Akademi Militer (Akmil) hari ini genap berusia 68 tahun (1957–2025). Sekolah ini dikenal sebagai akademi pencetak para Jenderal TNI dan candradimuka calon pemimpin bangsa. Foto: Akmil
MAGELANG, (ERAKINI) – Akademi Militer (Akmil) hari ini genap berusia 68 tahun (1957-2025). Sekolah ini dikenal sebagai akademi pencetak para JenderalTNI AD dan candradimuka calon pemimpin bangsa.
Selama kiprahnya, Akmil telah melahirkan puluhan bintang 4 yang memimpin satuan TNI hingga kementerian/lembaga. Sejumlah Panglima TNI merupakan jebolan .
Mereka adalah Jenderal (Purn) TNI Edi Sudradjat (lulusan 1960), Jenderal (Purn) TNI Wiranto (lulusan 1968), Jenderal (Purn) TNI Endriartono Sutarto (lulusan 1971), dan Jenderal (Purn) TNI Djoko Santoso (lulusan 1975).
Kemudian, Jenderal (Purn) TNI Moeldoko (lulusan 1981), Jenderal (Purn) TNI Gatot Nurmantyo (lulusan 1982), Jenderal (Purn) TNI Andika Perkasa (lulusan 1987), serta Jenderal TNI Agus Subiyanto (lulusan 1991).
Jebolan terbaik Akmil tentu saja Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang lulus tahun 1973, dan Prabowo Subianto tahun 1974. Keduanya sukses meraih posisi panglima tertinggi TNI sekaligus Presiden Republik Indonesia.
Lantas seperti apa sejarahAkmil? Dikutip dari laman resmi Akmil, Selasa (11/11/2025), sekolah ini bermula dari didirikannya Militaire Academie (MA) Yogyakarta pada tanggal 31 Oktober 1945, atas perintah Kepala Staf Umum Tentara Keamanan Rakyat Letnan Jenderal TNI Oerip Soemohardjo.
Pada tahun 1950, MA Yogyakarta ditutup sementara setelah meluluskan dua angkatan, karena alasan teknis. Taruna angkatan ketiga menyelesaikan pendidikannya di KMA Breda, Belanda.
Pada kurun waktu yang sama, di berbagai tempat lain (Malang, Mojoagung, Salatiga, Tangerang, Palembang, Bukittinggi, Brastagi, Prapat) didirikan Sekolah Perwira Darurat untuk memenuhi kebutuhan TNI AD/ABRI pada waktu itu.
Pada 1 Januari 1951 di Bandung didirikan SPGi AD (Sekolah Perwira Genie Angkatan Darat), dan pada 23 September 1956 berubah menjadi ATEKAD (Akademi Teknik Angkatan Darat). Sementara itu, pada 13 Januari 1951 juga didirikan P3AD (Pusat Pendidikan Perwira Angkatan Darat) di Bandung.
Mengingat pada saat itu banyak sekolah perwira TNI AD, muncul gagasan dari pimpinan TNI AD untuk mendirikan satu akademi militer terpadu. Gagasan ini pertama kali disampaikan pada sidang parlemen oleh Menteri Pertahanan tahun 1952.
Setelah melalui berbagai proses, pada 11 November 1957 tepat pukul 11.00, Presiden RI Ir Soekarno selaku Panglima Tertinggi Angkatan Perang RI meresmikan pembukaan kembali Akademi Militer Nasional yang berkedudukan di Magelang. Akademi ini merupakan kelanjutan dari MA Yogyakarta, dan taruna angkatan tahun 1957 dinyatakan sebagai Taruna AMN angkatan ke-4.
Pada tahun 1961, Akademi Militer Nasional Magelang diintegrasikan dengan ATEKAD Bandung dengan nama Akademi Militer Nasional dan berkedudukan di Magelang.
Mengingat saat itu masing-masing angkatan (AD, AL, AU, dan Polri) memiliki akademi sendiri, maka pada 16 Desember 1965 seluruh akademi angkatan (AMN, AAL, AAU, dan AAK) diintegrasikan menjadi Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI).
Sesuai tuntutan tugas, pada 29 Januari 1967 AKABRI di Magelang diresmikan menjadi AKABRI Udarat, yang meliputi dua bagian di bawah satu pimpinan, yaitu AKABRI Bagian Umum dan AKABRI Bagian Darat.
AKABRI Bagian Umum mendidik taruna tingkat I selama satu tahun, termasuk Pendidikan Dasar Keprajuritan Chandradimuka, sedangkan AKABRI Bagian Darat mendidik taruna tingkat II hingga IV. Pada 29 September 1979, AKABRI Udarat berubah nama menjadi AKABRI Bagian Darat.
Dalam rangka reorganisasi di lingkungan ABRI, pada 14 Juni 1984 AKABRI Bagian Darat berubah nama menjadi Akademi Militer (Akmil).
Pada 1 April 1999, secara resmi Polri terpisah dari tiga angkatan lainnya, dan ABRI berubah menjadi TNI. Sejak itu pula Akademi Kepolisian terpisah dari AKABRI. Kemudian, AKABRI berubah nama menjadi Akademi TNI yang terdiri dari AKMIL, AAL, dan AAU.
Berdasarkan Peraturan Panglima (Perpang) Nomor: Perpang/28/V/2008 tertanggal 12 Mei 2008, Pendidikan Dasar Keprajuritan Chandradimuka dan Pendidikan Integratif Akademi TNI dengan pola 12 bulan berada langsung di bawah Mako Akademi TNI. Selanjutnya, AKMIL menyelenggarakan pendidikan khusus bagi Taruna Angkatan Darat tingkat II, III, dan IV.