KOTA GAZA, (ERAKINI) - Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa setidaknya 24 warga Palestina meninggal dunia akibat serangan udara Israel yang terjadi pada Rabu (4/2/2026). Serangan ini berlangsung setelah militer Israel menyatakan seorang perwira mereka mengalami luka berat akibat tembakan dari pihak lawan.
Peristiwa tersebut kembali menegaskan rapuhnya situasi keamanan di Jalur Gaza. Meski kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat telah memasuki fase lanjutan sejak bulan lalu, eskalasi kekerasan tidak sepenuhnya mereda. Israel dan Hamas saling menuding sebagai pihak yang melanggar komitmen perdamaian.
Serangan terbaru ini terjadi tak lama setelah Israel membuka kembali sebagian akses penyeberangan Rafah, perbatasan Gaza–Mesir yang menjadi satu-satunya jalur keluar masuk wilayah Palestina tanpa melewati Israel secara langsung.
Otoritas kesehatan Gaza menyebutkan bahwa dari rangkaian serangan tersebut, 21 orang tewas, termasuk tiga anak, sementara sedikitnya 38 orang lainnya mengalami luka-luka. Badan pertahanan sipil menambahkan bahwa dua korban jiwa lainnya ditemukan setelah sebuah tenda pengungsian di wilayah tengah Gaza dihantam serangan, dengan delapan orang mengalami cedera. Serangan terpisah di kawasan barat Kota Gaza juga dilaporkan merenggut nyawa seorang warga sipil.
Militer Israel menyatakan bahwa operasi udara tersebut dilakukan sebagai respons atas tembakan yang diarahkan kepada pasukannya, yang menyebabkan seorang perwira Israel terluka parah. Namun, Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah menyatakan kemarahan mendalam atas tewasnya seorang paramedis yang tengah bertugas, Hussein Hassan Hussein Al-Samiri, dalam serangan di kawasan Al-Mawasi, Gaza selatan.
Dalam keterangan resminya, militer Israel mengklaim salah satu sasaran utama serangan di Gaza selatan adalah Bilal Abu Assi, komandan peleton Hamas yang disebut terlibat dalam serangan ke sebuah kibbutz Israel pada 7 Oktober 2023, yang memicu pecahnya perang Gaza. Israel juga mengakui adanya laporan korban sipil, termasuk tenaga medis, seraya menyatakan telah mengambil langkah-langkah untuk menekan dampak terhadap warga nonkombatan.
Selain itu, Israel menyebut serangan mereka turut menewaskan Ali Raziana, yang diklaim sebagai komandan Brigade Gaza Utara dari kelompok Jihad Islam, serta Muhammad Issam Hassan Al-Habil, anggota Hamas yang dituduh terlibat dalam pembunuhan tentara Israel Noa Marciano saat disandera pada Oktober lalu.
Kesaksian warga menggambarkan suasana horor yang terjadi di lapangan. Seorang warga Kota Gaza, Abu Mohammed Haboush, menceritakan bahwa keluarganya sedang terlelap ketika ledakan dan tembakan menghantam permukiman mereka secara tiba-tiba. Ia mengatakan anaknya dan keponakannya termasuk di antara korban tewas. “Kami kehilangan banyak generasi muda. Anak-anak kecil menjadi korban, dan keluarga kami porak-poranda,” tuturnya lirih.
Rumah Sakit di Ambang Krisis
Gambar-gambar dari lapangan memperlihatkan suasana duka mendalam di kompleks Rumah Sakit Al-Shifa, tempat para pelayat memanjatkan doa di samping jenazah yang terbungkus kain kafan putih. Badan pertahanan sipil melaporkan bahwa tiga jenazah lainnya dibawa ke Rumah Sakit Nasser setelah serangan menghantam rumah dan tenda pengungsi di kawasan Khan Yunis, Gaza selatan.
Direktur Rumah Sakit Al-Shifa, Mohamed Abu Salmiya, menyatakan bahwa sedikitnya 14 jenazah diterima di rumah sakit tersebut. Ia menambahkan bahwa puluhan korban luka terus berdatangan, sementara fasilitas kesehatan menghadapi kondisi genting akibat kelangkaan obat-obatan dan peralatan medis.
Israel tetap memberlakukan pengawasan ketat terhadap seluruh bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza. Meski penyeberangan Rafah kembali dibuka pada Senin lalu, akses hanya diperbolehkan bagi pasien dan pendampingnya. Data Bulan Sabit Merah Palestina mencatat bahwa pada Selasa, 45 orang berhasil menyeberang ke Mesir, sementara 42 orang kembali memasuki Gaza.
Tangis dan Pelukan di Perbatasan
Kepulangan warga dari Mesir disambut dengan pelukan, air mata, dan luapan emosi keluarga yang menanti. Seorang perempuan bernama Fariza Barabakh mengaku bersyukur bisa kembali berkumpul dengan orang-orang terkasih dan menginjakkan kaki di tanah kelahirannya.
Hal serupa diungkapkan Yusef Abu Fahma, pengungsi lain yang kembali ke Gaza. Ia mengatakan dua anaknya yang masih kecil sempat tidak mengenalinya, namun rasa syukur tetap mengalahkan segalanya.
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat bahwa sejak gencatan senjata diberlakukan pada 10 Oktober, sedikitnya 556 warga Palestina tewas akibat serangan Israel. Sementara itu, militer Israel menyebut empat tentaranya gugur dalam periode yang sama. Pembatasan keamanan serta akses media yang ketat di Gaza membuat jurnalis internasional, termasuk AFP, tidak dapat memverifikasi angka korban secara independen maupun meliput konflik secara bebas.