Mayjen DI Panjaitan, salah satu tokoh militer Indonesia yang gugur dalam peristiwa G30S/PKI tahun 1965. Foto: Ist
JAKARTA, (ERAKINI) - Mayjen DI Panjaitan adalah salah satu tokoh militer Indonesia yang gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September PKI (G30S/PKI) tahun 1965. Ia dikenal sebagai salah satu perwira tinggi Angkatan Darat yang berperan penting dalam sejarah Indonesia, khususnya selama masa perjuangan kemerdekaan.
Tanggal 1 Oktober 1965, menjadi peristiwa kelam bagi Indonesia. Terutama bagi , dimana tujuh perwira tingginya gugur, termasuk DI Panjaitan.
Mengutip dari Ensiklopedia Sejarah Indonesia Kemdikbud, Sabtu (28/9/2024), pada 1 Oktober 1965 dini hari, rumah DI Panjaitan di Jalan Hasanuddin, Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, didatangi segerombolan prajurit G30S/PKI. Pada malam itu, pintu pagar rumah sudah terkunci rapat, sehingga gerombolan prajurit itu masuk ke halaman kediaman DI Panjaitan dengan melompati pagar.
Gerombolan itu kemudian mendapati pintu rumah terkunci. Mereka lalu merusak pintu dan kunci dengan tembakan beberapa kali. Tembakan ini membuat DI Panjaitan terbangun, lalu siaga. Tidak berselang lama, suara letusan terdengar lagi, kali ini dari arah paviliun.
Gerombolan itu akhirnya berhasil masuk ke rumah dan memerintahkan DI Panjaitan untuk ikut dengan mereka. Saat itu, DI Panjaitan beserta keluarganya terjebak di lantai dua rumah. Gerombolan prajurit G30S itu lalu mengancam menghabisi seisi rumah jika DI Panjaitan tidak ikut dengan mereka.
Demi menyelamatkan keluarganya, DI Panjaitan akhirnya setuju untuk ikut. Ia sempat berganti pakaian dinas karena gerombolan penculik itu mengaku DI Panjaitan dijemput untuk bertemu dengan Presiden Soekarno. DI Panjaitan lalu turun dari lantai dua dan mengikuti permintaan gerombolan itu.
Namun, begitu sampai di depan garasi, DI Panjaitan diperintahkan untuk bersiap. Ia pun tidak mematuhi perintah tersebut, dan memilih berdoa. Di saat tengah berdoa, prajurit G30S membabi buta menembaki kepala hingga tubuh DI Panjaitan. Ia pun langsung terjatuh dalam kondisi sedang berdoa.
Katherine, anak DI Panjaitan yang menyaksikan kejadian itu, segera berlari untuk melihat sang ayah. Namun, begitu ia sampai jenazah DI Panjaitan sudah tidak ada. Jenazah DI Panjaitan diangkut ke truk dan dibawa, yang belakangan ditemukan di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur.
Jenazah DI Panjaitan beserta sejumlah perwira tinggi TNI AD ditemukan di Lubang Buaya pada 4 Oktober 1965. Sehari setelahnya, tepatnya pada 5 Oktober 1965, bertepatan dengan hari ABRI ke-20, para perwira tinggi TNI AD yang gugur dikebumikan dalam satu upacara kebesaran militer dari Mabes AD menuju Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta.
Mereka kemudian dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional dan Pahlawan Revolusi atas jasanya mengawal kemerdekaan serta mempertahankan ideologi Pancasila. DI Panjaitan yang saat itu masih berpangkat Brigadir Jenderal kemudian mendapatkan kenaikan pangkat anumerta menjadi Mayor Jenderal. Sebagai penghormatan, nama DI Panjaitan juga diabadikan dalam berbagai tempat, termasuk nama jalan dan institusi.
Perjalanan Karier di Militer
Pemilik nama lengkap Donald Isaac Panjaitan merupakan salah satu pemuda yang terlibat dalam pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada awal Republik Indonesia, dan aktif berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan negara. Selama karier militernya, DI Panjaitan sering dipercaya untuk menangani bidang logistik.
DI Panjaitan lahir di Balige, Tapanuli, pada 19 Juni 1925. Pada usia enam tahun, ia mulai menempuh pendidikan dasar di sekolah milik zending. Ia kemudian melanjutkan ke HIS Narumonda dan Christelijke MULO di Tarutung.
Pada tahun 1937, ibunya, Dina Napitupulu, meninggal dunia ketika DI Panjaitan masih duduk di kelas 5 HIS. Beberapa tahun kemudian, ayahnya, Herman Panjaitan, juga meninggal saat DI Panjaitan berada di kelas terakhir MULO.
Pamannya, Raja Johannes, kemudian mengambil alih peran sebagai pengasuh DI Panjaitan dan adik-adiknya. Di tahun yang sama, Jepang memasuki Indonesia, dan DI Panjaitan memulai kariernya militer.
Perjalanannya dimulai ketika Sekolah Opsir Gyugun di Pekanbaru membuka penerimaan calon siswa. DI Panjaitan bergabung dan diterima di itu pada 14 Februari 1944. Tak lama setelah itu, Jepang mulai mengalami kekalahan di Perang Dunia II dan menyerah tanpa syarat kepada sekutu pada 14 Agustus 1945.
Dengan menyerahnya Jepang, satuan-satuan militer pribumi yang dibentuk Jepang dibubarkan. Saat itu, DI Panjaitan berpangkat Gyu Shoi, setara dengan Shodancho. Setelah Jepang hengkang dan Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan, DI Panjaitan ikut serta dalam pembentukan BKR, yang menjadi cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Menanggapi seruan pemerintah pusat, DI Panjaitan dan rekan-rekannya kemudian mengadakan rapat di gedung Sekolah Dasar Batu Satu dan membentuk BKR Riau. Saat itu DI Panjaitan ditunjuk sebagai Kepala Latihan karena pengalaman militernya di Gyugun. Sejak saat itu, banyak pemuda yang mendaftar untuk bergabung dengan BKR Riau.
Setelah Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia, ia diangkat sebagai Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium I/Bukit Barisan di Medan. Selanjutnya, ia ditugaskan ke Palembang sebagai Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium II/Sriwijaya.
Ia bertugas merancang strategi pengadaan senjata untuk mendukung perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Ia juga terlibat dalam mempertahankan kemerdekaan dari pemberontakan PRRI/Permesta.
DI Panjaitan dikenal sebagai perwira yang mahir dalam berbagai bahasa asing, sehingga sering mendapat tugas ke luar negeri. Ia pernah menjabat sebagai Atase Militer di Bonn, Jerman Barat, dan mendapatkan kesempatan belajar di Amerika Serikat.
Dalam konflik Irian Barat, ia berperan penting dalam mengkonsolidasikan potensi mahasiswa. Ketika konflik terjadi, ia sedang bertugas di Bonn dan berhasil membangun hubungan dengan mahasiswa Irian Barat di Eropa, seperti Frits Kirihio dan Rumainum. Keduanya dengan tegas menyatakan bahwa Irian Barat adalah bagian dari Republik Indonesia saat berhadapan dengan pers dan media asing.
Sebagai jenderal bintang 1 yang menjabat sebagai Asisten IV Men/Pang AD dan mengurus logistik, DI Panjaitan memiliki kedekatan dengan Amerika setelah belajar di sana. Ia juga berhasil membongkar penyelundupan senjata oleh PKI dari China, sehingga menjadikannya salah satu target dalam Gerakan 30 September 1965.