelah perintah diberikan,” katanya.
Di tengah meningkatnya tensi, laporan dari lembaga penyiaran publik Israel, Kan, menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump menilai Israel tidak perlu melakukan respons tambahan terhadap serangan tersebut.
Iran sebelumnya telah memperingatkan bahwa serangan terhadap Beirut berpotensi memicu kembali perang besar yang melibatkan banyak negara di Timur Tengah. Ancaman itu muncul ketika Pakistan dan sejumlah negara mediator lainnya berupaya menghidupkan kembali jalur dialog antara Teheran dan Washington.
Menjelang peluncuran rudal, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) juga mengeluarkan pernyataan kesiagaan. “Pasukan AS di seluruh Timur Tengah tetap waspada dan siap,” tulis CENTCOM melalui platform X.
Serangan Israel ke Beirut sendiri terjadi hanya beberapa hari setelah pemerintah Lebanon dan Israel menyetujui kesepakatan gencatan senjata dalam pembicaraan yang dimediasi Amerika Serikat. Namun, Hizbullah menolak hasil kesepakatan tersebut.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa serangan terhadap sebuah bangunan hunian menyebabkan dua orang tewas dan 20 lainnya mengalami luka-luka. Meski situasi semakin kompleks, Israel menegaskan operasinya belum berakhir. “Tentara akan terus bertindak di seluruh Lebanon,” kata juru bicara militer Israel.
Operasi militer Israel di Lebanon yang bertujuan memburu Hizbullah, ditambah penolakan kelompok itu untuk melucuti senjata, menjadi hambatan besar dalam upaya mencapai kesepakatan damai yang lebih luas di Timur Tengah.
Teheran juga menegaskan bahwa penghentian konflik di Lebanon harus menjadi bagian dari setiap kesepakatan yang dibangun. Presiden Trump kembali menyerukan agar Iran menghentikan peluncuran rudal dan kembali ke jalur diplomasi. Ia juga mengaku tidak puas dengan serangan Israel ke Beirut. “Saya tidak senang dengan hal itu,” ujar Trump mengenai operasi militer Israel pada Minggu pagi.
Sebelumnya, Israel sempat mengumumkan rencana menyerang kawasan selatan Beirut pada Senin. Namun, langkah tersebut ditunda setelah adanya komunikasi darurat melalui Washington dengan syarat Hizbullah menghentikan serangan terhadap kota-kota di perbatasan Israel.
Hizbullah, yang mengakui bertanggung jawab atas serangan ke Israel pada Minggu pagi, menolak adanya perundingan langsung antara Lebanon dan Israel. Kelompok itu lebih mendukung posisi Iran yang menghendaki agar kondisi di Lebanon menjadi bagian dari paket kesepakatan gencatan senjata antara Teheran dan Washington.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghadapi tekanan politik yang besar menjelang pemilu. Ia dituntut mengambil langkah tegas terhadap ancaman yang datang dari Iran dan Hizbullah, yang selama berbulan-bulan mengganggu kehidupan masyarakat di wilayah utara Israel.
Meski demikian, Trump berulang kali menegaskan bahwa dirinya tidak menginginkan konflik berkepanjangan. Dalam wawancara dengan program "Meet the Press" NBC, Trump menyatakan lebih mendukung operasi yang lebih spesifik terhadap Hizbullah. “Saya ingin melihat serangan yang lebih terarah terhadap Hizbullah,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak mensyaratkan Lebanon menjadi bagian wajib dari kesepakatan gencatan senjata yang lebih luas terkait konflik dengan Iran.
Sementara itu, ketegangan di kawasan Teluk terus meningkat. Iran mempertahankan pengaruhnya di Selat Hormuz, sedangkan Amerika Serikat tetap memberlakukan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran. Kondisi tersebut berdampak pada distribusi minyak, gas alam, dan pupuk dunia, sekaligus menambah tekanan terhadap perekonomian global.
Sejak gencatan senjata diberlakukan, Iran juga dilaporkan meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah negara Teluk dengan sasaran yang diklaim sebagai fasilitas militer Amerika Serikat. Tak lama setelah serangan rudal ke Israel, Irak mengumumkan penutupan wilayah udaranya selama 72 jam. Suriah juga mengambil langkah serupa dengan menutup ruang udaranya selama 12 jam.