Anggota TNI mendatangi acara diskusi mahasiswa (Foto: Ist)
JAKARTA, (ERAKINI) - Sejumlah jurnalis Pers Mahasiswa UIN Walisongo Semarang, Jawa Tengah mengalami teror dan dintimidasi usai menulis berita tentang anggota TNI masuk ke kampus dalam sebuah diskusi mahasiswa bertajuk “Fasisme Mengancam Kampus: Bayang-Bayang Militer bagi Kebebasan Akademik” yang digelar Senin (14/4/2025) lalu.
Berikut kronologi yang disampaikan sejumlah jurnalis Pers Mahasiswa UIN Walisongo Semarang terkait kejadian teror dan intimidasi tersebut.
Pada Senin (14/4/2025), Kelompok Studi Mahasiswa Walisongo (KSMW) bersama Forum Teori dan Praksis Sosial (FTPS) di samping Auditorium 2 Kampus 3 UIN Walisongo, menggelar diskusi tentang “Fasisme Mengancam Kampus: Bayang-Bayang Militer bagi Kebebasan Akademik”. Namun, beberapa menit setelah dimulai, ada 2 anggota TNI datang menghampiri mereka.
Menurut keterangan Rektor KSMW, Ryan Wisnal, diskusi semula berjalan normal hingga seorang pria berkaus hitam, bercelana jeans, dan berperawakan agak gempal tiba-tiba memasuki area forum tanpa permisi.
"Kami saat itu masih dalam sesi memperkenalkan peserta yang hadir. Saat giliran dia untuk memperkenalkan diri, dia menolak," kata Riyan, dikutip erakini, Sabtu (26/4/2025).
Setelah acara itu dilaksanakan, pihak Pers Mahasiswa menulis berita soal kedatangan anggota TNI masuk ke acara mahasiswa. Berita itu pun viral, bahkan peristiwa tersebut turut diberitakan media atus utama.
Diteror dan diintimidasi
Setelah viral dan mendapatkan berbagai tanggapan dari berbagai pihak, tiba-tiba sejumlah pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang mendapatkan telepon dari anggota TNI pada Jumat (26/4/2025).
Dilansir dari Espos, Sabtu (26/4/2025), bentuk intimidasi yang dialami para jurnalis meliputi panggilan telepon berulang dari seseorang yang mengaku anggota TNI. Mereka diminta untuk menghapus pemberitaan dengan dalih melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).
Wati, mantan pengurus Persma Justisia, mengungkapkan bahwa ia kerap menerima panggilan WhatsApp dari nomor tak dikenal yang kemudian diketahui milik anggota TNI.
“Pada intinya, bapak [TNI] ini enggak terima karena foto dalam pemberitaan tidak diblur. Dia juga minta kontak ketua atau redaksi yang buat berita, tapi saya tidak memberikan informasi tersebut,” tuturnya.
Wati menambahkan, penelepon juga menyampaikan ancaman halus, menyebut salah satu peserta diskusi dalam keadaan mabuk, dan mengingatkan bahwa kasus ini bisa “panjang” jika tidak ditangani.
Setelah dilacak, penelepon diketahui adalah Sersan Satu (Sertu) Rokiman, anggota Babinsa Koramil Ngaliyan. Kasus serupa dialami oleh Alfarizy, jurnalis dari Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Amanat.
Ia menerima pesan yang memintanya untuk menurunkan berita karena dinilai memuat foto yang melanggar privasi. Namun, redaksi SKM Amanat menolak permintaan tersebut.
“Kami sebagai redaksi sepakat untuk tidak menghapus pemberitaan tersebut karena sudah sesuai dengan kaidah jurnalistik,” tuturnya.
Tanggapan kampus
Terkait ini, pihak kampus melalui Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan UIN Walisongo, Mukhsin Jamil, menyatakan bahwa pihaknya belum menerima laporan resmi terkait intimidasi tersebut.
“Saya belum mengetahui perkembangan lebih lanjut, namun UIN Walisongo akan melindungi segala aktivitas legal yang dilakukan oleh seluruh sivitas akademika,” ujarnya.
Sebelumnya, Kapendam IV/Diponegoro memberikan klarifikasi bahwa kehadiran Sertu Rokiman di sekitar kampus hanya dalam rangka menjalankan tugas monitoring wilayah.
“Babinsa hadir di sekitar kampus hanya untuk monitoring wilayah, karena sebelumnya beredar pamflet undangan diskusi yang bersifat terbuka untuk umum. Itu bagian dari tugas Babinsa dalam menjaga keamanan dan ketertiban wilayah binaannya,” jelasnya.