JAKARTA, (ERAKINI) - PresidenPrabowo Subianto resmi melantik politisi muda Partai GolkarMeutya Hafid menjadi MenteriKomunikasi dan Digital di Istana Negara pada Senin (21/10/2024). Sebelum bergabung dengan Kabinet Merah Putih yang dipimpin Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, Meutya adalah anggota DPR RI 3 periode; sisa jabatan 2009-2014, 2014-2019 dan 2019-2024 dari Partai .
Pada Pemilu 2024, Meutya kembali terpilih menjadi anggota DPR RI dari Dapil Sumatera Utara 1. Namun, ia mundur karena ditunjuk Presiden menjadi MenteriKomunikasi dan Digital RI periode 2024-2029.
Seperti apa sosok Meutya Hafid? berikut profilnya:
Dilansir dari berbagai sumber pada Kamis (24/10/2024), Meutya memiliki nama lengkap Meutya Viada Hafid. Perempuan yang lahir di Bandung, 3 Mei 1978 ini adalah mantan wartawan yang sempat bekerja di beberapa media, salah satunya Metro TV.
Saat bekerja di Metro TV sebagai reporter, dia sempat ikut dalam peristiwa menegangkan pada 18 Februari 2005. Yang mana, ia dan rekannya, Budiyanto, diculik oleh kelompok bersenjata saat meliput konflik Irak. Mereka disandera selama tiga hari dan baru dibebaskan pada 21 Februari 2005.
Pengalaman tersebut dituangkan Meutya dalam buku berjudul 168 Jam dalam Sandera: Memoar Seorang Jurnalis yang Disandera di Irak. Buku tersebut dirilis pada 28 September 2007. Buku ini mendapat sambutan hangat, bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turut menyumbangkan tulisan di bagian pengantar.
Atas kiprahnya di dunia jurnalistik, Meutya meraih Penghargaan Jurnalistik Elizabeth O'Neill pada 11 Oktober 2007 dari pemerintah Australia. Ia juga dinobatkan sebagai salah satu Tokoh Pers Inspiratif Indonesia pada 9 Februari 2012 oleh penerbit Mizan, dan menjadi satu-satunya perempuan dalam daftar tersebut.
Pendidikan dan organisasi
Meutya Hafid pernah menempuh pendidikan formal di :
Pada 2010, Meutya Hafid sempat mencalonkan diri sebagai Wali Kota Binjai bersama H. Dhani Setiawan Isma yang didukung oleh Partai Golkar dan beberapa partai lainnya. Namun, pasangan ini kalah dalam pemilihan yang diwarnai dugaan kesalahan rekapitulasi suara di beberapa kecamatan.
Karier politik di DPR-RI
Pada Pemilu 2009, Meutya maju sebagai Caleg DPR RI dari Partai Golkar dari Dapil Sumut 1, namun ia gagal ke Senayan. Kemudian pada 2010, pemenang anggota DPR RI dari Partai Golkar Burhanuddin Napitupulu meninggal dunia. Partai Golkar kemudian melakukan PAW, dan Meutya menjadi anggota DPR RI dari Partai Golkar sisa masa jabatan 2009-2024.
Kiprahnya di DPR tak berhenti di sana, saat menjadi anggota DPR RI 2019-2024, ia dipercaya menjabat Ketua Komisi I DPR-RI, yang membidangi masalah pertahanan, luar negeri, dan komunikasi.
Sebelumnya, dia juga sempat menjadi anggota DPR RI sisa jabatan 2009-2014, 2014–2019 dan 2019–2024. Pengalamannya di Komisi I DPR-RI mengantarkannya pada jabatan strategis sebagai MenteriKomunikasi dan Digital. Dia diminta untuk memperkuat peran pemerintah dalam pengelolaan informasi dan transformasi digital di Indonesia.