Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan bahwa Amerika Serikat masih bersedia merundingkan penyelesaian krisis Iran, namun Teheran tidak serius mengenai perundingan tersebut. (Foto: Reuters).
MANILA, (ERAKINI) – Di tengah memanasnya konflik yang mengancam stabilitas jalur energi global, Amerika Serikat (AS) menyatakan masih membuka peluang penyelesaian diplomatik dengan Iran. Namun, Washington menilai Teheran belum menunjukkan keseriusan untuk mencapai kesepakatan melalui meja perundingan.
Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri ASMarco Rubio saat menghadiri pertemuan para menteri luar negeri Asia Tenggara di Manila, Rabu. Pernyataan itu muncul ketika ketegangan di kawasan Timur Tengah semakin meningkat, terutama setelah kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran mengumumkan blokade laut di kawasan Laut Merah yang disebut menargetkan aktivitas pelayaran terkait Arab Saudi.
Menurut Rubio, pemerintah AS tetap berkomitmen untuk mencari jalan keluar melalui diplomasi. Namun, ia menegaskan bahwa keberhasilan perundingan sangat bergantung pada keseriusan Iran dalam menjalani proses tersebut.
“Masalah yang kita hadapi saat ini adalah mereka tidak serius mengenai perundingan. Jika mereka serius, kami pun serius. Jika tidak, maka kami akan melakukan langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingan kami, serta kepentingan sekutu-sekutu kami,” kata Rubio.
Ketegangan ini menjadi perhatian dunia karena melibatkan dua jalur pelayaran energi paling strategis, yakni Selat Hormuz dan Laut Merah. Sebelumnya, Iran mengancam aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, sementara Laut Merah menjadi jalur alternatif utama bagi ekspor jutaan barel minyak Arab Saudi setiap hari.
Di tengah situasi tersebut, upaya diplomasi sebenarnya masih terus berlangsung. Seorang pejabat senior Iran mengungkapkan bahwa Teheran telah menerima proposal gencatan senjata selama 10 hari yang diajukan pihak mediator. Langkah tersebut ditujukan untuk mempertahankan kesepakatan penghentian sementara konflik yang dicapai antara Iran dan Amerika Serikat pada Juni lalu.
Sebagai bagian dari proses mediasi, Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni juga melakukan kunjungan ke Pakistan. Islamabad diketahui berperan sebagai salah satu penengah yang berupaya menjaga jalur komunikasi antara kedua negara tetap terbuka.
Meski demikian, Rubio menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan membiarkan Iran mengendalikan Selat Hormuz. Menurutnya, tindakan semacam itu dapat menciptakan preseden berbahaya bagi keamanan jalur perdagangan internasional.
“Jika kita menciptakan preseden di Timur Tengah di mana sebuah negara dapat memutuskan untuk menguasai jalur air internasional, memungut biaya, dan meledakkan kapal Anda jika Anda tidak membayar, maka kita telah menciptakan preseden yang sangat berbahaya. Hal ini akan terulang di wilayah lain di dunia, termasuk di kawasan ini,” ujarnya.
Sementara jalur diplomasi masih berjalan, operasi militer di lapangan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran pada Selasa malam, yang menjadi rangkaian serangan malam ke-11 secara berturut-turut.
Warga Teheran dilaporkan mendengar sejumlah ledakan pada Rabu dini hari ketika sistem pertahanan udara Iran diaktifkan untuk menghadapi ancaman yang masuk ke wilayah ibu kota. Ledakan juga dilaporkan terjadi di Chabahar, Konarak, dan Bushehr, lokasi satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir Iran.
Sebelumnya, Iran mengklaim telah melancarkan serangan terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Selain itu, sebuah kapal tanker dilaporkan terkena serangan di kawasan Selat Hormuz.
Iran juga menyatakan telah menargetkan infrastruktur milik Amazon di Bahrain yang menjadi lokasi pusat data regional perusahaan teknologi asal Amerika Serikat tersebut. Namun hingga kini, Amazon belum memberikan tanggapan resmi, sementara laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa jumlah korban di pihak militer Amerika terus bertambah. Menurutnya, hingga saat ini sedikitnya 18 personel militer AS telah tewas dalam konflik yang berlangsung, termasuk empat anggota militer yang gugur akibat serangan Iran terhadap pangkalan Amerika di Yordania dan Irak dalam beberapa hari terakhir.
Ketegangan semakin meningkat setelah kelompok Houthi mengeluarkan ancaman terhadap kapal-kapal yang terlibat dalam aktivitas ekspor maupun impor minyak Arab Saudi. Dalam surat yang ditujukan kepada perusahaan pelayaran internasional, kelompok tersebut menyatakan akan menyerang kapal yang memuat atau membongkar minyak Saudi.
Menanggapi ancaman itu, Presiden Trump mengatakan kelompok Houthi sejauh ini belum menutup Bab el-Mandeb, selat strategis yang dijuluki “Gerbang Air Mata” dan menjadi pintu masuk menuju Laut Merah. “Sejauh ini hal itu belum terjadi. Jika hal semacam itu terjadi, kami akan menanganinya,” ujar Trump.