“Dialog yang mengarah pada perjanjian tersebut harus dilanjutkan, sehingga menghasilkan gencatan senjata kemanusiaan penuh, demi kepentingan rakyat Gaza, Israel, dan wilayah yang lebih luas,” kata juru bicara Guterres, Stephane Dujarric, Senin (27/11/2023).
Jeda yang disepakati oleh Israel dan Hamas, kata Guterres, memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza, termasuk ke bagian utara daerah kantong tersebut. Namun, dia mengatakan bahwa bantuan tersebut tidak sebanding dengan besarnya kebutuhan bagi 1,7 juta pengungsi.
Guterres pun memperingatkan bahwa bencana kemanusiaan di Gaza semakin memburuk dari hari ke hari. Guterres juga menegaskan kembali seruannya agar sandera yang tersisa segera dibebaskan tanpa syarat.
“Dia mendesak semua negara untuk menggunakan pengaruh mereka untuk mengakhiri konflik tragis ini," kata Dujarric, mengutip Guterres.
SekjenPBB juga meminta semua negara mendukung langkah-langkah yang menuju satu-satunya masa depan yang berkelanjutan bagi kawasan Timur Tengah, yakni solusi dua negara, dengan Israel dan Palestina hidup berdampingan secara aman dan damai.
Kepada Pemerintah Qatar, Mesir, dan AS, Guterres turut memuji mereka lantaran telah memfasilitasi pengaturan jeda kemanusiaan ini, kata Dujarric.
Senada dengan Guterres, Komisioner Tinggi PBB untuk HAM Volker Turk menyatakan saat ini adalah saat yang tepat untuk memanfaatkan jeda kemanusiaan di Gaza guna mengakhiri kekerasan secara permanen.
Ia menyebut, jeda kemanusiaan penting bagi warga sipil di Gaza, yang bisa kembali berkumpul dengan orang-orang terkasihnya, setelah mengalami situasi yang bagaikan api neraka selama 7 minggu terakhir.
“Saatnya menggunakan jeda ini untuk membuka jalan bagi diakhirinya kekerasan secara permanen, jalan keluar dari kesengsaraan, menuju perdamaian yang berkelanjutan dan abadi,” kata Turk melalui platform X.
Jeda kemanusiaan selama 4 hari yang dimediasi oleh Qatar, Mesir, dan AS mulai berlaku pada Jumat (24/11/2023). Selama itu, Israel menghentikan sementara serangannya di Gaza.
Sementara itu, Israel di tengah seruan banyak pihak untuk melanjutkan jeda atau menjadikannya permanen, bersumpah akan melanjutkan serangannya setelah jeda tersebut berakhir. Israel hanya membuka kemungkinan untuk memperpanjang jeda jika pertukaran sandera terus berlanjut.
Sebelumnya, serangan besar-besaran dilancarkan Israel di Jalur Gaza, menyusul serangan lintas batas oleh Hamas pada 7 Oktober 2023.
Pertempuran itu telah menewaskan sedikitnya 14.854 warga Palestina, termasuk 6.150 anak-anak dan lebih dari 4.000 perempuan, sementara Israel mencatat 1.200 korban jiwa. (ant)