Jatuh Bangun Guru Madrasah Mengajar di Daerah 3T
Abdul Rahman Ahdori
BATAM, (ERAKINI) - Seorang guru madrasah di Pulau Laut, Kepulauan Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Anteri, berbagi cerita terkait pengalamannya mengajar di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar). Jatuh bangun menjadi seorang guru telah dialami Anteri dan teman-teman seperjuangannya saat mengajar di Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa.
Sebagai manusia biasa, Anteri sempat putus asa karena ujian yang dirasakannya sebagai guru begitu berat, terutama soal kesejahteraan. Namun, ketika ia ada pada kondisi tersebut, Anteri selalu ingat murid-muridnya.
Anteri yang sudah mengajar sejak 2018 ini akhirnya bertahan menjadi guru hingga saat ini. Semua ujian, dia hadapi dengan penuh rasa tanggung jawab. Meski pahit, Anteri tetap memperjuangkan para siswa madrasah, agar kecerdasan kehidupan bangsa ini mengalami peningkatan.
“Bicara soal tantangan dan ujian, memang kami ini di daerah 3T banyak sekali masalahnya. Misalnya begini, guru di MTs At-Taqwa yang kami kelola ada 5 orang, termasuk saya. Semuanya tidak dibayar,” kata Anteri saat berbincang dengan erakini di sela-sela kegiatan Pelatihan Guru dan Kepala Madrasah yang digelar Kementerian Agama di Kota Batam, Kepri, Kamis (11/7/2024).
Arteri mengungkapkan, ia dan 4 guru madrasah di MTs At-Taqwa memiliki 39 murid yang berasal dari daerah di sekitar Pulau Laut. Menurut dia, mayoritas murid di sekolahnya tersebut tergolong kurang mampu, sehingga pihaknya tidak pernah memaksakan soal SPP.
Pihaknya mengandalkan uang Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah. Sementara ketentuan BOS itu sendiri mengikuti jumlah muridnya, semakin banyak siswanya, semakin meningkat bantuannya.
“Uang bos itu diperuntukan operasional sekolah, termasuk gaji guru. Waktu itu kami gajinya Rp500 ribu per bulan, tapi dirapel,” ungkap Anteri.


















