MAKKAH, (ERAKINI) - Selalu ada cerita menarik dibalik keberangkatan umat Islam ke Tanah Suci. Keinginan kuat memenuhi panggilan suci menjadi kunci ikhtiar lahir batin agar impian tersebut bisa benar-benar terjadi.
Seperti yang dialami Halifah, pedagang kantin SD asal Gowa ini tak kuasa menahan tangis ketika waktu keberangkatan ke Makkah tiba.
Bicara soal haji, ayah dan ibu Halifah tak pernah berhaji. Begitu pula kakek neneknya. Tak ada riwayat leluhur ke Tanah Suci. Mungkin mereka bukan tak ingin, tapi memang tak kuasa. Tak aneh jika mereka tak mewariskan harta kepada anak cucunya.
Namun, entah kenapa Halifah selalu ingin berhaji. Mungkin karena leluhurnya tak ada yang pernah berhaji sehingga hal itu jadi motivasi. Dia sendiri tak kuasa menjelaskannya karena keinginan berhaji tumbuh dan berkecambah sedari remaja.
Saat itu, ada hal yang tak kuasa ditolaknya, tiba-tiba air mata meleleh jika ada tetangga berhaji.
“Hatiku selalu sedih, sedih dan menangis melihat tetangga berhaji. Kapan saya naik haji?” ungkap jamaah haji asal Gowa, Sulawesi Selatan tersebut.
"Saya bukan pingin, tapi pingin sekali naik haji,” lanjutnya ditemui tim Media Center Haji di pondokannya di sebuah hotel di Sektor 3 Wilayah Syisyah, Kota Makkah, Rabu (06/05/2026) dengan terbata-bata seraya tiba-tiba sudut matanya melelehkan air mata.
Namun, impian berhaji sedari remaja itu pada akhirnya terselip, tersisih, terkucil, dalam kesibukan menjalani kehidupannya sebagai istri, ibu, dan kini sebagai nenek dari 6 cucu. Meski demikian, impian itu tak pernah mati, hanya berdamai dengan keadaan. Ia tersimpan dalam-dalam untuk sesekali muncul, diperjuangkan diam-diam, pelan-pelan. Lalu dipelihara dalam doa, diasuh kepasrahan selepas sembahnyangnya.
Halifah sehari-hari hanyalah pedagang kecil di Sekolah Dasar dekat rumahnya. Dia berjualan dari pagi sampai siang. Kemudian dia tetap berjualan di tempat yuang sama, untuk anak-anak yang belajar di kelas sore.
Dari sisa uang makan yang disisihkannya setiap hari, Halifah menabung pelan-pelan. Setelah terkumpul 25 juta, dia mendaftar haji pada usia 45 tahun. Dia masih ingat hari itu tanggal 27, bulan 1, tahun 2011. Dia naik pete-pete di rumahnya ke sebuah bank dan mendapatkan nomor porsi.
Impian Dari Kantin SD
Setiap hari, kehidupan Halifah nyaris tak berubah selama bertahun-tahun. Pagi-pagi sekali dia sudah berada di lingkungan sekolah. Menyiapkan makanan, minuman, buah-buahan, hingga kopi untuk guru atau tamu sekolah. Meski bukan tugasnya, dia sering membantu membersihkan sekitaraan sekolah, membuang sampah, dan memastikan lingkungan sekolah tetap nyaman bagi anak-anak.
“Di situlah hidup,” katanya sederhana.
Penghasilan total sekitar Rp5 juta per bulan—kadang lebih, kadang kurang. Namun, dari penghasilan itulah hidup banyak orang bertumpu. Halifah tak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga anak-anak dan cucu-cucunya.
Dia memang tak pernah menamatkan sekolah dasar. Akan tetapi, pengalaman hidup membuatnya percaya bahwa kemiskinan hanya bisa dilawan dengan pendidikan. Karena itu, kepada anak dan cucunya dia selalu mengulang kalimat yang sama.
“Kita itu miskin, harus sekolah tinggi-tinggi.”
Kalimat itu bukan sekadar nasihat, melainkan pengalaman hidup yang diperas dari kerja keras puluhan tahun.
Halifah memiliki dua anak laki-laki dan enam cucu—empat laki-laki dan dua perempuan. Cucu pertamanya kini kuliah keperawatan, sesuatu yang paling membuatnya bangga. Hampir setiap hari ia menyisihkan uang jajan untuk mereka: Rp30 ribu sampai Rp50 ribu untuk yang kuliah, Rp20 ribu untuk yang SMP dan SMA, serta Rp10 ribu untuk yang masih SD.
“Cucu-cucu dibantu semuanya,” katanya pelan.
Anak-anaknya bekerja seadanya. Anak pertama mencari nafkah dengan menjadi seorang gere atau tukang ojek. Sementara anak yang kedua bekerja sebagai tukang dekorasi pengantin. Dalam keadaan seperti itu, Halifah tetap menjadi penyangga keluarga.
Sementara suaminya sendiri sebagai kepala keluarga dalam kondisi sakit-sakitan. Bahkan lima tahun terakhir ini, kondisinya semsakin memburuk. Berat badannya turun dari semula sekitar 80 kilogram menjadi 55 kilogram.
“Sakit gondok beracun, sudah 16 kali ke dokter,” kenangnya.
Meski demikian, Halifah tetap menjalani sebagai ibu kantin dari pagi sampai sore. Tidak ada pilihan lain selain bertahan hidup dan menjaga keluarganya tetap berjalan.
Rahasia dalam Lipatan Baju
Namun, di balik seluruh kesibukan dan beban hidup itu, Halifah menyimpan satu rahasia yang bahkan tak diketahui keluarganya sendiri: dia menabung untuk berhaji. Sedikit demi sedikit uang disisihkan, lalu disimpan di lipatan baju.
“Nabung diam-diam dalam lipatan baju, bertahun-tahun, Ji. Nabung sisa dari sisa makan, Ji,” katanya.
Dia mengaku sengaja merahasiakannya.
“Kalau suami dan anak-anak tahu, banyak pengaruh.”
Bertahun-tahun menabung, Halifah membuka rahasia hidupnya dengan mengumpulkan seluruh keluarga, menyampaikan bahwa dirinya akan berangkat haji. Anak cucu dan suami kaget bukan main. Namun, semua tak ada yang menyalahkannya, melainkan menangis haru secara berjamaah.
Saat walimatus shafar dan keberangkatan tiba, rumahnya dipenuhi tetangga yang datang mengantar. Sekali lagi anak-anak cucu dan suaminya menangis. Sementara Halifah sendiri tak mampu membendung air mata. Begitu pula ketika sampai Tanah Suci Makkah, air mata haru tak bisa bisa ditahannya.