Pemandangan kapal Penjaga Pantai Amerika Serikat (U.S. Coast Guard) di dekat Laut Bering, Alaska. Foto: U.S. Coast Guard Arctic/Facebook
JAKARTA, (ERAKINI) – Derek Parker Aghnaanga, remaja berusia 15 tahun, berhasil selamat setelah bertahan selama beberapa hari di Laut Bering, Samudera Pasifik, dengan berpegangan pada kapal mereka yang terbalik. Derek bersama kakak dan sepupunya sebelumnya dilaporkan hilang kontak setelah kapal yang mereka naiki tak kunjung kembali.
Dikutip dari Minggu (13/9/2026), Aghnaanga ditemukan dalam kondisi mengalami hipotermia pada Senin (7/9), setelah tim penyelamat melakukan pencarian sejak kapal yang ditumpanginya bersama kakaknya, Sidney Kulowiyi (35); dan sepupunya tidak kunjung kembali ke St Lawrence Island, Alaska.
Ketiganya berlayar pada Jumat (4/9) untuk menangkap ikan halibut dan dijadwalkan kembali sekitar pukul 03.00 pada Minggu (6/9). Namun, kapal mereka tidak kunjung tiba sehingga keluarga di Savoonga melaporkan hilangnya ketiganya kepada Alaska State Troopers.
US Coast Guard kemudian memulai operasi pencarian setelah menerima laporan tersebut pada Minggu malam. Operasi melibatkan Alaska Air National Guard, pejabat lokal Savoonga, Alaska Rescue Coordination Center, serta sejumlah organisasi lainnya.
Pencarian sempat terkendala kabut tebal yang menyelimuti wilayah tersebut. Tim penyelamat baru dapat melanjutkan operasi pada Senin pagi setelah kondisi cuaca membaik.
Sekitar pukul 10.30 waktu setempat, US Coast Guard menemukan Aghnaanga berada di atas lambung kapal terbalik. Remaja itu mengenakan jaket kuning dan berada dalam kondisi lemah akibat paparan suhu dingin selama berhari-hari.
US Coast Guard sebelumnya menjatuhkan sejumlah rakit tiup di sekitar lokasi. Namun, Aghnaanga terlalu lemah untuk berenang menuju rakit karena mengalami hipotermia.
Petugas kemudian meminta bantuan kapal nelayan Northwest Explorer yang berada di sekitar lokasi. Kapal tersebut membawa 13 kru, termasuk ilmuwan dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).
Kapten Northwest Explorer, Adam White, mengatakan kapalnya berjarak sekitar 39 mil dari lokasi Aghnaanga dan membutuhkan waktu empat jam untuk mencapai posisi remaja tersebut.
“Itu adalah empat jam terlama dalam hidup saya,” kata White kepada The New York Times.
Setibanya di lokasi, kru kapal melemparkan tali kepada Aghnaanga dan menariknya ke atas kapal. Mereka kemudian mengevakuasi jenazah kakak dan sepupunya.
Ibu Aghnaanga mengatakan, putranya bertahan hidup dengan terus berpegangan pada kapal yang terbalik tersebut. Adapun Kulowiyi, yang merupakan kakak Aghnaanga sekaligus kapten kapal, meninggal setelah terjebak di bawah kapal. Sementara sepupu mereka meninggal pada Minggu.
Bertahan dalam Kondisi Ekstrem
White mengaku kagum dengan kemampuan remaja itu bertahan hidup dalam kondisi ekstrem. “Ini sulit dipercaya. Ini luar biasa,” kata White kepada KTUU. “Cuacanya dingin. Suhu air mencapai 10 derajat Celsius,” ujarnya.
White menambahkan, Aghnaanga bertahan di atas kapal yang terbalik sejak Sabtu hingga akhirnya ditemukan dan diselamatkan pada Senin. Artinya, Aghnaanga bertahan di laut selama tiga hari.
Penyebab kapal tersebut terbalik masih belum diketahui. Menurut White, Aghnaanga sempat memberitahunya bahwa kakaknya masih berada di bawah kapal. Aghnaanga juga mengatakan sepupunya terlepas dari bagian atas kapal pada malam sebelum penyelamatan.
Bibi kedua bersaudara tersebut, Collen Walker, menyebutkan, keluarga mengikuti proses penyelamatan melalui siaran radio. Ibu Aghnaanga mendengarkan perkembangan operasi tersebut, sementara anggota keluarga lainnya berkumpul mengelilingi sebuah telepon.
Keluarga pun langsung menangis dan bersorak ketika kapten kapal mengumumkan bahwa Aghnaanga ditemukan dalam keadaan hidup.
Keluarga mengenang Kulowiyi sebagai kapten kapal penangkap ikan komersial yang rendah hati dan penyayang. Menurut Walker, Kulowiyi juga menjadi figur ayah bagi Aghnaanga setelah ayah mereka meninggal ketika keduanya masih kecil.
“Begitulah cara kami hidup di komunitas kami. Kami saling menjaga,” ujar Walker kepada Associated Press.
Setelah diselamatkan, Aghnaanga dibawa ke atas Northwest Explorer. Kru memeriksa suhu tubuhnya dan menyelimutinya untuk menjaga kondisi tubuhnya tetap hangat.
Kapal tersebut kemudian tiba di Nome, Alaska, pada Selasa (8/9) pagi, setelah menempuh perjalanan lebih dari 100 mil dari lokasi penyelamatan.
Ibu Aghnaanga menyebut putranya sebagai seorang penyintas melalui unggahan di media sosial. Keluarga kemudian membuat halaman penggalangan dana GoFundMe untuk membantu Aghnaanga setelah insiden tersebut.