Penampakan Gunung Lewotobi Laki-Laki di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur meletus dahsyat, Selasa (16/6/2025). Tercatat ada sebanyak 50 kali gempa dan statusnya kini naik ke 'Awas'. (Foto: X/Volcaholic)
JAKARTA (ERAKINI) – Aktivitas vulkanik GunungLewotobi Laki-Laki di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, kembali menunjukkan peningkatan signifikan. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, resmi menaikkan level kewaspadaan api ini ke status Level IV – Awas, mulai pukul 15.00 Wita hari Selasa, 17 Juni 2025.
Tak lama setelah peningkatan status, letusan terjadi pada pukul 17.41 Wita, mengakibatkan hujan abu dan kerikil yang menyebar di sekitarnya. Letusan ini mengirimkan kolom abu pekat membumbung tinggi ke langit Pulau Flores.
Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid menjelaskan bahwa keputusan peningkatan status tersebut diambil berdasarkan data visual lapangan dan analisis instrumen pemantauan kegempaan serta deformasi. Tanda-tanda peningkatan tekanan dari dalam tubuh gunung terdeteksi melalui berbagai peralatan, termasuk tiltmeter, GPS, dan InSAR.
Menurutnya, dari hasil pengamatan, ada lonjakan drastis pada aktivitas dalam kawah GunungLewotobi Laki-Laki, yang ditandai dengan perubahan suhu, kepulan asap, hingga deformasi tanah.
Adapun antara tanggal 16 hingga 17 Juni 2025, gunung api tersebut terpantau menyemburkan asap putih dari kawah utamanya dengan variasi intensitas—dari tipis hingga tebal—yang menjulang antara 50 hingga 500 meter dari puncak. Cuaca saat pengamatan didominasi langit cerah hingga berawan, dengan arah angin yang berubah-ubah ke utara, timur laut, barat, dan barat laut. Suhu udara berkisar 20–30,1 derajat Celsius.
Dari hasil pengamatan pada akhir Mei 2025, terdeteksi material lava berwarna gelap telah memenuhi area kawah seluas kurang lebih 87.000 meter persegi, yang menunjukkan potensi letusan eksplosif. Bagian puncak menunjukkan celah menuju timur laut, yang diperkirakan akan menjadi jalur utama muntahan material jika terjadi letusan besar.
Data kegempaan menunjukkan lonjakan signifikan. Jika sebelumnya hanya terjadi 8–10 kali gempa vulkanik dalam per hari, pada 17 Juni tercatat 50 gempa dalam waktu hanya dua jam. Total pada periode 16–17 Juni, PVMBG mencatat:
- 5 kali gempa embusan
- 18 kali tremor non-harmonik
- 3 kali gempa frekuensi rendah
- 3 kali gempa hybrid
- 52 kali gempa vulkanik dalam
- 7 kali gempa tektonik jauh
Kondisi ini menandakan bahwa tekanan dari dalam perut bumi sedang mencapai puncaknya, dan risiko letusan susulan masih sangat tinggi.
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi bahwa satu desa telah dievakuasi dan beberapa desa lain terdampak hujan abu. Warga diminta memakai masker pelindung untuk menghindari risiko gangguan pernapasan akibat abu vulkanik.
Seorang juru bicara BNPB menyatakan bahwa getaran masih terdeteksi hingga malam hari, mengindikasikan aktivitas magma di dalam perut gunung belum sepenuhnya mereda. Evakuasi tambahan bisa diberlakukan sewaktu-waktu tergantung perkembangan situasi.
Sebagai informasi, GunungLewotobi Laki-Laki adalah salah satu dari dua puncak gunung berapi kembar di wilayah tersebut. Gunung tersebut terakhir kali meletus pada Mei 2025 dengan level status yang juga sempat dinaikkan ke tahap tertinggi. Letusan pada November sebelumnya bahkan menewaskan 9 orang dan menyebabkan ribuan warga mengungsi serta penutupan bandara.