Gerakan Nasional Pesantrenku Aman di di Pondok Pesantren Nurul Qodiri, Lampung, Selasa (16/6/2026) memperkuat ekosistem perlindungan santri. (Foto: PBNU).
LAMPUNG, (ERAKINI) - Gerakan Nasional Pesantrenku Aman kini melanjutkan langkahnya melalui Roadshow #2 yang akan digelar di Pondok Pesantren Nurul Qodiri, Lampung, Selasa (16/6/2026) menyusul sebelumnya telah diluncurkan di Pondok Pesantren Darul Mugjni Bogor 18 Mei 2026 dan Road Show pertama di Pesantren Al Yasini, Pasuruan, Jawa Timur pada awal Juni lalu.
Gerakan yang diinisiasi Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) bersama Satuan Anti Kekerasan (SAKA) PBNU ini membawa semangat “Menjaga Amanah, Merawat Masa Depan” sebagai ikhtiar membangun lingkungan pesantren yang aman, ramah anak, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.
Adapun Roadshow di Lampung menjadi kelanjutan dari komitmen yang telah dimulai melalui Deklarasi Pasuruan, yang memuat lima aksi utama Pesantren Aman, yakni penguatan sistem pengasuhan berbasis kemaslahatan santri, penetapan kebijakan perlindungan santri, pembentukan satgas pesantren aman, penyediaan lingkungan dan kanal pengaduan yang aman, serta pembangunan budaya aman melalui partisipasi seluruh warga pesantren.
Menurut Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), perlindungan terhadap santri merupakan bagian penting dari amanah besar pesantren dalam mendidik generasi masa depan. “Santri merupakan amanah Allah SWT yang dititipkan kepada pesantren untuk dididik, dibimbing, serta dijaga keselamatan, kehormatan, dan masa depannya. Mewujudkan Pesantren Aman adalah bagian mutlak dari khidmah tersebut,” ujar Gus Yahya.
Dalam Roadshow #2 ini, berbagai program penguatan kapasitas kembali digelar dengan melibatkan seluruh ekosistem pesantren, mulai dari pengasuh, dewan guru, pembimbing asrama (musyrif/musyrifah), hingga para santri.
Rangkaian kegiatan meliputi Pelatihan Tarbiyah Jinsiyah bagi santri putri, Pelatihan Pencegahan Kekerasan di Pesantren bagi musyrif-musyrifah dan dewan guru, Halaqah Syuriah NU bersama Pengasuh Pondok Pesantren, serta Doa Bersama dan Deklarasi Pesantrenku Aman.
Sementara itu, Ketua RMI PBNU KH Hodri Ariev, menyampaikan bahwa Gerakan Nasional Pesantrenku Aman bukan hanya sebatas kampanye, melainkan upaya membangun sistem perlindungan yang dapat diterapkan secara berkelanjutan di pesantren. “Gerakan ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah ikhtiar bersama untuk memastikan pesantren tetap menjadi tempat yang aman, nyaman, dan bermartabat bagi santri dalam menuntut ilmu,” kata KH Hodri Ariev.
Ketua SAKA PBNU, Nyai Hj Alissa Wahid, menekankan pentingnya membangun mekanisme perlindungan berlapis di pesantren. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan aspek pencegahan, penanganan cepat, pendampingan, hingga pemulihan bagi korban kekerasan.
SAKA PBNU bersama RMI PBNU terus mendorong lahirnya sistem perlindungan pesantren melalui edukasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia pesantren, penyusunan mekanisme pencegahan dan penanganan kekerasan, serta penguatan budaya pengasuhan yang berpihak pada keselamatan santri.
Sebagai bagian dari implementasi gerakan, RMI PBNU menargetkan sedikitnya 1.000 pesantren dapat mengadopsi komitmen Pesantren Aman melalui pakta integritas dan langkah nyata perlindungan santri di lingkungan masing-masing.
Sebagai informasi, Roadshow Gerakan Nasional Pesantrenku Aman di Lampung akan diikuti sekitar 1.000 peserta yang terdiri dari santri, pengurus pesantren, musyrif-musyrifah, dewan guru, dan pengasuh pondok pesantren. RMI PBNU dan SAKA PBNU berharap, melalui keberlanjutan gerakan dari Pasuruan menuju Lampung, semakin banyak pesantren di Indonesia menjadi pelopor ruang pendidikan Islam yang aman, sehat, penuh kasih, serta mampu menjaga amanah masa depan para santri.