Presiden RI ke-5 sekaligus Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri (Foto: tangkapan layar youtube DPP PDIP)
JAKARTA, (ERAKINI) - Presiden RI ke-5 sekaligus Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menjadi pembina Upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di Kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (17/8/2026).
Dalam amanatnya, Megawati menyampaikan sejumlah pesan mengenai makna kemerdekaan, pentingnya memahami sejarah, hingga perjuangan Bung Karno dalam meletakkan dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.
Berikut lima poin penting yang disampaikan Megawati:
1. Berduka atas gempa bumi di Flores, NTT
Megawati mengawali amanatnya dengan menyampaikan duka cita atas korban gempa bumi yang terjadi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ibu ketua DPR RI Puan Maharani ini kemudian mengajak seluruh peserta upacara untuk mendoakan masyarakat yang terdampak bencana tersebut.
"Saya secara khusus tadi kita telah berdoa bagi warga Flores NTT dan berduka cita yang sedalam-dalamnya atas korban yang terjadi akibat gempa bumi yang sangat luar biasa," kata Megawati.
2. Kemerdekaan bukan sekadar perayaan
Megawati mengatakan, 81 tahun kemerdekaan Indonesia bukan sekadar hitungan usia. Menurut dia, perjalanan tersebut merupakan bagian dari sejarah panjang bangsa yang di dalamnya terdapat pengorbanan dan air mata para pejuang.
Karena itu, peringatan HUT Kemerdekaan RI tidak cukup hanya dilakukan dengan mengibarkan bendera dan meneriakkan kata "merdeka".
"Setiap tanggal 17 Agustus, kita tidak cukup hanya mengibarkan bendera dan memekikkan kata merdeka. Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri, apa arti kemerdekaan itu?" ujar Megawati.
Megawati pun mengajak masyarakat untuk kembali merenungkan tujuan kemerdekaan dan mempertanyakan apakah bangsa Indonesia bersedia kembali hidup dalam penjajahan.
3. Seruan "Merdeka" harus terus dihidupkan
Lebih jauh, Megawati turut menjelaskan alasan dirinya kerap meneriakkan kata "Merdeka" dalam berbagai kesempatan.
Menurut dia, seruan tersebut memiliki sejarah panjang. Ia mengaku pernah mendapatkan cerita dari para pejuang yang dahulu berkumpul di Istana Merdeka ketika ayahnya, Soekarno, masih menjadi presiden.
Para pejuang, kata Megawati, memiliki tekad untuk meraih kemerdekaan meski harus mempertaruhkan nyawa.
"Kalau tidak merdeka lebih baik mati," kata Megawati menirukan pesan para pejuang.
Oleh karena itu, ia mengingatkan agar makna seruan "Merdeka" tidak dilupakan oleh generasi saat ini. Megawati meminta masyarakat menyampaikan semangat tersebut kepada keluarga dan teman-teman agar kecintaan terhadap Indonesia terus terjaga.
4. Bangsa besar harus berani melihat sejarah
Megawati menekankan pentingnya bangsa Indonesia berani menatap sejarahnya sendiri.
Menurut dia, sejarah tidak hanya berisi kisah yang membanggakan, tetapi juga berbagai persoalan yang dapat menjadi bahan pembelajaran bagi generasi berikutnya.
"Bangsa yang besar adalah bangsa yang berani menatap sejarahnya sendiri. Bukan hanya sejarah yang indah, tetapi juga sejarah yang baik. Bukan hanya sejarah yang membanggakan, tetapi juga sejarah yang menyisakan pertanyaan," tuturnya.
Megawati menyebut bangsa yang tidak berani menghadapi sejarah akan terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu.
Megawati juga meminta sejarah perjuangan bangsa, termasuk perjalanan PDIP, dapat didokumentasikan dan diperlihatkan kepada masyarakat agar generasi mendatang memahami bahwa sejarah bukan sekadar cerita.
5. Mengenang perjuangan dan pemikiran Bung Karno
Dalam kesempatan itu, Megawati juga menyinggung sosok ayahnya, Presiden Soekarno atau Bung Karno. Bung Karno sebagai salah satu tokoh bangsa yang sepanjang hidupnya dicurahkan untuk memperjuangkan kemerdekaan dan masa depan Indonesia.
Menurut Megawati, Bung Karno tidak hanya dikenal sebagai proklamator kemerdekaan, tetapi juga turut meletakkan dasar filosofis serta arah perjuangan bangsa melalui Pancasila dan Trisakti.
"Bung Karno tidak pernah ragu. Bung Karno selalu yakin suatu saat nanti kemerdekaan itu akan kita punyai," ujar Megawati.
Ia kemudian mengingatkan kembali cita-cita Indonesia sebagai negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.
"Dan cita-cita Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, dialah Bung Karno kita," kata Megawati.