Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan, KH Abdul Ghofur (Foto: dok Ist)
JAKARTA, (ERAKINI) - Pesantren sejak lama menjadi pilar pendidikan keagamaan di Indonesia. Di Jawa Timur, Pondok Pesantren Sunan Drajat, Paciran, Lamongan, dikenal sebagai salah satu lembaga berpengaruh yang telah melahirkan banyak tokoh nasional. Pesantren yang berdiri sejak 1977 ini kini diasuh oleh Prof KH Abdul Ghofur, ulama kharismatik sekaligus pengusaha sukses.
Dilansir dari berbagai sumber, Sabtu (13/9/2025), KH Abdul Ghofur lahir pada 12 Februari 1949 di Paciran, Lamongan. Dia merupakan putra pasangan H Martokan dan Hj Kasiyami, keturunan ke-14 dari Kanjeng Sunan Drajat--salah satu Wali Songo. Selain memimpin Pondok Pesantren Sunan Drajat, Abdul Ghofur juga dipercaya sebagai Mustasyar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur.
Warisan Sejarah Panjang
Pondok Pesantren Sunan Drajat memiliki nilai historis kuat. Cikal bakalnya didirikan oleh Raden Qosim atau Sunan Drajat di Banjaranyar, Paciran, Lamongan. Namun, seiring waktu, aktivitas pesantren sempat mengalami kemunduran. Kebangkitan kembali pesantren dimulai pada 1977, ketika KH Abdul Ghofur--keturunan Sunan Drajat--merintis pembangunan ulang dan menata kembali lembaga tersebut.
Kini, pesantren itu berkembang menjadi salah satu pesantren terbesar di Indonesia dan menjadi satu-satunya peninggalan Wali Songo yang masih aktif. Ribuan santri menimba ilmu di sana setiap tahun.
Abdul Ghofur menempuh pendidikan awal di TK Tarbiyatut Tholabah, Kranji, Lamongan pada 1956, lalu melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah di tempat yang sama. Pendidikan Madrasah Aliyah ia jalani di Pesantren Mamba’ul Ma’arif, Denanyar, Jombang. Setelah itu, ia memperdalam ilmu agama di Pesantren Keramat dan Pesantren Sidogiri, Pasuruan.
Perjalanannya berlanjut ke Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, di bawah asuhan KH Maimun Zubair. Abdul Ghofur juga memperdalam ilmu di beberapa pesantren besar di Kediri, seperti Lirboyo, Al Hidayah Tertek, dan Raudhotul Qur’an pada dekade 1970-an.
Tak hanya dikenal sebagai ulama dan pengasuh pesantren, KH Abdul Ghofur juga piawai sebagai pengusaha. Di bawah kepemimpinannya, Pondok Pesantren Sunan Drajat membiayai kebutuhan ribuan santri secara mandiri melalui berbagai unit usaha. Di antaranya penambangan kapur, galangan kapal laut, industri pupuk, peternakan sapi, konveksi kain, produksi air mineral “Aidrat”, jus “Mengkudu Sunan”, hingga media radio Persada FM 97.2 MHz dan Persada TV.
Upaya ini menjadikan pesantren bukan hanya pusat pendidikan agama, tetapi juga contoh kemandirian ekonomi kerakyatan.
Penghargaan
Atas kontribusinya, Abdul Ghofur menerima gelar Doktor Honoris Causa di bidang Ekonomi Kerakyatan dari American Institute of Management Hawaii pada 2007. Di tahun yang sama, ia juga dianugerahi gelar profesor setelah meneliti khasiat buah mengkudu dan pelestarian tanaman.
Dengan kiprah panjangnya, KH Abdul Ghofur tak hanya dikenal sebagai ulama kharismatik, tetapi juga tokoh yang memadukan nilai-nilai keagamaan, kemandirian ekonomi, dan pelestarian tradisi pesantren.