Pelatihan kelas Kepala Madrasah yang digelar Madrasah Reform atau Realizing Education's Promise-Madrasah Education Quality Reform (REP-MEQR) Kemenag, di Hotel Bela Ternate, Rabu (14/8/2024). Foto: Erakini/Thomas Pulungan
TERNATE, (ERAKINI) - Kepala madrasah merupakan motor penggerak dan penentu arah kebijakan sekolah yang akan sangat menentukan nasib peserta didik. Terlebih di daerah 3T (Terluar, Terdepan, dan Tertinggal) yang memiliki ragam kendala, kepala sekolah harus berani melakukan inovasi pembelajaran.
Untuk itu, atau Realizing Education's Promise-Madrasah Education Quality Reform (), Kementerian Agama (), menghadirkan pelatihan kepada para di Provinsi .
Pelatihan ini dikuti puluhan kepala madrasah. Dalam pelatihan tersebut, beragam kendala disampaikan para kepala madrasah. Mulai dari keterbatasan penguasaan materi pembelajaran guru dan tenaga pendidik, kurangnya sumber bahan ajar seperti buku, hingga fasilitas yang kurang memadai.
Fasilitator atau Instruktur Pelatihan dari Universitas Narotama Surabaya Anisa Yunita Sari mengatakan, banyak kepala madrasah yang masih keliru dalam memahami akar masalah dalama pembelajaran, sehingga persoalan tak kunjung tuntas. Misalnya, persoalan ada pada guru namun penyelesaiannya justeru menyasar peserta didik.
"Jadi, tema kita hari ini adalah inovasi dan kolaborasi. Dari sini diharapakan para kamad (kepala madrasah) faham inovasi dan kolaborasi itu seperti apa yang bisa dilakukan. Kedua, mereka memahami prinsip PDIA (Problem Driven Iterative Adaptation), dimana permasalahan-permasalahan yang ada soluasinya berdasarkan permasalahan itu sendiri," kata alumni S2 Pendidikan Dasar Universitas Negeri Surabaya itu.
Ia menilai permasalahan-permasalahan yang dihadapi guru madrasah dapat diselesaikan di tingkat kepala sekolah. Misalnya, terkait kurangnya penguasaan materi, saat ini sudah banyak tersedia wadah untuk meningkatkan kemampuan guru. Seperti melalui komunitas belajar internal yang terprogram, sehingga ada sharing masalah dan solusi antarguru.
Selain itu, tersedia juga komunitas belajar online untuk mengatasi masalah kesibukan guru yang bisa diakses kapan saja. Menurut dia, banyak kamad yang biasanya cuma membuat program-program tetapi tidak mengerti akar masalahnya, sehingga hasilnya tidak maksimal.
Melalui pelatihan ini, pihaknya mencoba membekali para kamad bagaimana mencari akar masalah dan solusinya. "Jadi di sini kita menggali akarnya dari permasalahan itu kenapa, lalu mereka tarik ulur ke belakanag, solusinya seperti apa, dan pihak-pihak mana saja yang bisa diajak koloborasi, terus inovasinya seperti, dan target waktu yang akan dicapai," bebernya.
Anisa melihat, tingkat pemahaman dan inovasi para kamad memang bervariasi. Ada yang sudah baik dan ada yang memang perlu digali lagi. Namun, setelah mengikuti pelatihan yang berlangsung sejak pagi, peserta mulai dapat memahami bagaimana cara menyelesaikan persoalan yang dimulai dari akarnya.
"Awalnya, masalahnya A yang dikupas B. Jadi di sini yang kami tekannkan adalah logika berpikir dalam menggali akar permasalahan dan solusinya," ucapnya.
Ia juga menekanan bahwa para kepala sekolah di daerah 3 T harus lebih percaya diri dan berani berinovasi. Jangan pasrah dengan keadaan dan kondisi. Sebab, rasa kurang percaya diri adalah penghambat untuk maju.
"Tidak percaya diri, ya sudah, tempatnya aja di desa, internet enggak ada, begini aja, jangan berpikir semacam itu. Dengan adanya keterbatasan seharusnya lebih awareness," ucapnya.
Kegiatan ini merupakan salah satu komponen dari program Madrasah Education Quality Reform, yakni Progam Komponen 3 (perluasan akses).
Asisten Program Komponen 3 Project Management Unit (PMU) REP-MQR Adib Zaenal Fanani, mengatakan, pelatihan Guru dan Kepala Madrasah Daerah 3 T di Provinsi Maluku Utara ini merupakan angkatan ke-6. Sebelumnya pelatihan serupa sudah dilaksanakan di Batam, Palembang, Pontianak, Kupang, dan Aceh.
Pelatihan angkatan ke-6 ini diikuti sebanyak 120 peserta yang difokuskan pada 3 kepulauan, yaitu Kepulauan Sula, Pulau Morotai, dan Pulau Taliabu. Dalam kegiatan ini terdapat 4 kelompok/kelas pelatihan, yakni MI Literasi, MTs Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), MA Bahasa Inggris, dan Kepala Madrasah. PMU REP-MQR menghadirkan 12 Fasilitator atau Instruktur selama kegiatan yang dilaksanakan sejak 13-17 Agustus 2024.