Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada hari Senin (20/7/2026) mengatakan bahwa negaranya sedang terlibat dalam "perang skala penuh" dengan AS. (Foto: AFP).
TEHERAN, (ERAKINI) – Presiden IranMasoud Pezeshkian menyatakan bahwa negaranya saat ini tengah menghadapi apa yang ia sebut sebagai “ skala penuh” dengan . Di tengah memanasnya konflik militer dan meningkatnya tekanan ekonomi, Pezeshkian menegaskan bahwa rakyat harus bersiap menghadapi konsekuensi dari perlawanan yang sedang berlangsung.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan para pejabat kehakiman di Teheran pada Senin (20/7/2026). Menurutnya, situasi yang dihadapi Republik Islam Iran saat ini menuntut sikap realistis dari seluruh elemen bangsa. "Kenyataannya adalah bahwa saat ini Republik Islam Iran sedang terlibat dalam perang skala penuh," ujar Pezeshkian sebagaimana dikutip dalam pernyataan resmi kepresidenan Iran.
Ia menambahkan bahwa tekanan dan pengorbanan yang muncul akibat konflik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya mempertahankan negara. "Kita harus bersikap realistis dan menerima konsekuensi wajar dari perlawanan ini," tegasnya.
Meski pertempuran militer terus berlangsung, Pezeshkian menilai medan perjuangan yang paling menentukan saat ini justru berada di sektor ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, keberlangsungan negara tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh kemampuan menjaga stabilitas sosial dan ekonomi di dalam negeri. "Medan pertempuran terpenting saat ini adalah ekonomi dan penghidupan masyarakat" kata Pezeshkian.
Presiden Iran memperingatkan bahwa tekanan ekonomi yang semakin berat berpotensi memicu ketidakpuasan publik. Jika kondisi tersebut tidak dapat dikelola dengan baik, ia khawatir dukungan masyarakat terhadap negara akan mengalami erosi. "Jika tekanan ekonomi memicu timbulnya ketidakpuasan sosial dan ketidakpuasan itu meluas, modal sosial yang sangat besar yang telah dibangun oleh rakyat untuk mendukung negara bisa jadi akan rusak," ujarnya.
Pernyataan itu muncul di tengah memburuknya kondisi ekonomi Iran akibat konflik yang berkepanjangan. Pada Juni lalu, tingkat inflasi tahunan dilaporkan melonjak hingga mendekati 90 persen, salah satu angka tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Kenaikan harga kebutuhan pokok, melemahnya nilai mata uang, serta terganggunya aktivitas perdagangan menjadi tantangan besar bagi pemerintah di Teheran.
Hingga kini, data resmi mengenai tingkat inflasi untuk Juli 2026 belum dirilis. Namun, sejumlah pengamat memperkirakan tekanan terhadap perekonomian Iran masih akan berlanjut selama konflik dengan Amerika Serikat belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Kondisi ekonomi yang memburuk juga mengingatkan publik pada gelombang demonstrasi besar yang terjadi pada akhir Desember lalu. Aksi yang awalnya dipicu oleh tingginya biaya hidup dan kesulitan ekonomi tersebut kemudian berkembang menjadi protes anti-pemerintah yang meluas di berbagai wilayah Iran.
Puncak demonstrasi terjadi pada 8 dan 9 Januari, ketika ribuan warga turun ke jalan untuk menyuarakan ketidakpuasan terhadap kondisi sosial dan ekonomi yang mereka hadapi.
Pemerintah Iran saat itu melaporkan lebih dari 3.000 orang tewas dalam rangkaian kerusuhan dan bentrokan yang terjadi. Otoritas setempat menuding kekerasan tersebut dipicu oleh aksi terorisme yang didukung pihak asing, khususnya Amerika Serikat dan Israel.
Namun, sejumlah organisasi hak asasi manusia dan lembaga pemantau yang berbasis di luar negeri menyebut jumlah korban kemungkinan jauh lebih tinggi dibandingkan angka resmi yang disampaikan pemerintah.
Di tengah situasi yang semakin kompleks, pernyataan Pezeshkian menegaskan bahwa tantangan terbesar Iran saat ini bukan hanya menghadapi tekanan militer dari luar, tetapi juga menjaga ketahanan ekonomi dan stabilitas sosial di dalam negeri. Bagi Teheran, dukungan rakyat menjadi faktor krusial dalam menghadapi konflik yang kini disebut sebagai perang terbuka dengan Amerika Serikat.