Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) saat ditemui para wartawan usai acara pembukaan Konferensi Moderasi Beragama Asia-Afrika dan Amerika Latin (KMBAA-AL) di Gedung Merdeka, Bandung. (Foto: Akhmad Baihaqi Arsyad/Erakini)
BANDUNG, (ERAKINI) - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengajak para tokoh dunia untuk bersuara lantang agar secara signifikan dapat mengingatkan dunia tentang penting yang telah dicapai, yaitu Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Hal itu disampaikan Gus Yahya dalam acara Konferensi Moderasi Beragama Asia-Afrika dan Amerika Latin yang digelar oleh Balitbang Diklat Kementerian Agama RI bersama PBNU di Gedung Merdeka, Bandung, Rabu (20/12/2023).
"Piagam PBB menjadi dasar tatanan damai saat ini, dan konflik global harus dihadapi dengan konsistensi terhadap prinsip-prinsip Piagam PBB. Tanpa kembali pada prinsip-prinsip tersebut, kita menghadapi pertarungan tak berkesudahan, " katanya.
Gus Yahya mengungkapkan, konflik antarmanusia tidak boleh terjadi karena mengancam masa depan umat manusia. Perlu ada respons terhadap eskalasi konflik yang terjadi di dunia. Sebab, kata dia, jika terus dibiarkan akan berakibat kehancuran total dari peradaban manusia dan global.
Sekarang ini, lanjut dia, dunia bergerak masih ke arah pertarungan untuk merebut dominasi di antara kekuatan-kekuatan global yang besar. Maka sampai hari ini tragedi-tragedi kemanusiaan masih terus saja terjadi semakin parah hanya untuk menuruti kepentingan dari pemain-pemain global tertentu di dalam berebut dominasi itu.
"Kita tidak bisa menunggu momen. Kita harus terus menyuarakan perdamaian dunia. Dengan inspirasi dari Presiden Soekarno bersama rekan-rekannya pada tahun 1955, kita memiliki ide dan niat untuk menciptakan kembali sejarah tersebut. Bahkan berbuat lebih banyak dengan mewujudkan cita-cita Presiden Soekarno untuk mengadakan konferensi Asia, Afrika, dan Amerika Latin di masa depan,” sambung Gus Yahya.
Maka, menurutnya, ini adalah momentum yang sangat penting bagi seluruh dunia untuk melakukan sesuatu, dan Indonesia ini punya sejarah yang luar biasa.
"Ini, gedung ini (Gedung Merdeka, red) adalah gedung sederhana dengan sejarah raksasa. Kita punya legacy, kita punya warisan yang luar biasa. Jadi, saya kira ini tidak boleh kita sia-siakan. Mari kita bekerja untuk mengupayakan peran yang sungguh-sungguh bermakna bagi Indonesia dalam percaturan global ini dan melakukan konsolidasi internasional untuk menghentikan kekacauan-kekacauan yang memakan korban manusia, menghentikan tragedi-tragedi kemanusiaan yang terus menerus terjadi hanya untuk persaingan dominasi di antara kekuatan-kekuatan global, " katanya.
Lebih lanjut, Gus Yahya mengajak semua pihak untuk bekerja sama untuk masa depan peradaban manusia. “Mari kita bekerja sama demi masa depan umat manusia, demi anak cucu, dan demi masa depan peradaban manusia,” ujarnya menambahkan.
Saat ditemui wartawan dan disoal bagaimana PBNU bisa meyakinkan bahwa agama bisa menjadi solusi dari konflik kepada semua negara yang anggota di konferensi Asia Afrika, Gus Yahya menuturkan kembali pentingnya memahami makna moderasi beragama.
"Pertama-tama kita luruskan dulu apa makna moderasi beragama itu. Bahwa makna moderasi beragama itu adalah kesediaan agama-agama untuk ikut memegangp rinsip-prinsip piagam PBB, " jelasnya.
Menurut Gus Yahya, sebelum ada piagam PBB, agama memang saling tarung, saling bunuh satu sama lain. "Sekarang kalau mau selamat bareng-bareng mari kita kembali pada prinsip-prinsip piagam PBB itu, moderasi beragama. Dan kalau kita mau dengan kesepakatan itu maka selanjutnya tinggal agama mengoperasikan berbagai macam ajaran yang memang sangat dibutuhkan oleh umat manusia," tegasnya.
Hal itu, lanjut dia, dimaksudkan untuk menolong umat manusia dan itu me-universalisasi-kan supaya yang ditolong itu bukan sesama kelompok agama saja, tapi seluruh umat manusia. Sehingga, agama-agama bisa menjadi super solusi bagi masalah-masalah kemanusiaan.
Adapun Konferensi Moderasi Beragama yang digelar oleh Balitbang Diklat Kementerian Agama (Kemenag) RI yang bekerja sama dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini akan menjadi pijakan awal Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Afrika dan Amerika Latin yang akan digelar tahun 2024 mendatang.
"Konferensi ini (KMBAAA) merupakan awal dari peristiwa yang lebih besar lagi pada tahun 2024, yakni KTT Asia-Afrika dan Amerika Latin," kata Kepala Badan Penelitian, Pengembangan dan Pelatihan (Kabalitbang Diklat) Kementerian Agama RI Suyitno dalam sambutannya di Gedung Merdeka, Bandung, Rabu (20/12/2023).
Konferensi yang mengusung tema 'Agama dan Kemanusiaan' ini mempersiapkan Konferensi Asia Afrika Amerika Latin untuk menghidupkan kembali semangat Bandung dan Gerakan Non-blok dalam menanggapi dinamika geopolitik saat ini.
"Harapan kami adalah bersama dengan Indonesia, negara-negara ini dapat mengatasi tantangan kontemporer terhadap perdamaian dan keamanan internasional, " kata Suyitno di depan para delegasi konferensi tingkat internasional itu.
Konferensi tingkat internasional yang digelar di Gedung Merdeka, Bandung itu turut dihadiri oleh delegasi 18 negara yaitu, Kenya, Srilanka, India, Yaman, Sudan, Pakistan, Iran, Meksiko, Mesir, Libya, Kamboja, Mozambik, Irak, China, Uni Emirat Arab, Malaysia, Arab Saudi dan Yordania.