Siaga Hadapi Kemarau 2026, BMKG Imbau Petani Adaptif agar Tak Gagal Panen
Akhmad Baihaqi Arsyad
JAKARTA, (ERAKINI) - Badan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa musim kemarau 2026 berpotensi datang lebih cepat dan membawa risiko besar bagi sektor pangan.
Menurut Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, kondisi ini dipicu oleh berakhirnya fenomena La Niña pada Februari 2026 yang kini beralih ke fase netral. Namun, Indonesia perlu mewaspadai potensi kemunculan El Niño dengan peluang 50–60% pada paruh kedua tahun ini.
“BMKG menegaskan bahwa seluruh informasi prediksi ini merupakan bentuk peringatan dini (Early Warning) yang harus segera diterjemahkan menjadi aksi nyata (Early Action) oleh para pemangku kepentingan demi meminimalkan risiko bencana kekeringan di Indonesia,” katanya.
Oleh karena itu, para petani diminta segera melakukan langkah adaptif agar tidak terdampak kekeringan yang berkepanjangan. Petani disarankan untuk tidak lagi mengandalkan pola tanam lama. Penyesuaian jadwal tanam harus segera dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca terkini.
Selain itu, pemilihan varietas tanaman menjadi sangat penting, yakni yang lebih hemat penggunaan air, tahan terhadap kondisi kering dan memiliki masa panen lebih singkat Langkah ini diharapkan mampu menjaga produktivitas meskipun ketersediaan air menurun.
Selain itu, menurut BMKG, upaya di sektor pertanian harus dibarengi dengan perbaikan sistem pengelolaan air. menegaskan pentingnya revitalisasi waduk serta pembenahan jaringan distribusi air agar kebutuhan air tetap terpenuhi, baik untuk konsumsi masyarakat maupun sektor energi seperti PLTA.
















