Febriana, salah satu peserta Pelatihan Guru dan Kepala Madrasah di Daerah 3T yang digelar Kemenag di Batam (Foto: Ahdori/Erakini)
BATAM, (ERAKINI) - Febriana, seorang guruMadrasah Ibtidaiyah Darul Ulum di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau mengikuti program Pelatihan Guru dan Kepala Madrasah untuk Daerah Angkatan I yang digelar Kementerian Agama () di Kota , Kepulauan Riau sejak Senin (7/8/2024) dan akan berakhir pada Jumat (12/7/2024) mendatang.
Sebelum dinyatakan bisa mengikuti program tersebut, ia harus mempelajari terlebih dahulu apa yang ingin dicapai dari pelatihan tersebut. Setelah mempelajarinya, Febriana lalu berangkat ke Kota Batam, dengan harapan bisa mengais pengetahuan baru soal bagaimana menciptakan kreativitas pembelajaran di abad ke-21.
Febriana yang juga guru matematika di MI swasta ini, mengaku terkesan dengan para narasumber yang dihadirkan Kemenag pada acara pelatihan tersebut. Menurut dia, banyak ilmu pengetahuan yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya. Terlebih, ujar Febriana, pelatihan tersebut merupakan pertama kali bagi dirinya selama menjadi gurumadrasah.
“Kami yang di daerah 3T merasa pelatihan ini sangat membantu memberikan pengetahuan yang lebih banyak, hal-hal yang baru yang tidak pernah kami dapatkan sebelumnya,” katanya ditemui erakini di sela-sela kegiatan Pelatihan Guru dan Kepala Madrasah di Aston Hotel, Kota Batam, Kepri, Selasa (9/7/2024).
Ia menuturkan, sebagai guru yang mengajar di daerah 3T memang memiliki tantangan yang lumayan berat. Tetapi, bukan berarti guru-guru di daerah tersebut tidak memiliki kapasitas dalam upayanya mencerdaskan anak bangsa.
Dia mengaku sepakat dengan salah satu tim Widyaiswara Pelatihan, Fahrurozi, yang menyebut bahwa guru di daerah 3T bisa menggunakan sumber daya yang ada di lokal untuk menghasilkan media pembelajaran.
Dengan demikian, kreativitas guru yang ada di daerah, tentunya tidak kalah dengan mereka yang mengajar di kota, di mana mereka telah memiliki sarana prasarana yang lengkap ketimbang dirinya yang ada di desa.
Dia sangat yakin, bila para guru terus diperhatikan, upaya pemerintah dalam melahirkan guru yang berkualitas bisa terwujud, sekalipun mereka berada di desa.
Lebih lanjut, menurut Febriana kegiatan yang mempertemukan para guru-gurumadrasah untuk dilatih menjadi guru yang hebat dan berkualitas di Kepri tersebut memang belum pernah ada. Karena itu, dia merasa bersyukur bisa diberikan kesempatan mengikuti kegiatan berharga ini.
“Banyak sekali ilmu yang didapatkan, misalnya soal model pembelajaran, cara kita menjadi guru yang kreatif, inovatif dan berkolaborasi. Seneng banget,” pungkas Febriana.
Seperti diketahui, Kemenag melalui Direktorat Guru Tenaga Kependidikan (GTK), Realizing Education’s Promise -Madrasah Education Quality Reform (REP-MEQR) Project atau Madrasah Reform menggelar kegiatan Pelatihan Guru dan Kepala Madrasah untuk Daerah 3T di Kota Batam, Kepulauan Riau. Kegiatan tersebut diikuti oleh 154 guru dari 4 kabupaten yang ada di Kepri dan Sumatera Barat.
Konsultan 3TMadrasah Reform Kemenag RI, Hesbul Bahar, mengatakan, kegiatan pelatihan yang menyasar daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar) merupakan bentuk afirmasi dari program Madrasah Reform Kemenag.
Melalui kegiatan tersebut, pria yang biasa disapa Hesbul ini menegaskan bahwa Kemenag berkomitmen mendorong dan memfasilitasi peningkatan kapasitas guru dan tenaga kependidikan di seluruh Indonesia, terkhusus di daerah 3T.
Selain itu, ujar Hesbul, kegiatan pelatihan itu sebagai implementasi dari komponen 3 program Madrasah Reform yaitu memberikan penguatan dan pengembangan bagi kelompok kerja guru (KKG) dan memperkuat kapasitas guru dan tenaga kependidikan.
“Komponen 3 fokus peningkatan pengembangan kapasitas guru dan tenaga kependidikan yaitu kepala madrasah dan pengawas,” katanya ditemui usai pembukaan.
Sedangkan output yang ingin dicapai yaitu meningkatnya pemahaman gurumadrasah agar kegiatan pembelajaran berjalan dengan baik.
“Output kegiatan ini gurunya pemahaman guru meningkat sehingga mengajar dengan baik,” tuturnya.