BMKG: Hujan Kian Menyusut, 48,9% Wilayah Indonesia Memasuki Musim Kemarau
Akhmad Baihaqi Arsyad
JAKARTA, (ERAKINI) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa musim kemarau semakin mendominasi berbagai wilayah Indonesia. Berdasarkan pemantauan terbaru indikator iklim global, potensi hujan diperkirakan terus berkurang dalam beberapa waktu ke depan seiring bertahannya fenomena El Niño di Samudra Pasifik yang turut memengaruhi pola cuaca nasional.
Data terkini menunjukkan indeks Niño 3.4 berada pada angka +1,24, sementara Southern Oscillation Index (SOI) tercatat sebesar -23,3. Kondisi tersebut menjadi indikasi bahwa pengaruh El Niño masih cukup kuat dan berkontribusi terhadap menurunnya peluang hujan di sebagian besar wilayah Tanah Air.
Saat ini, sekitar 48,9 persen wilayah Indonesia atau setara dengan 342 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau. Kondisi kering juga terlihat dari hasil pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH), di mana terdapat 329 titik pengamatan atau sekitar 7 persen wilayah pengamatan yang mengalami kategori HTH sangat panjang, yakni antara 31 hingga 60 hari.
Tidak hanya itu, suhu udara maksimum pada awal Juli 2026 masih terpantau melampaui 35 derajat Celsius di sejumlah daerah. Wilayah yang mengalami suhu panas ekstrem antara lain Sumatra Utara, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jawa Tengah, Banten, serta Sulawesi Tengah.
Meski kemarau terus meluas dan peluang hujan cenderung menurun, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih berpotensi terjadi secara lokal di sejumlah daerah. Pada awal Juli 2026, curah hujan harian tertinggi tercatat di Sumatra Barat mencapai 156 milimeter per hari, disusul Sulawesi Utara 151 milimeter per hari, Sumatra Utara 90 milimeter per hari, Kalimantan Utara 84 milimeter per hari, serta Maluku Utara 57 milimeter per hari.


















