Tuan Rondahaim Saragih Garingging dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Tahun 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto, Senin (10/11). Foto: Ist
JAKARTA, (ERAKINI) – Tuan Rondahaim Saragih Garingging dianugerahi gelar Tahun 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto, Senin (10/11). Raja ke-14 dari () ini dinilai telah berperan besar dalam mempertahankan wilayah Indonesia dari penjajahan Belanda.
Pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Tuan Rondahaim Saragih Garingging merupakan usulan dari Pemprov Sumatera Utara (Sumut) sejak tahun 2020, yang kemudian ditetapkan oleh Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD).
Tuan Rondahaim Saragih Garingging (1828–1891) adalah penguasa Partuanan Raya yang dijuluki Pemerintah Kolonial Belanda sebagai Napoleon der Bataks (Napoleon-nya orang Batak). Ia terus berjuang melawan penjajah hingga akhir hayatnya.
Partuanan Raya tidak pernah takluk kepada Belanda pada masa pemerintahan Tuan Rondahaim Saragih. Barulah pada tahun 1901, atau sepuluh tahun setelah wafatnya Tuan Rondahaim, Partuanan Raya akhirnya takluk kepada Pemerintah Kolonial Belanda. Saat itu, Partuanan Raya dipimpin oleh putra Tuan Rondahaim yang bernama Sumayan gelar Tuan Kapoltakan Saragih Garingging.
Anggota tim pengusul dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara (USU), Hisarma Saragih, mengungkapkan bahwa Tuan Rondahaim Saragih Garingging merupakan sosok pejuang asal Kerajaan Raya, Simalungun (dulu Pantai Timur Sumatera).
Masa perjuangannya terentang dari 1880 hingga 1891. Awal keterlibatannya dalam perang melawan kolonialisme terjadi ketika ia mengetahui Belanda membuka perkebunan secara sepihak di wilayah yang dihuni orang Simalungun. Berbagai tindak kejahatan, seperti pemerkosaan, perampokan, dan penyiksaan, dialami masyarakat Simalungun.
Sejak tahun 1874 hingga 1878, Tuan Rondahaim telah mendengar kabar ini. Ia mengetahui bahwa pasukan Belanda terdiri dari prajurit-prajurit yang kuat dengan dukungan persenjataan modern. Karena itu, ia terlebih dahulu menyiapkan pasukan yang digembleng melalui pelatihan militer guna mempersiapkan diri menyongsong pertempuran.
Ia kemudian mendatangkan guru-guru perang dari Tanah Gayo, Alasa, dan Aceh ke Raya untuk melatih pasukannya. Beberapa tokoh pejuang rakyat lain, seperti Tengku Muhammad dari Aceh dan Si Singamangaraja XII dari Bakkara, juga didatangkan ke Dalig Raya untuk membahas strategi perang semesta menghadapi Belanda. Ia turut membangun komunikasi dengan Kesultanan Lima Laras (Batubara) guna meningkatkan kerja sama di bidang pertahanan.
Tuan Rondahaim pun memimpin pasukan dari Panei, Siantar, Silou, dan Padang melawan Belanda yang hendak menguasai wilayahnya. Ia juga membangun jejaring dengan Kerajaan Padang, Asahan, Batubara, dan Bajalinggei untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda yang telah menguasai pesisir Sumatera Timur.
Ketatnya pertahanan yang digalang Tuan Rondahaim serta tangguhnya pasukan Raya membuat Belanda memutuskan mundur dari upaya menundukkan raja-raja Simalungun. Tuan Rondahaim pun berhasil mengamankan wilayahnya hingga akhir hayat. Pada tahun 1891, ia tutup usia dan dimakamkan di Raya.
Melihat perjuangan Tuan Rondahaim yang berskala luas serta kesungguhannya membela bangsa, ia dinilai layak dikenang dan diberi apresiasi tinggi oleh negara berupa gelar Pahlawan Nasional.