Gus Yahya Lesehan Bareng Kader di Peterongan, Tekankan Pentingnya Jati Diri NU
Abdul Rahman Ahdori






Suasana pertemuan berlangsung hangat dan penuh keakraban. Acara yang dipandu KH Amin Said Husni tersebut diawali dengan pembacaan tahlil yang dipimpin KH Luqman Harits Dimyathi Termas dan ditutup dengan doa oleh KH Ainul Yakin.
Di hadapan para kader, Gus Yahya mengaku kagum melihat keteguhan mereka dalam menjaga thariqah Nahdlatul Ulama.
“Saya terkagum-kagum dengan keteguhan panjenengan semua dari awal sampai akhir dalam memegang thariqah Nahdlatul Ulama sesuai dengan baiat kita: ‘bay’atukum alassam’i wa thā’ati bil jihādi ala thariqati nahdlatil ulama li i’la’i kalimatillah allatī hiyal ulyā’,” ujar Gus Yahya.
Pengasuh Pondok Pesantren Leteh, Rembang, yang juga merupakan santri KH Ali Maksum itu menilai, keteguhan kader NU tidak dapat dijelaskan semata-mata melalui kalkulasi politik maupun untung-rugi secara material.
“Kalau orang hanya menggunakan kalkulasi politik, untung rugi, saya kira tidak mungkin bertahan di posisi ini. Keteguhan ini lahir dari keyakinan yang dalam, bahwa dalam keadaan bagaimanapun, pertolongan Allah SWT senantiasa memandu langkah kita dan menjaga jam’iyah,” kata dia.
Gus Yahya kemudian menceritakan kembali perjalanan spiritual dan organisatoris yang dilaluinya sebelum dinamika di tubuh NU terjadi.
Menurut dia, jauh sebelum berbagai peristiwa tersebut berlangsung, sejumlah kiai dan ulama sepuh telah memberikan pesan agar dirinya tetap berpegang pada prinsip organisasi.
Gus Yahya mengenang saat dirinya sowan kepada Abuya Muhtadi pada Juli 2025. Dalam pertemuan tersebut, Abuya Muhtadi sempat melantunkan syair tentang Baitul Watwat sembari menyampaikan pesan agar organisasi dijalankan dengan tetap berpegang pada AD/ART.
“Saya sowan ke kiai-kiai yang lain, pesannya senada. Saat itu saya bertanya-tanya, ada apa tiba-tiba ada pesan seperti ini? Saya diingatkan tidak boleh bergeser, tidak boleh menyerah, tetapi pada saat yang sama tidak boleh melawan,” ujar Gus Yahya.
“Karena, kalau pada waktu itu juga, saya melawan, NU akan pecah. Maka jalan yang saya tempuh adalah mengajukan islah,” lanjutnya.
Gus Yahya mengatakan, Muktamar ke-35 NU di Jombang menjadi jalan keluar yang dinilai paling bermartabat dan transparan bagi seluruh warga NU.
“Seandainya tidak terjadi Muktamar di Jombang, saya tidak tahu apa jalan keluarnya. Kalau cuma mengandalkan siapa yang lebih mulia atau siapa yang benar dan salah, saya tidak mau berspekulasi. Maka satu-satunya jalan adalah Muktamar,” tegas Gus Yahya.
Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 NU, Gus Yahya juga mengutip kembali muqaddimah/nasyarah yang pernah disampaikan Hadratusysyaikh KH Hasyim Asy'ari sekitar 93 tahun lalu atau pada 1335 Hijriah.
Menurut Gus Yahya, pesan tersebut berbicara mengenai hakikat fitnah dan ujian yang dihadapi sebuah organisasi.
“Senada dengan yang diutarakan Hadratussyaikh, bahwa sesungguhnya sekian banyak fitnah, musibah, dan keadaan sempit yang dirasakan hari ini adalah cobaan untuk menguji hati para hamba. Dari situ akan tampak siapa yang benar-benar jujur dalam pengakuannya sebagai kader NU, dan siapa yang tidak,” ucapnya.
Gus Yahya mengatakan, dirinya melihat optimisme dan ketulusan dari para kader yang hadir dalam pertemuan tersebut.
Dia menegaskan, Muktamar tidak semata-mata menjadi arena pertarungan jumlah suara atau perebutan kekuasaan. Lebih dari itu, Muktamar dinilai sebagai momentum untuk menjaga kesejatian NU sebagai jam'iyah yang mardliyyah atau diridhai Allah SWT.
“Ini bukan soal pihak-memihak atau kalkulasi angka, tetapi bagaimana kita menjaga kesetiaan kepada NU. Muktamar ini adalah wahana yang Allah jadikan bukti untuk memperlihatkan kepada semua orang bahwa Allah senantiasa bersama jam’iyah NU. Saya yakin, tidak mungkin Allah membiarkan NU dalam kerusakan,” tutur Gus Yahya.

