Banjir bandang dahsyat yang menerjang Nepal dan Tibet sembilan hari lalu menewaskan sedikitnya 1.301 orang. Foto: BBC
JAKARTA, (ERAKINI) — Banjir bandang dahsyat yang menerjang Nepal dan Tibet sembilan hari lalu menewaskan sedikitnya 1.301 orang. Sebanyak 5.339 orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Dilansir BBC, Jumat (4/9/2026), berdasarkan laporan terbaru otoritas Nepal dan Tibet, korban meninggal di Nepal mencapai 1.280 orang, sedangkan 4.798 orang masih belum ditemukan.
Jumlah korban diperkirakan masih dapat bertambah seiring operasi pencarian dan penyelamatan yang terus dilakukan di sejumlah lokasi terdampak.
Ratusan warga negara asing diyakini berada di antara ribuan orang yang hilang. Mereka dilaporkan berasal dari sedikitnya 34 negara.
Operasi penyelamatan kini difokuskan pada sekitar enam terowongan pembangkit listrik tenaga air di Nepal, termasuk terowongan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air Trishuli 3A.
Di tengah tingginya jumlah korban, harapan muncul setelah dua pekerja, Kabir Maharjan dan Sanjaya Shah, berhasil ditemukan hidup-hidup dari dalam terowongan Trishuli 3A.
Keduanya berhasil dievakuasi setelah tim penyelamat berhari-hari menggali terowongan yang tertutup lumpur dan bebatuan berukuran besar. Beberapa batu bahkan disebut berukuran lebih besar daripada mobil.
Presiden International Tunnelling and Underground Space Association, Arnold Dix, yang memberikan saran kepada pemerintah Nepal dalam operasi penyelamatan, mengatakan kondisi terowongan sangat sulit.
Menurut Dix, pintu masuk terowongan yang sebelumnya berada di atas bukit kini terkubur akibat longsoran besar. Tim penyelamat kemudian menggunakan data satelit untuk memperkirakan lokasi pintu masuk sebelum melakukan penggalian.
“Kami tidak tahu di mana mereka berada. Kami harus membuat perkiraan terbaik dengan menggunakan teknologi,” ujar Dix.
Dalam proses pencarian, tim bahkan terpaksa menggunakan bahan peledak untuk menembus material yang menutup terowongan. Metode tersebut biasanya dihindari karena berisiko membahayakan korban yang mungkin masih berada di dalam.
Bencana banjir bandang yang melanda kawasan Nepal-Tibet ini diyakini berkaitan dengan runtuhnya gletser di kawasan Himalaya. Derasnya aliran air dan material menghancurkan bangunan, jalan, jembatan, serta sejumlah fasilitas di wilayah terdampak.
Data terakhir yang dirilis Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB) RI, jumlah korban tewas akibat bencana banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, berjumlah 1.204 orang dan 140 orang hilang.
Selain itu, bencana Sumatera ini menyebabkan 247.949 rumah rusak. Kerusakan juga terjadi pada 4.546 fasilitas pendidikan, 803 rumah ibadah, 215 fasilitas kesehatan, 866 jembatan, dan 2.165 jalan.
Namun, kedua bencana memiliki karakteristik dan konteks geografis yang berbeda. Di Nepal-Tibet, bencana terjadi di kawasan Himalaya dan diyakini berkaitan dengan runtuhnya gletser. Material dalam jumlah besar kemudian memicu aliran air dan longsoran yang menerjang kawasan di sepanjang Sungai Trishuli.
Dampaknya tidak hanya menghancurkan permukiman, jalan dan jembatan. Sejumlah pekerja juga terjebak di dalam terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air.
Kondisi geografis menjadi tantangan tersendiri bagi tim penyelamat. Salah satu pintu masuk terowongan bahkan tertimbun material longsoran hingga tidak lagi terlihat dari permukaan.
Tim penyelamat harus menggunakan data satelit untuk menemukan kembali lokasi pintu masuk. Lumpur dan batu berukuran sangat besar kemudian menghambat proses evakuasi.
