Iran dan AS Terus Berbalas Serangan selama 10 Hari, Pakistan Berjibaku Cegah Perang Lebih Besar
Akhmad Baihaqi Arsyad
ISLAMABAD, (ERAKINI) - Konflik antara Iran dan Amerika Serikat semakin mendekati titik kritis. Memasuki hari ke-10 pertempuran yang kembali berkobar, kedua negara terus saling melancarkan serangan militer, sementara upaya diplomasi dilakukan secara intensif untuk mencegah konflik berkembang menjadi perang yang lebih luas.
Di tengah situasi yang kian genting, Menteri Dalam Negeri Iran, Eskandar Momeni, memulai serangkaian pertemuan penting di Pakistan pada Selasa. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya diplomatik yang digalang Islamabad guna menghidupkan kembali kesepakatan sementara antara Teheran dan Washington yang sebelumnya gagal dipertahankan. Namun hingga kini belum terlihat formula baru yang mampu menghentikan pertempuran yang terus berlangsung di kawasan.
Di saat jalur diplomasi berusaha mencari jalan keluar, situasi di lapangan justru semakin memanas. Iran dilaporkan menyerang sebuah kapal tanker di kawasan Selat Hormuz pada Selasa dini hari, memaksa seluruh awak kapal meninggalkan kapal mereka demi keselamatan.
Sebagai respons, militer Amerika Serikat kembali menggempur sejumlah target di Iran melalui rangkaian serangan udara yang telah berlangsung selama 10 malam berturut-turut.
Meski terus menjadi sasaran bombardemen, Teheran tetap mempertahankan pengaruhnya di Selat Hormuz, jalur strategis yang dalam kondisi normal menjadi lintasan sekitar 20 persen perdagangan minyak mentah dan gas alam dunia.
Kesepakatan sementara yang ditandatangani bulan lalu untuk menghentikan konflik kini praktis runtuh. Aktivitas pelayaran di kawasan tersebut mengalami perlambatan drastis, sementara infrastruktur sipil yang menopang kehidupan jutaan warga ikut terdampak akibat meningkatnya eskalasi militer.
Pemerintah Amerika Serikat juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi serangan balasan Iran di berbagai wilayah dunia. Dalam peringatan terbaru, Departemen Luar Negeri AS menyebut bahwa Iran maupun kelompok-kelompok yang berafiliasi dengannya berpotensi menargetkan kepentingan Amerika dan warga negara AS di berbagai negara.
Sementara itu, dampak ekonomi akibat konflik terus dirasakan pasar global. Harga minyak mentah Brent dilaporkan mendekati level 90 dolar AS per barel, sedangkan harga bensin di Amerika Serikat bertahan di kisaran rata-rata 4 dolar AS per galon. Kenaikan harga energi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintahan Presiden Donald Trump menjelang pemilu paruh waktu.
Melalui media sosial, Trump kembali mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran. "Setiap kali Iran membunuh seorang tentara Amerika, mereka akan menanggung akibat yang jauh lebih berat atas pembunuhan tersebut!"
Pakistan Ambil Peran Kunci
Dalam rangkaian kunjungannya ke Islamabad, Eskandar Momeni dilaporkan menggelar pertemuan dengan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir. Ia juga dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Shehbaz Sharif.
Pakistan sebelumnya memainkan peran penting dalam memediasi kesepakatan sementara yang dicapai antara Iran dan Amerika Serikat bulan lalu. Kini Islamabad kembali berusaha mempertemukan kedua pihak untuk membahas berbagai persoalan yang belum terselesaikan dalam nota kesepahaman sebelumnya. Meski demikian, belum ada rincian resmi mengenai hasil pertemuan tersebut.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menegaskan bahwa Washington masih membuka pintu negosiasi dengan Iran. Namun menurutnya, pembicaraan tersebut harus menghasilkan langkah-langkah konkret dan bukan sekadar perundingan simbolis.
Komando Pusat Militer AS menyatakan bahwa serangan terbaru menyasar pusat komando militer Iran, fasilitas maritim, lokasi peluncuran rudal dan drone, serta sistem pertahanan udara. Sementara itu, media pemerintah Iran melaporkan adanya ledakan di sejumlah provinsi, termasuk Fars, Hormozgan, Ilam, Kerman, serta Sistan-Baluchistan.
Ketegangan juga terus meningkat di jalur pelayaran internasional. Data Lloyd's List Intelligence menunjukkan hanya tiga kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Minggu lalu, menandakan aktivitas pelayaran yang hampir lumpuh akibat konflik.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris melaporkan sebuah kapal tanker diserang di perairan dekat Oman pada Selasa dini hari. Serangan itu memaksa awak kapal meninggalkan kapal mereka.
Islamic Revolutionary Guard Corps atau Garda Revolusi Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut, termasuk dua serangan lain terhadap kapal-kapal yang melintas di kawasan itu sehari sebelumnya.

















