Gerakan Nurani Bangsa Sebut Banjir Sumatera Dipicu Keserakahan Manusia
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Gerakan Nurani Bangsa menyampaikan duka cita mendalam atas bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera sejak akhir November 2025. Bencana hidrometeorologi itu menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar serta kerusakan masif di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Menurut data Rekapitulasi Terdampak Bencana dari Dashboard Penanganan Darurat Banjir dan Longsor Sumatera Tahun 2025 yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Rabu (3/12/2025) pagi tercatat 753 orang meninggal dunia, 650 orang hilang, dan 2.600 warga luka-luka. Bencana tersebut berdampak pada sedikitnya 50 kabupaten/kota, merusak ribuan rumah serta melumpuhkan berbagai fasilitas umum.
Sementara itu, data BNPB per 2 Desember 2025 pukul 23.28 WIB menunjukkan terdapat 3,3 juta warga terdampak, dengan 1,1 juta orang di antaranya terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Dalam keterangan tertulis yang diterima pada Kamis (4/12/2025), Gerakan Nurani Bangsa menilai bencana yang terjadi merupakan cerminan atas kebodohan, ketidakpedulian, dan keserakahan manusia terhadap kelestarian alam.
“Kekayaan alam Indonesia adalah anugerah Tuhan yang harus dikelola secara arif dan bijaksana, demi kepentingan hari ini maupun generasi mendatang,” tulis pernyataan tersebut.
Melihat skala kerusakan dan dampak kemanusiaan yang luas, Gerakan Nurani Bangsa mendesak pemerintah untuk mengambil langkah cepat dan terintegrasi dalam penanganan darurat. Organisasi itu menilai tragedi di Sumatera sudah layak ditetapkan sebagai Bencana Nasional agar mobilisasi sumber daya bisa dilakukan secara lebih komprehensif dan terpusat.


















