Search

Puncak Harlah ke-100 NU: Gus Yahya Serukan Konsolidasi Warga Nahdliyyin Menuju Peradaban Mulia

JAKARTA, (ERAKINI) – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menyerukan pentingnya konsolidasi seluruh elemen bangsa, khususnya warga Nahdliyyin, untuk mengawal kemerdekaan Indonesia menuju peradaban yang mulia. 

"Kepada segenap warga Nahdlatul Ulama dan kepada masyarakat luas bahwa kita perlu berjuang untuk berkonsolidasi menjadi satu kekuatan bersama, untuk kepentingan bersama memperjuangkan tujuan-tujuan bersama mengawal kemerdekaan Republik Indonesia, untuk kemudian menyumbangkan apa yang kita mampu dalam perjuangan menuju peradaban yang mulia." ujar Gus Yahya dalam puncak peringatan Harlah ke-100 NU yang digelar di Istora Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (31/1/2026).

Gus Yahya bersyukur peringatan satu abad NU dalam kalender Masehi ini dapat berlangsung lancar dan dihadiri perwakilan struktur NU dari seluruh Indonesia. Sebanyak PWNU dan 548 PCNU se-Indonesia mengirimkan perwakilannya.

"Alhamdulillah, semua PWNU dan PCNU seluruh Indonesia mengirimkan perwakilan untuk hadir di dalam peringatan ini sebagaimana yang kita rencanakan dan peringatan berjalan dengan lancar," tandasnya. 

Gus Yahya lalu menjelaskan mengapa NU kembali memperingati usia 100 tahun, meski dua tahun lalu telah digelar peringatan satu abad di Sidoarjo.

“Dua tahun lalu kita memperingati satu abad NU berdasarkan kalender Hijriah, 16 Rajab 1344 hingga 16 Rajab 1444 atau Februari 2023. Hari ini kita memperingati 100 tahun berdasarkan kalender Masehi, 31 Januari 1926 sampai 31 Januari 2026,” jelasnya

Dihadiri Pimpinan Lembaga Negara dan Kabinet
Puncak Harlah ke-100 NU ini turut dihadiri Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Ketua DPD RI Sultan Najamuddin, serta sejumlah menteri Kabinet Merah Putih, di antaranya Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno, dan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang juga Rais Syuriah PBNU. Hadir juga  duta besar negara sahabat, Mustasyar PBNU Nyai Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, serta perwakilan ketua umum partai politik.

Dari jajaran PBNU tampak Wakil Ketua Umum KH Amin Said Husni, Rais Syuriyah KH Ali Marbun, Katib Aam KH Ahmad Said Asrori, pengurus badan otonom dan lembaga NU, para kiai, habaib, serta ribuan warga Nahdliyyin yang memadati Istora GBK.

Peringatan Harlah ke-100 NU ini mengusung tema: Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia. Tema ini sejalan denga visi dan idealisme NU, serta sebangun dengan visi dan idealisme Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. 

“Visi dan idealisme itu adalah berjuang membangun peradaban yang lebih mulia bagi seluruh umat manusia. Kemerdekaan ialah hak segala bangsa, dan penjajahan harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan priikeadilan,” tegasnya.

Gus Yahya lalu menggunakan tamsil Surah An-Nur ayat 35 untuk menggambarkan relasi NU dan Indonesia. “Apabila Nahdlatul Ulama itu adalah misbah yang ingin menyinari sekitar, maka misykat-nya adalah Indonesia. Tidak mungkin misbah itu bisa menyinari semesta tanpa adanya misykat. Kita tidak bisa berpikir tentang NU tanpa sekaligus berpikir dan bertindak untuk Indonesia,” tandasnya.

Menurut Gus Yahya, sepanjang satu abad perjalanan sejarah, NU tidak pernah bergeser dari semangat dan idealisme awal, yakni menjadikan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai kubu dan markas perjuangan untuk membangun peradaban mulia. Satu abad perjalanan sejarah Nahdlatul Ulama tidak pernah lekang, tidak pernah bergeser, serta tidak pernah berubah semangat dan idealismenya. 

"Semoga visi dan idealisme ini senantiasa menghidupi batin kita semua, senantiasa menyalakan api di dalam dada kita semua, seluruh kader-kader Nahdlatul Ulama, kader-kader bangsa Indonesia. Semoga perjuangan menuju peradaban mulia ini mendapatkan rida dan berkah dari Allah SWT Terima kasih atas semangat, dukungan, dan doa restu," ucapnya.

Gus Yahya mengajak seluruh warga Nahdlatul Ulama untuk merapatkan barisan menghadapi tantangan abad kedua NU.

"Mari ke depan kita bersama-sama merapatkan barisan dan melangkah bersama menghadapi tantangan apapun yang ada di depan kita di abad kedua Nahdlatul Ulama ini," ajak Gus Yahya.

“Semoga ke depan Nahdlatul Ulama akan semakin baik kinerjanya di dalam berkhidmat kepada masyarakat, kepada bangsa dan negara, berkhidmat kepada kemanusiaan," lanjutnya. 

Presiden Prabowo dan Rais Aam Batal Hadir
Sesuai agenda, puncak Harlah ke-100 NU semestinya dihadiri Presiden Prabowo Subianto. Namun, Presiden batal hadir.

"Sejak kemarin sebetulnya sudah ada koordinasi dengan berbagai perangkat yang terkait dengan kepresidenan, seperti dengan Paspampres dan protokol istana dan lain-lain. Tapi memang pada saat terakhir beliau berhalangan karena ada tugas lain, ada beberapa tugas negara terkait dengan tamu-tamu negara yang hadir pada hari ini," jelas Gus Yahya.

Begitu juga Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, serta Sekjen PBNU Saifullah Yusuf. Gus Yahya menyebut Rais Aam berhalangan hadir karena kondisi kesehatan. Sedangkan Saifullah tidak hadir karena ada kesibukan tugas sebagai Menteri Sosial.

"Rais Aam KH Miftachul Akhyar, kami tadi malam sudah mendapatkan kabar dari beliau bahwa sedianya akan berangkat, tapi beliau mengalami kendala kesehatan sehingga berhalangan untuk bisa ikut hadir.  Khutbah yang biasa disampaikan oleh Rais Aam diwakili oleh salah seorang Rais Syuriah yaitu Profesor KH Nasaruddin Umar yang kebetulan juga adalah Menteri Agama," sebut Gus Yahya.