JAKARTA, (ERAKINI) – Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Pol Agus Suryonugroho memaparkan berbagai strategi rekayasa lalu lintas untuk mengantisipasi lonjakan arus mudik dan balik Lebaran 2026, khususnya di jalur Trans Jawa, Sumatera, dan wilayah Bandung.
Irjen Agus menjelaskan, penerapan Contraflow dan One Way dilakukan berdasarkan perhitungan matang yang dikoordinasikan bersama pengelola jalan tol. “Ketika bicara mengeksekusi Contraflow dan One Way, ada parameter yang kami koordinasikan dengan Jasa Marga. Dari hitungan itu, kami putuskan akan dilakukan Contraflow satu lajur atau dua lajur, dengan ujung dibuka mulai KM 70 sampai KM 188, untuk melancarkan arus menuju Trans Jawa,” ujarnya, Selasa (27/1/2026).
Kebijakan pengamanan tahun ini juga didasarkan pada evaluasi Operasi Ketupat tahun lalu, termasuk aturan kendaraan sumbu 3 dan kebijakan Work From Anywhere (WFA).
“Mengevaluasi Operasi Ketupat, negara harus hadir. Salah satunya melalui SKB terkait kendaraan sumbu 3 dan kebijakan work from anywhere, yang sangat mempengaruhi alur lalu lintas,” tandasnya.
Selain itu, Korlantas menyiapkan sarana teknologi untuk mendukung pengelolaan lalu lintas, termasuk penerapan ganjil-genap. “Korlantas akan memperlakukan ganjil-genap, menghadirkan infrastruktur teknologi agar di jalan tol, arteri, penyeberangan, terminal, dan bandara, semua bisa dimonitor dalam satu genggaman. Ini sudah kami persiapkan,” ungkapnya.
Skenario Darurat
Irjen Agus juga memastikan seluruh skenario darurat telah disiapkan, mulai dari pendirian Pos PAM, Pos Pelayanan, dan Pos Terpadu untuk memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.
“Emergency split jika terjadi bencana, skenario-skenario itu sudah disiapkan, termasuk rekayasa lalu lintas, pos PAM, pos pelayanan, dan pos terpadu di jalan tol, arteri, penyeberangan, terminal, bandara, semuanya siap,” tegasnya.
Pengamanan arus mudik dan balik juga diprioritaskan berdasarkan wilayah tujuan dan asal pemudik. Meski potensi lonjakan tinggi, khususnya di pelabuhan penyeberangan, Polri sudah menyiapkan langkah antisipasi.
“Arus mudik kami prioritaskan ke Trans Jawa, Sumatera, dan Bandung. Arus balik dari Trans Jawa dan Sumatera menuju Jakarta. Semua keputusan sudah diperhitungkan dengan risiko yang ada,” bebernya.
Penerapan contraflow dan rekayasa lalu lintas lainnya merupakan bagian dari upaya mencegah kemacetan. “Manajemen lalu lintas seperti alih arus, contraflow, dan one way sudah disiapkan berdasarkan evaluasi tahun-tahun sebelumnya, baik di Gadog Puncak, Jawa Timur, maupun Bali,” ucapnya.
Pentingnya Kolaborasi Stakeholder
Irjen menekankan pentingnya kolaborasi dan sinergitas seluruh pemangku kepentingan dalam merencanakan Operasi Ketupat pengamanan arus mudik dan balik Lebaran 2026.
“Mengacu evaluasi tahun lalu, berkaitan ada lonjakan arus yang cukup tinggi, ada 5 kriteria yang harus kita amankan, yaitu jalan tol, jalan arteri, pelabuhan penyebrangan, bandara, stasiun terminal, tempat ibadah, dan tempat wisata,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa hasil evaluasi tahun sebelumnya menjadi dasar dalam menentukan strategi pengamanan ke depan yang nantinya akan dipimpin langsung oleh Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.
Lebih lanjut, Kakorlantas menegaskan bahwa Operasi Ketupat tidak hanya berfokus pada pengamanan lalu lintas, tetapi juga menjaga momentum spiritual masyarakat selama Ramadan hingga Idul Fitri.
Menurutnya, setiap lokasi memiliki karakteristik dan tantangan yang berbeda sehingga memerlukan manajemen pengamanan yang disesuaikan, baik di penyebrangan, terminal, bandara, tol dan arteri.
“Skenario daripada pengamanan baik di penyeberangan, terminal, bandara, tol, dan di arteri tentunya manajemen berbeda, tergantung bangkitan arus dan jumlah total lalin dari Jasa Marga, nanti baru bagaimana kita membuat emergency cara bertindak,” jelasnya.