Situasi tersebut memperlihatkan bagaimana karakter bencana di kawasan pegunungan dapat menciptakan perangkap maut dalam hitungan menit.
Di Sumatera, ancaman banjir bandang dan longsor memiliki karakter yang berbeda. Sejumlah wilayah memiliki kawasan pegunungan dengan kemiringan lereng tinggi, sementara permukiman dan infrastruktur berkembang di sepanjang lembah serta daerah aliran sungai.
Ketika hujan ekstrem terjadi, material longsoran dapat terbawa ke bagian hilir dan berubah menjadi banjir bandang dengan daya rusak tinggi.
Karena itu, persoalan tidak berhenti pada curah hujan. Kondisi daerah aliran sungai, tutupan lahan, stabilitas lereng, tata ruang, hingga keberadaan permukiman di kawasan rawan turut menentukan besarnya dampak.
Perbandingan dengan Nepal-Tibet menjadi penting karena menunjukkan bahwa korban jiwa dalam bencana tidak hanya ditentukan oleh besarnya hujan atau volume air.
Medan geografis, sistem peringatan dini, kesiapan masyarakat, kualitas infrastruktur, serta kecepatan evakuasi menjadi faktor yang menentukan apakah sebuah peristiwa alam berubah menjadi bencana kemanusiaan.
Ribuan Orang Hilang Menjadi Persoalan Terbesar
Salah satu kesamaan paling mencolok adalah persoalan orang hilang.
Di Nepal dan Tibet, 5.339 orang masih belum diketahui keberadaannya sembilan hari setelah banjir bandang. Angka tersebut membuat proses pencarian menjadi pekerjaan kemanusiaan sekaligus tantangan logistik yang luar biasa.
Kondisi serupa juga menjadi persoalan utama dalam bencana besar di Sumatera. Ketika banjir bandang dan longsor menerjang permukiman, korban dapat terseret arus, tertimbun material longsoran, atau terisolasi akibat terputusnya akses jalan. Akibatnya banyak korban hilang di awal bencana datang.
Pencarian korban akhirnya bukan hanya soal menemukan mereka yang masih hidup, tetapi juga memastikan identitas korban meninggal dan memberikan kepastian kepada keluarga.
Kisah dua pekerja yang berhasil diselamatkan dari terowongan Trishuli 3A menunjukkan bahwa harapan tetap ada bahkan setelah bencana berlangsung berhari-hari.
Kabir Maharjan dan Sanjaya Shah ditemukan hidup setelah tim penyelamat menembus terowongan yang tertutup lumpur dan bebatuan. Penyelamatan tersebut menjadi pengingat bahwa dalam operasi pencarian korban, setiap lokasi yang belum diperiksa masih menyimpan kemungkinan adanya korban selamat.
Pelajaran untuk Indonesia
Tragedi Nepal-Tibet dan berbagai bencana banjir bandang di Sumatera memberikan satu pesan penting: mitigasi tidak dapat dimulai ketika air sudah datang.
Pemetaan kawasan rawan, pemantauan sungai dan lereng, sistem peringatan dini, jalur evakuasi, serta edukasi masyarakat harus berjalan sebelum bencana terjadi.
Di wilayah dengan risiko longsor tinggi, keberadaan permukiman dan infrastruktur juga perlu terus dievaluasi. Pembangunan yang mengabaikan karakter alam dapat memperbesar risiko ketika terjadi cuaca ekstrem.
Bagi Indonesia, pengalaman Nepal-Tibet juga memperlihatkan pentingnya kesiapan menghadapi skenario terburuk, termasuk ketika akses menuju lokasi bencana terputus dan korban berada di ruang tertutup seperti terowongan.
Pada akhirnya, perbedaan geografis antara Himalaya dan Sumatera tidak mengubah satu kenyataan: ketika peringatan dini gagal diantisipasi dan masyarakat tidak memiliki cukup waktu untuk menyelamatkan diri, sebuah fenomena alam dapat berubah menjadi tragedi dengan korban dalam jumlah besar.
Dan ketika ribuan orang masih dinyatakan hilang, ukuran sebenarnya dari sebuah bencana belum selesai dihitung.