Ilustrasi - Musim Kemarau 2026, BMKG menyampaikan bahwa Indonesia bagian selatan mulai mengering, namun hujan masih mengintai wilayah utara. (Foto: Pixabay).
JAKARTA, (ERAKINI) – Badan Meteorologi Memasuki pertengahan Juni 2026, kondisi cuaca di Indonesia menunjukkan perbedaan yang cukup mencolok antara wilayah selatan dan utara. Di saat sebagian besar kawasan selatan mulai didominasi cuaca kering akibat penguatan musim kemarau, sejumlah daerah di wilayah utara justru masih berpotensi diguyur hujan dengan intensitas tinggi.
Melansir laman resmi BMKG, Rabu (17/6/2026), banyak wilayah di Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara telah mengalami periode tanpa hujan yang berlangsung cukup lama, berdasarkan hasil pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH). Durasi hari tanpa hujan tercatat berada pada kategori menengah, yakni 11–20 hari, hingga kategori sangat panjang yang mencapai 31–60 hari.
Perkembangan tersebut sejalan dengan meluasnya musim kemarau di berbagai daerah. Hingga saat ini, sekitar 33,3 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia atau setara 233 ZOM telah resmi memasuki periode kemarau. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa penurunan curah hujan semakin meluas dan berpotensi menimbulkan dampak seperti kekeringan meteorologis, berkurangnya cadangan air, serta perubahan suhu yang lebih ekstrem, yaitu terasa panas pada siang hari dan lebih dingin saat malam hingga pagi.
Meski cuaca kering semakin dominan di wilayah selatan, sejumlah daerah di bagian utara Indonesia masih mengalami hujan dengan intensitas bervariasi, mulai dari ringan hingga sangat lebat. Dalam periode 11–14 Juni 2026, curah hujan tinggi tercatat di beberapa wilayah, di antaranya Sumatra Barat mencapai 139 milimeter per hari, Papua 94 milimeter per hari, Riau 89 milimeter per hari, Sulawesi Utara 79 milimeter per hari, Kalimantan Barat 77 milimeter per hari, serta Sulawesi Barat 63 milimeter per hari.
Tingginya curah hujan tersebut dipengaruhi oleh aktivitas sejumlah fenomena atmosfer. Gelombang Rossby Ekuatorial terpantau aktif di sebagian wilayah Sumatra, Sulawesi, dan Papua. Sementara itu, Gelombang Kelvin juga terdeteksi memengaruhi beberapa kawasan di Sumatra. Selain faktor tersebut, kemunculan sirkulasi siklonik di Samudra Hindia bagian barat Sumatra serta kawasan sekitar Selat Makassar turut menciptakan daerah konvergensi dan belokan angin yang mendukung pertumbuhan awan hujan.
Kombinasi berbagai faktor atmosfer tersebut membuat peluang hujan tetap tinggi di sejumlah wilayah, meskipun sebagian Indonesia telah memasuki musim kemarau.
Memasuki Dasarian III Juni 2026, jumlah wilayah yang mengalami musim kemarau diprediksi terus bertambah. Sebagian besar wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua diperkirakan akan mengalami curah hujan di bawah kondisi normal musim kemarau.
Prediksi tersebut didukung oleh perkembangan fenomena El Niño-Southern Oscillation (ENSO) yang menunjukkan kecenderungan menuju fase hangat dengan kategori moderat di wilayah Pasifik tropis bagian tengah hingga timur. Kondisi ini tercermin dari nilai indeks Niño 3.4 sebesar +0,81 dan Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -24,3.
Situasi tersebut berpotensi mengurangi peluang terbentuknya hujan di berbagai wilayah Indonesia. Namun demikian, faktor-faktor atmosfer regional dan kondisi lokal masih memungkinkan hujan tetap terjadi di sejumlah daerah.
Dalam sepekan mendatang, Madden-Julian Oscillation (MJO) diperkirakan berada pada fase 1 atau wilayah Western Hemisphere-Africa. Dengan posisi tersebut, pengaruh langsung MJO terhadap cuaca di Indonesia relatif tidak terlalu signifikan.
Meski begitu, sejumlah gelombang atmosfer lainnya masih aktif dan berpotensi memicu pembentukan awan hujan. Gelombang Kelvin diprediksi melintasi Lampung, Samudra Hindia barat Lampung, Pulau Jawa, Laut Jawa, bagian selatan Selat Makassar, Kalimantan Tengah bagian selatan, hingga Kalimantan Selatan.
Sementara itu, Gelombang Rossby Ekuatorial diperkirakan aktif di Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Utara, Laut Maluku, Maluku Utara, serta Laut Halmahera.
Di sisi lain, pola sirkulasi siklonik diprediksi muncul di Samudra Hindia sebelah barat Sumatra Barat, Selat Makassar, perairan barat Papua Barat Daya, Teluk Cendrawasih, hingga Samudra Pasifik utara Papua. Kondisi tersebut berpotensi memicu perlambatan angin dan pertemuan massa udara yang mendukung pembentukan awan hujan.
Selain dipengaruhi dinamika atmosfer skala regional, kondisi atmosfer yang masih labil di sejumlah daerah turut mendukung pertumbuhan awan konvektif. Faktor ini berpotensi memicu hujan lokal dengan intensitas cukup signifikan.
Wilayah yang perlu mewaspadai potensi hujan antara lain Sumatra Utara, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Banten, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, hingga Papua.
Dengan kombinasi pengaruh gelombang atmosfer, sirkulasi siklonik, serta labilitas udara yang masih cukup kuat, peluang terjadinya hujan dalam beberapa hari ke depan tetap tinggi, khususnya di wilayah Indonesia bagian utara, meskipun musim kemarau terus meluas di berbagai daerah.