Kurikulum Berbasis Cinta Dorong Perubahan Paradigma Pendidikan
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Cinta menjadi topik utama dalam Sarasehan Nasional Training of Facilitator (ToF) Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) angkatan pertama yang digelar Pusat Pengembangan dan Pelatihan Sumber Daya Manusia (Pusbangkom SDM) Pendidikan dan Keagamaan di Ciputat, Senin, (25/8/2025).
Sarasehan Nasional KBC diharapkan menjadi momentum penting untuk mendorong perubahan paradigma pendidikan di Indonesia, dari sekadar pengajaran kognitif menuju pendidikan yang menumbuhkan nilai afektif.
Acara ini menghadirkan sejumlah tokoh pendidikan, di antaranya Presiden Direktur Mizan Group sekaligus penggagas Gerakan Islam Cinta, Haidar Bagir, serta Project Director Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI), Sri Widuri. Keduanya menekankan pentingnya menanamkan nilai cinta dalam pendidikan, bukan sebatas pengetahuan teoritis.
Haidar Bagir menegaskan, cinta tidak bisa diajarkan seperti mata pelajaran akademik.
“Jangan pernah berpikir bahwa mengajarkan cinta itu cukup seperti mengajarkan objek di luar kita seperti matematika di kelas. Kalau cinta yang objeknya imanen, di dalam diri kita, dia menyatu sama diri kita,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (27/8/2025).
Menurut Haidar, instruksi kognitif di kelas hanya melahirkan pengetahuan tentang cinta, bukan rasa cinta itu sendiri. Karena itu, budaya sekolah yang penuh cinta harus dibangun.
“Caranya dengan mengembangkan budaya sekolah yang anti-bullying, mencintai anak-anak berkebutuhan khusus, memperkuat relasi guru dan siswa, hingga hubungan sekolah dengan komunitas,” katanya.
Sementara itu, Sri Widuri menilai KBC relevan untuk memperkuat pendidikan karakter yang selama ini kurang mendapat prioritas. INOVASI, kata dia, memandang KBC sebagai pendekatan revolusioner sekaligus fundamental.

















