Nama Angelina Veni Johanna mungkin belum begitu dikenal luas masyarakat Tanah Air. Padahal, Veni salah satu talenta teknologi Indonesia yang berkarier moncer di Amerika Serikat. Foto: Ist
Selain karier profesionalnya, Veni juga aktif berkontribusi bagi komunitas Indonesia. Sejak 2012, ia menjadi co-founder sekaligus anggota dewan Indonesia Mengglobal, organisasi nirlaba yang membantu masyarakat Indonesia belajar, bekerja, dan berkontribusi di luar negeri.
Dirangkum Erakini, Jumat (21/11/2025), Veni meraih gelar Bachelor of Science (BS) dan Magister Sains (MS) di bidang Ilmu Komputer dari Stanford University, AS, salah satu kampus teknologi terbaik dunia. Semasa kuliah, ia turut mendirikan komunitas Indonesia Mengglobal.
Perjalanan Karier
Perjalanan karier profesional Veni sudah berlangsung lebih dari satu dekade, dan terus berkembang hingga memegang peran strategis di perusahaan teknologi global.
Sebelum meniti karier penuh waktu, Veni sempat magang di Facebook pada tahun 2011 saat masih kuliah. Di sana, ia merancang dan mengimplementasikan sistem propagasi berkas konfigurasi berlatensi rendah, sebuah proyek teknis kompleks yang menunjukkan kapabilitasnya sejak awal.
Karier profesional dimulai dari Quora, salah satu platform startup cukup ternama di AS. Selama hampir tujuh tahun di Quora, Veni menempati sejumlah posisi strategis. Veni bergabung dengan Quora sebagai Staff Software Engineer (2014–2017). Di posisi ini Veni memimpin upaya besar internasionalisasi, mengubah Quora dari platform berbahasa Inggris menjadi layanan global yang tersedia dalam bahasa Spanyol, Prancis, hingga lebih dari 20 bahasa lainnya.
Kariernya mulai menanjak. Veni naik menjadi Engineering Manager (2017–2019). Ia memimpin tim yang menangani produk internasional, pertumbuhan, kualitas konten, engagement, hingga mobile. Ia juga sempat menangani infrastruktur inti.
Berkat kinerjanya, Veni pun dipercaya sebagai Director of Engineering (2019–2021). Ia memimpin organisasi Foundation dengan fokus pada peningkatan keandalan produk, performa situs, dan efisiensi pengembangan lintas fungsi.
Pada Mei 2021 Veni pun memulai petualangan baru di Asana, salah satu perusahaan perangkat lunak terkemuka San Francisco. Di perusahaan ini, ia fokus meningkatkan kualitas produk secara menyeluruh, mulai dari aksesibilitas, performa, desain sistem, hingga pengurangan bug.
Veni juga berperan penting dalam mempercepat proses pengembangan melalui optimalisasi berbagai developer tools. Ia melapor langsung kepada Head of Engineering dan menjadi bagian dari pengambilan keputusan strategis perusahaan. Veni menjabat sebagai Direktur Engineering Asana hingga Januari 2025
Dikutip dari situs web jaringan sosial LinkedIn, Veni mengaku saat ini sedang beristirahat untuk memulihkan energi dan menghabiskan waktu berharga di kampung halaman, Indonesia. "Saya berencana kembali ke San Francisco/Bay Area, tetapi saya belum berencana mempertimbangkan peluang baru hingga pertengahan atau akhir 2025," katanya.
Perempuan Pertama Wakil Indonesia di IOI
Dikutip dari situs resmi Indonesia Mengglobal, Veni yang lahir dan besar di Jakarta mengaku sudah tertarik pada komputer sejak kecil. Saat duduk di kelas 5 SD, ia bahkan telah mempelajari dasar-dasar pemrograman.
Meski beberapa teman menganggap komputer sebagai “dunia laki-laki”, Veni tidak surut langkah. Ketertarikannya justru semakin kuat saat SMA. Saat masih duduk di bangku SMA, Veni pun mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang mewakili Indonesia di ajang Olimpiade Internasional Informatika (International Olympiad in Informatics/IOI).
Keseriusannya di bidang teknologi berlanjut ke jenjang pendidikan tinggi. Lulus dari SMAK 1 BPK Penabur Jakarta, Veni melanjutkan studi S1 dan S2 di program Computer Science di Stanford University. “Saat itu (sekitar tahun 2012) belum banyak mahasiswa Indonesia yang belajar di universitas-universitas ternama di Amerika Serikat,” kenang Veni.
Padahal, menurut Veni, belajar di luar negeri dapat membuka wawasan, mengenalkan kultur dan cara berpikir yang berbeda, serta memberi manfaat jangka panjang, bukan hanya bagi diri sendiri tetapi juga untuk Indonesia.
Berangkat dari semangat itulah, Veni bersama Martin, Donny, dan Stevia mendirikan Indonesia Mengglobal, sebuah platform yang memberikan akses informasi berkualitas tentang studi dan karier global secara mudah dan gratis.
Tantangan Berkarier di Luar Negeri
Sebagai seorang software engineer di industri yang masih didominasi laki-laki, Veni mengungkapkan bahwa ia tidak pernah mengalami diskriminasi yang gamblang selama kuliah di Stanford maupun bekerja di Quora dan Asana. Ia menilai lingkungan sekolah dan perusahaan top di Amerika Serikat cenderung mendukung, egaliter, dan menghargai kemampuan.
Namun, saat bersosialisasi di luar pekerjaan, ia beberapa kali merasakan micro-aggression. Ada orang-orang yang meremehkan atau tidak langsung berinteraksi dengannya, meski posisi Veni berada di level manajerial yang lebih tinggi. Selain itu, gaya kepemimpinan di Amerika Serikat yang sangat “direct” atau langsung juga bisa menjadi tantangan bagi sebagian perempuan, terutama mereka yang berasal dari budaya yang lebih “indirect”, cenderung halus, atau sangat hierarkis.
Meski begitu, Veni percaya bahwa siapa pun dapat beradaptasi dengan baik jika memahami diri sendiri dan lingkungan tempatnya berada. Veni punya pesan untuk srikandi Indonesia yang ingin belajar dan berkarier di luar negeri. “We can do it! Dengan usaha dan niat, kita bisa,” ujar Veni.
Ia juga menekankan pentingnya memahami motivasi pribadi. Menurut Veni, mengetahui alasan yang jelas akan membantu proses tetap terarah dan tujuan benar-benar tercapai, bukan sekadar ikut-ikutan.