JAKARTA, (ERAKINI) - Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta kembali menambah daftar pasangan suami-istri dosen yang sama-sama menyandang jabatan akademik tertinggi sebagai guru besar. Capaian tersebut menyusul terbitnya Keputusan Menteri Agama (KMA) tentang Guru Besar yang diserahkan Menteri Agama pada 13 Juli 2026.
Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Jakarta, Prof Dr Ahmad Tholabi Kharlie, mengatakan tradisi lahirnya pasangan profesor di lingkungan kampus bukanlah fenomena baru. Menurut dia, hal itu mencerminkan kuatnya budaya akademik yang telah lama berkembang di .
"Alhamdulillah, ini bukan kali pertama pasangan suami-istri dosen UIN Jakarta berhasil meraih jabatan guru besar. Dalam sejarah UIN Jakarta, sudah ada beberapa pasangan profesor yang menjadi bagian dari tradisi akademik kampus ini," kata Tholabi dalam keterangannya, Rabu (22/4/2026).
Dia menyebut sejumlah pasangan profesor yang pernah mengabdi di UIN Jakarta, di antaranya almarhumah Prof Dr Hj Huzaemah Tahido Yanggo, M A bersama Prof Dr H Abdul Wahab Abdul Muhaimin, Lc, M.A. yang merupakan dosen Fakultas Syariah dan Hukum.
Selain itu, terdapat Prof Dr H Ahmad Thib Raya, M.A. dari Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan bersama Prof Dr Hj Musdah Mulia M.A. yang mengajar di Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta.
Pasangan lainnya ialah Prof. Nur Hidayah, S.Ag., S.E., M.A., M.A., Ph.D. dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis bersama Prof. Dr. Agus Salim, S.Ag., M.Si. yang merupakan dosen Fakultas Sains dan Teknologi.
Kini, daftar tersebut kembali bertambah setelah Prof. Dr. H. Suwendi, M.Ag. meraih jabatan guru besar dalam bidang Pemikiran Pendidikan Islam di Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta.
"Dengan terbitnya KMA Guru Besar yang diserahkan pekan lalu, pasangan suami-istri profesor di UIN Jakarta kembali bertambah. Prof. Suwendi kini menyusul istrinya, Prof. Dr Hj Mesraini, S.Ag., S.H., M.Ag., yang lebih dahulu dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Fiqh Munakahat pada tahun 2023," ujar Tholabi.
Saat ini, Prof. Mesraini juga menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta.
Tholabi menjelaskan, capaian Prof Suwendi diraih melalui proses akademik yang panjang. Suwendi diangkat sebagai dosen UIN Jakarta pada 2006 dan berhasil meraih jabatan Lektor Kepala lima tahun kemudian.
Pada periode 2012 hingga 2023, Suwendi mendapat amanah menduduki sejumlah jabatan struktural di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama. Selama menjabat, status jabatan fungsional dosennya dihentikan sementara sesuai ketentuan yang berlaku.
Setelah kembali bertugas di UIN Jakarta pada 2023, Suwendi mengaktifkan kembali jabatan fungsionalnya dan fokus menjalankan tridarma perguruan tinggi.
"Beliau sangat produktif dalam melakukan penelitian, menulis artikel pada jurnal internasional bereputasi, menerbitkan karya ilmiah, terlibat dalam berbagai forum akademik, serta memenuhi beban kerja dosen secara konsisten. Semua itu menjadi modal penting dalam memenuhi persyaratan untuk meraih jabatan guru besar," tutur Tholabi.
Menurut dia, keberhasilan pasangan suami-istri meraih gelar profesor tidak hanya menjadi kebanggaan keluarga, tetapi juga menjadi inspirasi bagi sivitas akademika UIN Jakarta.
"Sebagai pimpinan universitas, kami tentu sangat bangga. Capaian ini menunjukkan bahwa budaya akademik yang kuat dapat tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga akademisi. Ini menjadi teladan bahwa dedikasi, kerja keras, dan produktivitas ilmiah akan membuahkan hasil yang membanggakan," katanya.
Tholabi berharap bertambahnya jumlah guru besar di UIN Jakarta dapat memotivasi dosen, baik di kampus tersebut maupun di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), untuk meningkatkan kualitas penelitian, publikasi ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat.
"Semakin banyak guru besar yang lahir, semakin kuat pula kontribusi perguruan tinggi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan Islam, dan pembangunan bangsa. Karena itu, kami terus mendorong para dosen untuk meningkatkan produktivitas akademiknya dan mencapai jenjang karier tertinggi sebagai profesor," ujar Tholabi.