Rhoma Irama saat hadir pada kegiatan Dialog Publik, Pagelaran Musik, dan Film Moderasi Beragama yang digelar Balitbang Diklat Kemenag di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jumat (5/1/2024) malam. (Foto: Humas Kemenag)
JAKARTA, (ERAKINI)-Raja dangdut Rhoma Irama menjadi salah satu penyanyi senior yang hadir pada kegiatan Dialog Publik, Pagelaran Musik, dan Film Moderasi Beragama yang digelar BalitbangDiklatKemenag di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jumat (5/1/2024) malam.
Dalam acara tersebut, sang maestro bercerita terkait penyampaian pesan moderasi beragama yang disisipkan di setiap lirik lagu yang ia ciptakan. Ayah penyanyi muda Ridho Rhoma ini mengungkapkan, sejak terjun ke industri musik, dirinya bertekad untuk menjadikan musik sebagai media edukasi, berdakwah, dan alat untuk mempersatukan bangsa.
Oleh sebab, itu, lanjur Rhoma Irama, pada tahun 1973 ia dan temannya mendirikan Soneta dengan mengusung tagline besar ‘the voice of muslim’. Rhoma Irama melanjutkan, tagline itu hingga saat ini masih digunakan oleh Soneta.
“Karena kami juga terus berjuang untuk mengaktualisasikan peran kami sebagai pembawa pesan moderasi beragama,” katanya disambut tepuk tangan dari ribuan penonton.
Lebih lanjut, Rhoma Irama menegaskan bahwa lagu-lagu yang berhasil diciptakan, dilakukan dengan observasi dengan waktu yang lumayan lama. Hal itu ia lakukan semata-mata dakwah yang dibawakan di dalam lagu tersebut tersampaikan dengan efektif.
“Makanya kami sempat diundang ke Amerika Serikat untuk mengisi International Conference on Islam and the Council of Indonesia and Malaysia. Di sana, Soneta diakui sebagai bukti bahwa musik efektif untuk berdakwah dan membangun karakter manusia,” ujara pencipta lagu ‘begadang’ ini.
Lagu-lagu dangdut Soneta yang sarat akan pesan moral, kata Rhoma Irama ternyata menginspirasi seorang dosen di Surabaya, Jawa Timur. Menurut dosen tersebut lirik lagu Rhoma Irama mampu membentuk karakter seseorang atau “The power of music can change a person's character,” ungkap Rhoma menirukan perkataan dosen di Surabaya.
Sementara soal moderasi beragama yang diperkuat oleh pemerintah, Rhoma Irama menilai, mampu memperkuat local wisdom dalam budaya sehingga membentuk karakter manusia menjadi lebih baik. Hal yang sama dengan musik, bila dibuat dengan nilai-nilai moderasi akan memiliki kekuatan besar untuk merusak atau membangun.
“Jadi kita mesti hati-hati ketika kita ingin menciptakan karya karena akan didengar oleh masyarakat,” tuturnya.