JAKARTA, (ERAKINI) – Persahabatan sejati tak lekang oleh waktu. Waktu boleh berlalu, jabatan boleh berbeda, tetapi ikatan persahabatan tetap terasa sama.
Itulah yang dialami oleh tiga alumni SMA Taruna Nusantara tahun 1997 (TN 5) yang kini sukses berkarier di bidang masing-masing. Setelah puluhan tahun berjalan di lintasan hidup yang berbeda, tiga sahabat lama ini akhirnya kembali bertemu. Tapi pertemuan emosional ini bukan di acara reuni, melainkan di sela perhelatan World Economic Forum (WEF) 2026, Davos, Swiss, Jumat (23/1/2026).
Ketiganya adalah Menteri Luar Negeri Sugiono, Atase Darat KBRI Paris Kolonel Arm Aji Nugroho, dan Asisten Khusus Presiden Agung Gumilar Saputra.
Persahabatan mereka bermula di bangku SMA Taruna Nusantara pada 1994–1997. Tiga tahun yang bukan hanya tentang pelajaran dan latihan disiplin, tetapi juga tentang kebersamaan, saling menguatkan, serta menanamkan nilai pengabdian.
Usai lulus, jalan hidup kembali mempertemukan mereka sebagai mahasiswa perantau di Amerika Serikat pada 1997–2001. Sugiono dan Aji Nugroho menempuh penddikan di Norwich University, sedangkan Agung Gumilar di Virginia Military Institute.
Tahun 2002 menjadi tonggak penting berikutnya. Ketiganya dilantik bersama sebagai perwira TNI Angkatan Darat melalui jalur Sekolah Perwira Prajurit Karir (Sepa PK). Setelah itu, takdir membawa mereka ke jalur yang berbeda: diplomasi, pertahanan, hingga kebijakan nasional. Namun benang persahabatan mereka tak pernah putus.
Di sela WEF Davos 2026, tiga sahabat ini akhirnya berjumpa lagi. Banyak cerita lama kembali terbuka. Kenangan masa pendidikan, perjuangan merintis karier, hingga dinamika hidup dan kehidupan. Tawa pun pecah, menghapus jarak waktu yang memisahkan.
Persahabatan dan pengabdian mereka mirip kisah The Three Musketeers karya Alexander Dumas (1844). Dalam novelnya, Alexander Dumas berkisah tentang sosok tiga prajurit elite yang bahu membahu di medan perjuangan. Mereka adalah Arthos, Porthos, dan Aramis.
Masing-masing memiliki karakter yang berbeda, cara berfikir yang tak selalu sama, dan jalan hidup yang kadang tak senada. Namun justru di situlah kekuatannya. Perbedaan tidak memisahkan, melainkan saling melengkapi.
Itulah pula yang terjadi pada "three musketeers" kebanggaan TN 5 ini. Mereka kini berada di lintasan yang berbeda, tetapi tetap satu napas perjuangan, yakni demi kemajuan Bangsa Indonesia.