Ilustrasi - Hujan yang mengguyur wilayah Desa Sruwen, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Selasa (19/8/2025) sore. BMKG mengimbau 12 wilayah termasuk Jabar, Jateng, Jatim dan Yogyakarta untuk siaga adanya potensi hujan lebat hingga 21 Agustus 2025. (Foto: Akhmad Baihaqi Arsyad/Erakini).
JAKARTA, (ERAKINI) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa 12 wilayah ada potensi hujan lebat pada periode 19-21 Agustus 2025. Hal itu disampaikan oleh dalam siaran resmi terkait prospek cuaca mingguan yang dilansir Erakini dari laman resminya, Selasa (19/8/2025).
Berikut ini 12 wilayah yang diimbau oleh BMKG untuk siaga adanya potensi hujan lebat!
1. Kep. Riau,
2. Jawa Barat,
3. Jawa Tengah,
4. DI Yogyakarta,
5. Jawa Timur,
6. Kalimantan Barat,
7. Kalimantan Tengah,
8. Sulawesi Utara,
9. Sulawesi Barat,
10. Maluku Utara,
11. Maluku,
12. Papua Tengah.
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi. Untuk potensi angin kencang, BMKG mengimbau masyarakat di 11 wilayah untuk siaga. Berikut ini rinciannya!
1. Kep. Riau,
2. Jakarta,
3. Jawa Barat,
4. Bali,
5. NTB,
6. NTT,
7. Gorontalo,
8. Sulawesi Utara,
9. Maluku,
10. Papua Barat,
11. Papua Selatan.
BMKG juga mengimbau masyarakat waspada adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Kep. Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, Jakarta, Bali, NTB, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.
Diungkapkan oleh BMKG bahwa salah satu penyebab utama yang membuat sejumlah wilayah di Indonesia berpotensi dilanda hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, disertai kilat, petir, serta angin kencang adalah keberadaan Madden-Julian Oscillation (MJO) yang kini berada di fase ketiga.
MJO ini iperkirakan terus bergerak menuju fase keempat, yang berpengaruh langsung terhadap peningkatan pembentukan awan hujan, terutama di bagian barat Indonesia. Selain itu, BMKG juga mencatat adanya pengaruh dari gelombang atmosfer tropis seperti Gelombang Kelvin dan Mixed-Rossby Gravity, yang turut memperkuat potensi cuaca buruk.
“Anomali sinyal radiasi gelombang panjang keluar (Outgoing Longwave Radiation/OLR) yang bernilai positif menunjukkan aktivitas konvektif yang menguat di beberapa wilayah. Di sisi lain, terdeteksi pula sistem sirkulasi siklonik di wilayah barat Sumatra yang mengganggu pola angin dan membentuk area konvergensi serta belokan angin, yang menjadi pemicu tambahan terbentuknya awan hujan secara masif,” kata BMKG.