Ketua PBNU KH Ulil Abshar Abdalla saat menyampaikan tausiah dalam acara Pembinaan Mental bertemakan 'Menjadi ASN Profesional dan Moderat di Tengah Keberagaman' yang digelar Direktorat Diktis Ditjen Pendis Kemenag, di Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (2/4/2024) malam. Foto: Erakini
JAKARTA, (ERAKINI) - Ketua PBNU KH Ulil Abshar Abdalla mengajak aparatur sipil negara (ASN) bekerja secara profesional dan bersikap moderat. Sebab kedua hal itu hukumnya sakral bagi umat Islam.
"Sekarang di dunia modern istilah profesional mengalami kemerosotan makna, sehingga sekadar menjadi pekerjaan biasa, yang tidak melibatkan komitmen yang sakral," ujar KH Ulil Abshar saat mengisi tausiah dalam acara Pembinaan Mental bertemakan "Menjadi ASNProfesional dan Moderat di Tengah Keberagaman" yang digelar Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Ditjen Pendidikan Islam (Pendis), Kementerian Agama (Kemenag), di Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (2/4/2024) malam.
KH Ulil Abshar menjelaskan, kata profesional memiliki asal-usul yang sangat sakral. Profesional berasal dari bahasa Inggris, yakni profession (profesi). Profession asal usulnya diartikan sebagai pengakuan atau komitmen diri.
"Kita berkomitmen terhadap sesuatu yang sakral sekali. Jadi istilah profession yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi profesi, itu sebetulnya sakral sekali, karena asal-usulnya terkait dengan konteks keagamaan. Meskipun dalam terjemahan bahasa Indonesia istilah profesi itu tidak terlalu sakral, bahkan duniawi sekali, tetapi asal-usulnya kata profession itu sangat sakral," bebernya.
Oleh karena itu, KH Ulil Abshar ingin mencoba menghidupkan kembali kesadaran dan pemahaman tentang profesi. Sehingga setiap orang dapat bekerja sesuai dengan komitmen profesinya.
Sekarang ini istilah profesi dan profesionalitas itu semata-mata dalam pengertian umum yang selama ini kita pahami, itu maknanya adalah sekadar pekerjaan. Tetapi kalau kita telusuri asal-usulnya, profesi itu sebetulnya adalah pekerjaan, tetapi pekerjaan yang meminta pada sesuatu dengan syarat. Makanya, istilah profesi ini bukan istilah yang yang main-main atau sederhana, karena dia terkait dengan komitmen yang sakral," katanya lagi.
Di dalam Islam, lanjut KH Ulil Abshar, para ulama sepakat pekerjaan itu bukan sesuatu yang remeh. Apalagi Imam Al-Ghazali dalam kitab fiqihnya membuat pembahasan khusus terkait bekerja. Dalam kitab nomor 17, Imam Al-Ghazali menyebut bekerja untuk menghasilkan penghidupan.
"Kenapa Imam Ghazali menaruh bekerja ini di nomor 17, karena umumnya orang pada usia 17 itu sudah mulai berpikir tentang bagaimana menghasilkan sesuatu secara mandiri. Meskipun sekarang orang itu baru bekerja setelah selesai S2, S3, itu umumnya usia di atas 30-an, 40-an. Tapi dulu orang itu mulai bekerja pada usia 17, jelasnya.
"Di dalam ajaran Islam, kita tahu bahwa sebaik-baik pekerjaan, sebaik-baik sesuatu yang dimakan oleh seseorang adalah makanan yang dihasilkam oleh tangannya diri," lanjutnya.
KH KH Ulil Abshar menyebutkan banyak hadist yang menunjukkan tentang pentingnya bekerja. Bahkan setiap agama mengajarkan pentingnya manusia bekerja. "Bekerja adalah sesuatu yang membuat manusia menjadi manusia. Manusia tanpa pekerjaan itu istilahnya ditolah. Ditolah itu orang yang nganggur dan berbahaya sekali ditolah. Dalam studi ditolah itu termasuk penyakit yang mengerikan, karena di dalam ditolah itulah terjadi banyak hal-hal yang bisa merusak manusia," bebernya.
Oleh karena itu, obat terhadap ditolah adalah melakukan sesuatu atau bekerja. Bekerja tidak mesti untuk menghasilkan sesuatu yang bersifat finansial, tetapi membuat manusia menjadi manusia.
"Kalau profesi itu dihayati sebagai komitmen yang sakral maka orang tidak bisa main-main dengan pekerjaan. Inilah makna dari asal mula dari dasar profesi, mengakui, bersyahadat, bahwa saya melakukan hal ini karena panggilan hidup saya. Bukan sesuatu yang terpaksa kita lakukan," tukasnya.
Hal lain yang juga sakral dalam kehidupan umat Islam adalah moderasi beragama. Menurut KH Ulil Abshar, Islam sejatinya memiliki DNA moderasi beragama. Moderasi ini sudah diterapkan oleh umat Islam sejak abad ke-8 Masehi.
"Kalau kita telaah sejarah Islam, mulai dari kerajaan yang pertama yaitu Dinasti Umayyah pada abad ke-8 Masehi sampai kepada dinasti yang terakhir yaitu Utsmaniyah yang runtuh pada tahun 1924, kerajaan-kerajaan Islam di dunia selalu ditandai dengan keragaman. Jadi, kerajaan-kerajaan Islam dari dulu itu kerajaan-kerajaan yang selalu multi-kultural multi-etnik, multi-budaya, multi-agama," jelas KH Ulil.
Hal demikian dikarenakan kerajaan-kerajaan Islam di masa lalu sangat luas sehingga disebut imperium. Karena wilayah yang luas itulah umat Islam dari dulu sudah terbiasa menghadapi keberagaman. "Makanya saya katakan, DNA Islam, DNA orang Islam itu dari dulu sebetulnya keragaman," ucapnya.
Moderasi beragama ini juga sudah dipraktikkan ulama-ulama besar di Tanah Air. Seperti KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan. Kedua pendiri ormas Islam terbesar di Indonesia itu, yakni NU dan Muhammadiyah, belajar ke tanah Arab dengan situasi dan kondisi penduduknya yang beragam, multi etnis, dan multi kultur.
"Mereka itu terbiasa dengan keberagaman. Ketika Mbah Hashim Asy'ari dan kiai-kiai lainnya belajar di Makkah akhir abad ke-19, di sana itu terdapat rakyat, manusia dari berbagai kota, multi nasional," jelasnya.
"Jadi, Mbah Hasyim, KH Ahmad Dahlan, kemudian Guru Abdul Masjid, ulama-ulama Islam dari Sumatera, mereka semua sudah mengalami situasi program ini (moderasi beragama)," sambungnya.
Karena itu, KH Ulil berpendapat tidak ada alasan untuk tidak menjalankan moderasi beragama di Indonesia. Sebab, sejarah panjang umat Islam di dunia juga sangat menghargai dan menghormati keberagaman.
Acara ini dibuka Sekjen Kemenag RI Prof M Ali Ramdhani. Turut menyampaikan arahan Staf Khusus Menteri Agama (Stafsus Menag) Bidang Media dan Komunikasi Publik Wibowo Prasetyo.
Hadir juga Direktur Diktis Prof Ahmad Zainul Hamdi, Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Thobib Al Asyhar, dan Plt Dirjen Pendis Abu Rokhmad, Sekretaris Ditjen Pendis Rohmat Mulyana Sapdi.