Search

Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf Kutuk Keras Serangan AS-Israel ke Iran

JAKARTA, (ERAKINI) - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf mengutuk keras serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang terjadi sejak Sabtu (27/2/2026).

“Serangan AS dan Israel atas Iran adalah tindakan brutal yang kembali merusak tatanan internasional bahkan berpotensi memicu konflik global yang tidak terkendali serta menciptakan alasan bangkitnya kembali radikalisme dan ekstremisme,” ujar pria yang akrab disapa Gus Yahya itu dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Gus Yahya menegaskan, tindakan tersebut dapat memperburuk stabilitas global dan mengancam perdamaian dunia. 

“Saya mengutuk keras,” tegasnya.

Dalam pernyataan yang sama, Gus Yahya juga menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya Ali Khamenei akibat serangan tersebut. 

Gus Yahya mengajak seluruh umat Islam dan komunitas internasional untuk mendoakan bangsa Iran agar diberi keteguhan dan kekuatan dalam menghadapi situasi sulit ini.

“Semoga Bangsa Iran tegar dan dikaruniai kekuatan untuk melawati kemelut ini dengan selamat,” ujarnya.

Meski demikian, Gus Yahya juga menyatakan penyesalannya atas tindakan Iran yang disebut melakukan serangan ke berbagai negara tanpa alasan yang dapat diterima. 

Menurut dia, langkah tersebut justru mendorong eskalasi konflik dan semakin menyulitkan upaya resolusi damai.

“Kita semua paham itu kemarahan dan menyasar titik-titik yang diduga menjadi tempat tentara Amerika, namun apa pun, serangan itu justru akan memperburuk situasi,” katanya.

PBNU, lanjut dia, menyerukan kepada masyarakat internasional untuk berkonsolidasi menegakkan kembali konsensus tatanan global dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai perwujudan strukturalnya. Menurutnya, PBB harus dapat menjalankan fungsi sebagai penjaga tatanan internasional secara efektif.

Selain itu, PBNU juga mendorong Pemerintah Indonesia mengambil peran aktif dalam mengupayakan deeskalasi konflik menuju resolusi damai yang beradab dan bermartabat.

“Kami juga mendorong Pemerintah Indonesia untuk mengambil peran aktif dalam mengupayakan deeskalasi konflik menuju resolusi damai yang beradab dan bermartabat. Ini amanat konstitusi kita,” ucapnya.

Gus Yahya berharap Pemerintah Indonesia memanfaatkan posisi dan perannya dalam forum internasional untuk mendesak Amerika Serikat, Israel, dan aktor-aktor lain yang terlibat agar menghentikan kekerasan serta menempuh jalur damai.