Ilustrasi - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa puncak musim kemarau akan terjadi pada 48,84% luas daratan Indonesia di bulan Agustus 2026. (Foto: Pixabay).
JAKARTA, (ERAKINI)- Indonesia bersiap menghadapi musimkemarau 2026 yang diperkirakan lebih kering dan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal. Berdasarkan analisis terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim di sebagian besar wilayah Tanah Air diprediksi terjadi pada Agustus 2026, bersamaan dengan meningkatnya pengaruh fenomena El Niño.
BMKG memperkirakan puncak musimkemarau akan terjadi pada 369 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 48,84 persen luas daratan Indonesia pada bulan Agustus. Jika dibandingkan dengan pola klimatologis, sebagian besar wilayah diprediksi mengalami puncak musimkemarau yang relatif sama dengan kondisi normal, yakni pada 377 ZOM atau sekitar 38,15 persen wilayah daratan Indonesia.
Tidak hanya datang dengan kondisi lebih kering, musimkemarau tahun ini juga diperkirakan memiliki durasi yang lebih panjang. BMKG memproyeksikan sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musimkemarau selama 10 hingga 21 dasarian pada 388 ZOM, yang mencakup sekitar 47,45 persen luas daratan Indonesia.
Sementara itu, dibandingkan rata-rata klimatologis, durasi musimkemarau diperkirakan lebih panjang dari biasanya pada 437 ZOM atau sekitar 48,77 persen wilayah Indonesia.
Salah satu faktor utama yang memengaruhi kondisi kemarau tahun ini adalah perkembangan fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO).
BMKG mencatat indeks ENSO hingga pertengahan Mei 2026 telah melampaui ambang kondisi netral selama lima dasarian berturut-turut. Berdasarkan proyeksi yang dilakukan, peluang terjadinya El Niño menunjukkan angka yang sangat tinggi.
Peluang terjadinya:
- El Nino lemah: 100 persen
- El Nino moderat: 98 persen
- El Niño kuat: 62 persen
Kondisi ini berpotensi mengurangi curah hujan di berbagai wilayah Indonesia sehingga meningkatkan risiko kekeringan, berkurangnya ketersediaan air, serta meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan.
Selain itu, Monsun Australia diprediksi tetap aktif setidaknya hingga akhir 2026 dengan intensitas yang relatif normal. Aktivitas monsun ini turut memperkuat dominasi udara kering di wilayah Indonesia bagian selatan.
BMKG juga memprediksi awal musimkemarau tahun ini datang lebih awal di banyak daerah. Sebanyak 198 ZOM atau sekitar 31,60 persen luas daratan Indonesia diperkirakan mulai memasuki musimkemarau pada Juni 2026. Selanjutnya, 66 ZOM atau sekitar 7,28 persen wilayah Indonesia akan menyusul memasuki musimkemarau pada Juli 2026.
Jika dibandingkan dengan pola normal, awal musimkemarau diperkirakan lebih cepat terjadi pada 308 ZOM, yang mencakup 39,77 persen luas daratan Indonesia.
BMKG memperingatkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia diproyeksikan mengalami kondisi curah hujan di bawah rata-rata.
Tercatat sebanyak 482 ZOM atau sekitar 56,18 persen luas daratan Indonesia diprediksi berada dalam kategori Bawah Normal, yang berarti kondisi musimkemarau akan lebih kering dibandingkan biasanya.
Situasi tersebut berpotensi berdampak pada sektor pertanian, sumber daya air, ketahanan pangan, hingga peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah rawan.
BMKG mengimbau pemerintah daerah, pelaku sektor pertanian, pengelola sumber daya air, serta masyarakat untuk mulai melakukan langkah-langkah mitigasi sejak dini guna mengantisipasi dampak musimkemarau yang diperkirakan lebih panjang dan lebih kering pada tahun 2026.